Senin, 8 Juni 2026

Opini

Sibak Agam

KATA Sibak kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu bermakna sebatang. Agam bermakna lelaki, apabila dipadankan keduanya Sibak Agam

Tayang:
Editor: mufti
IST
Prof Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA, Ketua Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry 

Prof Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA, Ketua Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

KATA Sibak kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu bermakna sebatang. Agam bermakna lelaki, apabila dipadankan keduanya Sibak Agam mengandung makna terminologinya: Sebatang Lelaki. Tentunya sulit sekali dapat dimengerti apa yang dimaksud dengan makna Sebatang Lelaki tersebut. Ia dipautkan kepada kemandirian seorang lelaki ibarat sebatang pohon yang tahan banting dari terpaan angin badai, siraman hujan lebat dan terpaan teriknya mata hari. Sibak Agam mengandung makna filosofis bahwa seorang lelaki menjadi tulang punggung yang bertanggung jawab penuh dalam keberlangsungan sebuah keluarga baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Seorang lelaki semestinya harus memiliki mental baja, memiliki pengetahuan yang memada dan fisik yang selalu sehat dalam upaya menuju kearah makna filosofis Sibak Agam tersebut. Maknanya, Sibak Agam itu harus dimiliki oleh seorang lelaki dalam mengarungi hidup di dunia dan persiapan menuju akhirat yang lempang jauh dari godaan dan noda-noda hitam. Seorang lelaki yang melekat filosofi Sibak Agam pada dirinya harus mampu hidup, mampu mempertahankan hidup, mampu mengisi kehidupan, mampu membantu makhluk hidup serta mampu melestarikan kehidupan makhluk yang menjadi tanggungannya, kalau itu tidak dimiliki maka gelar Sibak Agam tidak patut dan tidak akan dimilikinya.

Apabila kita padankan kepada fungsi batang kayu, sibak bak kayei (sebatang pohon kayu) yang hari-hari dapat memberikan manfaat kepada makhluk Allah lainnya dalam versi yang beragam, maka Sibak Agam (sebatang/seorang lelaki) juga harus bermanfaat dan dapat dimanfaatkan hasil karyanya oleh makhluk lain. Demikian filosofi yang terkandung dalam istilah Sibak Agam yang mesti ada dan berterusan adanya saling berganti antara seorang lelaki dengan lelaki lain dalam upaya melanjutkan fungsi khalifah Allah fil ardh dan meneruskan serta mensosialisasikan risalah Rasulullah SAW dalam kehidupan segenap insan.

Dalam kenyataan alam memang ibarat batang kayu yang sangat beragam; ada batang kayu yang dari akar sampai ke dahan, ranting, daun, bunga, putik, buah dan seluruh tubuh batangnya bermanfaat kepada makhluk Allah seperti pohon pisang, pohon kelapa, pohon bayam dan lainnya. Ada pula batang kayu yang sebahagian tubuh badannya saja dapat bermanfaat kepada makhluk Allah lainnya seperti pohon labu, pohon kayu kunyit/bak ara kunyet, pohon nilam dan sejenisnya. Sementara itu ada juga jenis pohon kayu yang sama sekali tidak bermanfaat kepada manusia seperti pohon liki/bak liki, pohon kumis kucing/bak pih mie, pohon benalu/bak simalu dan semacamnya.

Demikian juga dengan filosofi Sibak Agam yang dalam perjalanan kehidupan tidak semua lelaki itu memiliki kapasitas Sibak Agam sebagaimana yang dimaksudkan. Banyak lelaki yang dapat bermanfaat kepada seluruh anggota keluarga dan masyarakatnya, ada lelaki yang hanya dapat berfaedah kepada sebahagian ummat manusia saja serta ada pula lelaki yang tidak bermanfaat sama sekali kepada makhluk Allah di muka bumi ini.
Ketika kita coba tarik kesimpulannya, sebagaimana batang/pohon kayu yang beragam fungsi dan manfaatnya demikian juga dengan lelaki yang tidak semua lelaki dapat berfungsi sebagai Sibak Agam. Namun demikian Allah sebenarnya telah mempersiapkan lelaki itu semuanya menjadi Sibak Agam mengikut fitrah kelelakiannya, terkadang lelaki itu sendiri yang tidak berkapasitas untuk mengemban amanah Sibak Agam. Allah nyatakan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Ayat ini menerangkan kita bahwa Allah dari awal sudah mempersiapkan seorang lelaki menjadi seorang pemimpin untuk memimpin dan menguasai alam raya ini, lelaki itu Adalah Nabiyullah Adam AS., maka Adam itu benar-benar Sibak Agam yang dipersiapkan Tuhan kepada seluruh insan. Oleh karenanya sebagai seorang lelaki yang berfilosofi Sibak Agam, Nabi Adam AS tidak pernah menolak apalagi membantah dan melawan Allah SWT kecuali ketika Adam sebagai manusia mendapatkan godaan syaitan berbarengan dengan istrinya Hawa yang terlanjur memakan buah Khuldi dalam surga. Setelah itu sebagai seorang lelaki yang berfungsi Sibak Agam Nabi Adam tidak pernah tidak siap dalam hidup dan kehidupan, beliau menjalankan tugas kenabian dengan sempurna sehingga menghasilkan keturunannya sampai kepada kita.

Demikian juga dengan ketentuan Al-Qur’an surah An-Nisak ayat 34: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ayat ini lebih transparan lagi memberikan gelar Sibak Agam kepada kaum lelaki manakala Allah nyatakan lelaki sebagai kepala/pemimpin bagi Wanita dan keluarganya. Hal itu dibuktikan dengan pengakuan Allah sendiri bahwa Allah telah melebihkan kaum lelaki (dalam bidang kekuatan fisik, kekuatan berpikir, kekuatan tenaga, kekuatan finansial) dan sejenisnya. Sementara sikap Sibak Agam lainnya dalam ayat ini Allah nyatakan lelaki telah memberikan nafkah dari sebahagian hartanya kepada kaum wanita dan keluarga (dalam bentuk mahar, peuneuwoe, sandang, pangan, pakaian) dan segala kebutuhan istri serta keluarga. Lebih jauh lagi Allah telah memberikan power dan wewenang kepada lelaki untuk mengarahkan dan mengontrol istri dan anak-anaknya dalam keluarga asalkan tidak memukul mereka manakala merekan sudah taat dan patuh kepada suami atas dasar perintah Allah dan Rasul-Nya.

Manakala kita padukan antara konsep Sibak Agam yang ditawarkan bangsa Aceh dengan penugasan lelaki oleh Allah SWT sebagai penentu dan penanggung jawab dalam keluarga dan Masyarakat maka sahlah kalau setiap lelaki wajib mempersiapkan diri menjadi Sibak Agam, karena tidak seorang pun akan berpredikat Sibak Agam tanpa usaha dan persiapan. Persiapan awal tentunya dilakukan oleh orang tua sendiri di rumah, lalu disambung dan diperkuat oleh guru di sekolah. Keterpaduan persiapan orang tua di rumah dengan pemantapan oleh guru di sekolah insya Allah akan melahirkan lelaki-lelaki yang Sibak Agam sebagaimana harapan dalam Al-Qur’an. Bagi lelaki yang sudah dewasa masih punya peluang untuk memperoleh anugerah Sibak Agam dengan cara mengikuti dan menjalankan kriteria yang ada dalam konsep Sibak Agam tersebut.

Gelar Sibak Agam secara general memang pada umumnya dimiliki oleh setiap lelaki karena kelelakiannya tapi atribut kelelakiannya selaras dengan tawaran Al-Qur’an dan bangsa Aceh membuat tidak semua lelaki dapat berpredikat Sibak Agam. Secara fisik disebut Sibak Agam karena senjata lelaki itu satu batang saja seperti sebatang pohon yang berbeda dengan senjata perempuan yang sebiji saja seperti sebiji kacang.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved