Pojok Humam Hamid
Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela?
Dalam konteks Barsela, peran tersebut berpotensi dimainkan oleh Universitas Teuku Umar.
Ketika ekonomi modern mulai tumbuh di berbagai kawasan lain, sebagian besar Barsela masih menghadapi persoalan konektivitas dasar.
Setelah Indonesia merdeka, ketimpangan tersebut belum sepenuhnya teratasi.
Bahkan hingga beberapa dekade lalu, banyak wilayah di Barsela masih menghadapi hambatan transportasi yang serius. Jalan lintas pantai barat belum tersambung secara memadai.
Baca juga: Satpol PP dan WH Banda Aceh Sidak Tempat Gym hingga Pedagang di Bahu Jalan, Ini Temuannya
Banyak sungai besar yang harus diseberangi menggunakan rakit. Mobilitas masyarakat berlangsung lambat dan mahal. Dalam kondisi seperti itu, sulit mengharapkan munculnya investasi besar atau aktivitas ekonomi yang dinamis.
Padahal sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa konektivitas merupakan syarat dasar bagi pertumbuhan ekonomi. Wilayah yang terisolasi akan sulit menarik investasi, sulit mengembangkan industri, dan sulit menciptakan pasar yang efisien.
Akibatnya, pemanfaatan sumber daya alam cenderung bersifat ekstraktif. Sumber daya diambil dan dijual keluar tanpa menciptakan pusat pertumbuhan baru di daerah asalnya.
Perubahan mulai terjadi ketika pembangunan infrastruktur mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Pada masa kepemimpinan Ibrahim Hasan, pembangunan jalan dan jembatan mulai mengurangi berbagai hambatan transportasi yang selama puluhan tahun membatasi perkembangan Barsela.
Mobilitas barang dan manusia menjadi lebih mudah. Pada saat yang sama, perkebunan kelapa sawit mulai berkembang dan menciptakan fondasi ekonomi baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam skala besar.
Baca juga: Polisi Ungkap Peran Tersangka Pembakaran Fakultas Pertanian USK, Ada yang Diduga Lempar Molotov
Namun momentum paling besar datang setelah tsunami 2004. Tragedi yang membawa penderitaan luar biasa bagi Aceh itu secara paradoks juga mempercepat pembangunan infrastruktur yang selama bertahun-tahun tertunda.
Rekonstruksi pascatsunami mempercepat penyelesaian jalan lintas Barat-Selatan dan meningkatkan konektivitas kawasan secara signifikan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Barsela memiliki akses darat yang relatif setara dengan kawasan timur.
Perubahan ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan jalan.
Sesungguhnya yang sedang terjadi adalah perubahan struktur ekonomi kawasan. Konektivitas yang lebih baik membuka ruang bagi munculnya berbagai aktivitas ekonomi baru. Perkebunan kelapa sawit berkembang pesat.
Industri pengolahan awal sawit mulai tumbuh. Potensi pertambangan batu bara semakin menarik perhatian. Eksplorasi berbagai mineral strategis mulai dilakukan. Di sisi lain, sektor perikanan dan kelautan memperoleh peluang baru karena akses pasar yang semakin terbuka.
Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur telah mengurangi hambatan historis yang selama berabad-abad membatasi perkembangan Barsela.
Baca juga: VIDEO Media Iran Klaim Serangan Iran Capai 70 Persen di Pangkalan Militer AS
pojok humam hamid
Prof Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
opini serambi
Universitas Teuku Umar
Barsela
opini serambinews
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-2.jpg)