Pojok Humam Hamid
Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela?
Dalam konteks Barsela, peran tersebut berpotensi dimainkan oleh Universitas Teuku Umar.
Pilar pertama adalah sawit dan hilirisasi industri. Selama ini sebagian besar manfaat ekonomi sawit masih berasal dari produksi bahan mentah. Padahal nilai tambah terbesar justru berada pada sektor hilir.
Industri oleokimia, bioenergi, produk pangan, kosmetik, farmasi, dan berbagai produk turunan lainnya dapat menciptakan lapangan kerja yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar produksi tandan buah segar.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan. Di sinilah peran universitas menjadi krusial.
Baca juga: UIA Bireuen Gelar Program KPM Terpadu Internasional, Ini Ketentuannya
Pilar kedua adalah mineral strategis masa depan. Dunia saat ini sedang bergerak menuju ekonomi berbasis teknologi tinggi yang membutuhkan berbagai mineral kritis.
Batu bara, emas, tembaga, logam tanah jarang, dan berbagai sumber daya lainnya memiliki nilai strategis yang semakin meningkat. Namun pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa kekayaan mineral tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan.
Bahkan tidak sedikit daerah kaya sumber daya yang tetap tertinggal karena tidak mampu mengelola kekayaannya secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, penelitian mengenai eksplorasi, hilirisasi, reklamasi pascatambang, dan pengelolaan lingkungan harus menjadi agenda penting pembangunan kawasan.
Pilar ketiga adalah ekonomi kelautan Samudra Hindia. Selama ini orientasi ekonomi Aceh lebih banyak tertuju ke Selat Malaka. Padahal Samudra Hindia menyimpan peluang ekonomi yang sangat besar.
Perikanan tangkap modern, budidaya laut, industri pengolahan hasil laut, hingga pengembangan ekonomi biru dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Barsela. Potensi tersebut memerlukan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Baca juga: Masuk Lewat Jalur Laut Tanpa Pemeriksaan Imigrasi, Dua WNA Tiongkok Diamankan Imigrasi Sabang
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa transformasi wilayah sering kali berawal dari kemampuan universitas menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan ekonomi lokal.
Pantai Barat Amerika Serikat tidak menjadi pusat teknologi dunia hanya karena memiliki sumber daya alam. Kawasan tersebut berkembang karena universitas seperti Stanford dan Berkeley berhasil melahirkan ekosistem inovasi yang kemudian berkembang menjadi Silicon Valley.
Di Malaysia, transformasi ekonomi Penang tidak dapat dilepaskan dari kontribusi Universiti Sains Malaysia yang menjadi sumber tenaga ahli dan inovasi bagi industri elektronik dan manufaktur.
Sebaliknya, pengalaman Italia Selatan menunjukkan bahwa keberadaan universitas saja tidak cukup. Ketika lulusan terbaik bermigrasi ke wilayah yang lebih maju, pembangunan daerah menjadi terhambat.
Fenomena brain drain menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi wilayah-wilayah yang sedang berkembang.
Baca juga: Jelang Piala Dunia, MPU Banda Aceh: Sepak Bola Hiburan, Bukan Alasan Tinggalkan Shalat
Pelajaran dari berbagai negara tersebut memberikan pesan yang sangat jelas bagi Barsela. Universitas harus menjadi bagian dari solusi pembangunan wilayah. Kampus tidak boleh berdiri terpisah dari persoalan masyarakatnya. Penelitian harus menjawab kebutuhan daerah.
Kurikulum harus mempersiapkan tenaga kerja yang relevan. Inovasi harus berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal.
Di sinilah letak pertanyaan penting bagi masa depan Universitas Teuku Umar.
UTU dan Tantangan Masa Depan
Akankah UTU menjadi universitas yang sekadar menghasilkan lulusan setiap tahun? Ataukah UTU akan berkembang menjadi institusi yang memimpin transformasi ekonomi dan sosial Barsela?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada arah kepemimpinan kampus, kualitas sumber daya akademik, dan kemampuan membangun kolaborasi dengan pemerintah serta dunia usaha.
Baca juga: Masih Tahap Survei Potensi Tambang, 6 WNA China di Aceh Selatan Kantongi Izin Keimigrasian yang Sah
Dalam perspektif pembangunan modern, kemajuan wilayah sering lahir dari kolaborasi tiga unsur utama: pemerintah, industri, dan akademisi. Model yang dikenal sebagai triple helix ini telah menjadi fondasi keberhasilan banyak kawasan di dunia. Universitas berperan menghasilkan pengetahuan.
Industri mengubah pengetahuan menjadi aktivitas ekonomi. Pemerintah menciptakan kebijakan yang mendukung kolaborasi keduanya.
UTU memiliki peluang besar untuk menjadi titik temu ketiga unsur tersebut di Barsela. Kampus dapat menjadi pusat diskusi kebijakan pembangunan, pusat penelitian strategis, sekaligus laboratorium inovasi yang menjawab kebutuhan kawasan.
Karena itu, peran rektor UTU tidak dapat dipandang semata sebagai jabatan administratif akademik. Dalam konteks pembangunan wilayah, rektor sesungguhnya memiliki posisi sebagai pemimpin intelektual regional.
Baca juga: Kejari Nagan Raya Musnahkan Barang Bukti Kasus Narkotika
Ia menentukan arah pengembangan ilmu pengetahuan, menetapkan prioritas riset, membangun jejaring kemitraan, dan mengarahkan kampus agar berkontribusi terhadap masa depan daerah.
Jika jalan lintas Barat-Selatan merupakan simbol berakhirnya isolasi fisik Barsela, maka Universitas Teuku Umar berpotensi menjadi simbol berakhirnya isolasi pengetahuan kawasan ini.
Dan jika itu terjadi, maka sejarah mungkin akan mencatat bahwa transformasi terbesar Barsela pada abad ke-21 bukan hanya lahir dari pembangunan jalan, jembatan, atau investasi sumber daya alam, melainkan dari kemampuan sebuah universitas mengubah kekayaan alam menjadi pengetahuan, inovasi, dan kesejahteraan.
Pada akhirnya, ketimpangan antara Pantai Timur dan Pantai Barat Aceh tidak akan hilang dalam waktu singkat. Ketimpangan tersebut merupakan warisan sejarah yang terbentuk selama berabad-abad.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang pernah berada di pinggiran dapat bangkit ketika mereka berhasil membangun institusi yang kuat, melahirkan kepemimpinan yang visioner, dan mengubah sumber daya alam menjadi sumber daya manusia.
Baca juga: Hampir 20 Tahun tak Dikembalikan, CekMidi Terus Berjuang Selamatkan Manuskrip Warisan Ulama Aceh
Di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Barsela, Universitas Teuku Umar memiliki peluang historis untuk memainkan peran tersebut.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah peluang itu ada, melainkan apakah UTU mampu mengambil peran sebagai transformator yang mempercepat lahirnya babak baru pembangunan Pantai Barat Selatan Aceh.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
pojok humam hamid
Prof Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
opini serambi
Universitas Teuku Umar
Barsela
opini serambinews
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-2.jpg)