Opini
Dzulhijjah, Bulan Pendidikan: Belajar dari Nabi Ibrahim Mendidik Anak dan Keluarga
Dzulhijjah pada dasarnya bukan sekadar bulan ritual, tetapi bulan yang menyimpan kurikulum pendidikan keluarga yang sangat kaya.
Di sini kita melihat bahwa pendidikan yang berhasil bukan pendidikan yang menghasilkan anak penurut semata, tetapi anak yang paham, sadar, dan rela menempuh kebenaran.
Psikologi pendidikan modern juga menekankan pentingnya keteladanan. Albert Bandura, dalam teori social learning, menjelaskan bahwa anak belajar banyak hal dengan cara mengamati model yang dekat dengannya.
Dalam konteks ini, Nabi Ibrahim tidak hanya menyuruh, tetapi memberi contoh. Ia sendiri taat, sabar, tawakal, dan konsisten. Ismail tumbuh menjadi anak saleh bukan karena nasihat semata, tetapi karena ia menyaksikan nilai itu hidup dalam diri ayahnya. Maka benar, pendidikan keluarga paling efektif bukanlah banyaknya kata-kata, melainkan kuatnya teladan.
Selain itu, kisah Ibrahim juga memperlihatkan pentingnya rasa aman dalam pendidikan anak. Nabi Ibrahim berdoa untuk keamanan negeri, kecukupan rezeki, dan keberlangsungan ibadah keluarganya (QS. Ibrahim [14]: 35-41). Dalam psikologi pendidikan, lingkungan aman sangat menentukan perkembangan emosi dan kepribadian anak. John Bowlby dalam teori attachment menegaskan bahwa anak memerlukan rasa aman, kedekatan emosional, dan stabilitas relasi agar tumbuh sehat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim, selain menanamkan iman, juga memikirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya iman itu.
Karena itu, Dzulhijjah semestinya tidak hanya dipahami sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum membenahi pendidikan keluarga. Orang tua perlu belajar dari Nabi Ibrahim bahwa mendidik anak memerlukan lima hal pokok: tauhid, ibadah, doa, dialog, dan keteladanan. Anak tidak cukup disuruh salat, tetapi harus melihat ayah-ibunya menjaga salat.
Anak tidak cukup dinasihati agar sabar, tetapi harus melihat bagaimana orang tua sabar menghadapi ujian. Anak tidak cukup diberi larangan, tetapi harus diajak memahami nilai di balik larangan itu.
Bagi masyarakat Aceh, pesan ini sangat relevan. Dzulhijjah jangan hanya ramai pada takbir dan pembagian daging kurban, tetapi juga harus hidup di dalam rumah-rumah sebagai bulan pendidikan. Orang tua dapat menjadikan kisah Nabi Ibrahim sebagai bahan didik keluarga: menceritakan sejarah Ka’bah kepada anak, mengajak mereka memahami makna pengorbanan, membiasakan doa bersama, melibatkan anak dalam ibadah sosial, dan menanamkan bahwa keluarga yang kuat bukan keluarga yang kaya, tetapi keluarga yang taat.
Pada akhirnya, Dzulhijjah mengajarkan bahwa keluarga besar dalam Islam tidak dibangun oleh kenyamanan semata, melainkan oleh pendidikan iman yang konsisten. Nabi Ibrahim tidak mewariskan istana, tetapi mewariskan tauhid. Ia tidak hanya membangun Ka’bah, tetapi juga membangun jiwa anak dan keluarganya. Di situlah makna terdalam Dzulhijjah sebagai bulan pendidikan: bulan yang mengajarkan kita bahwa rumah tangga yang benar-benar kokoh adalah rumah tangga yang dibimbing oleh iman, diperkuat oleh ibadah, dihangatkan oleh dialog, dan dijaga dengan keteladanan.
*) PENULIS adalah Dosen UNISAI Samalanga dan Guru Dayah Jeumala Amal Lueng Putu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Haekal-0406.jpg)