Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Mengapa Petani Aceh Tetap Miskin?

Aceh dikenal sebagai daerah agraris. Berbagai komoditas hortikultura, mulai dari cabai, tomat, bawang merah, hingga aneka...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
RINALDI - Rinaldi, Analis Kebijakan Ahli Pertama pada Lembaga Administrasi Negara. 

Persoalan tersebut semakin rumit karena distribusi hasil pertanian Aceh masih sangat bergantung pada jalur darat. Bagi komoditas hortikultura yang mudah rusak, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Jarak tempuh yang panjang, biaya transportasi yang tinggi, serta keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat rantai distribusi menjadi kurang efisien.

Di banyak sentra produksi, petani juga belum didukung oleh fasilitas penyimpanan yang memadai. Akibatnya, hasil panen harus segera dijual meskipun harga sedang rendah, sementara pilihan untuk menunda penjualan sering kali tidak tersedia.

Karena itu, tantangan pertanian Aceh saat ini tidak lagi semata-mata meningkatkan produksi, melainkan memastikan petani memiliki kepastian pasar dan memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari hasil panennya.

Aceh Tengah dan Bener Meriah dapat menjadi titik awal program hilirisasi. Kedua daerah ini memiliki basis produksi hortikultura yang besar dan relatif siap menjadi kawasan percontohan pengembangan offtaker hortikultura. Jika investasi pengolahan hasil pertanian, fasilitas penyimpanan, dan sistem distribusi yang lebih efisien berhasil dibangun di kawasan tersebut, pendekatan yang sama dapat diperluas ke Pidie, wilayah barat selatan, maupun daerah lain di Aceh yang memiliki potensi hortikultura besar.

Karena itu, Pemerintah Aceh perlu membangun ekosistem usaha yang mampu menyerap hasil panen petani secara berkelanjutan. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui penyusunan regulasi penguatan investasi pada perusahaan penyerap hasil panen (offtaker) dan industri pengolahan hortikultura, sekaligus memperbaiki sistem logistik melalui pengembangan jalur distribusi alternatif, fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), serta kemitraan dengan BUMD, perusahaan logistik, dan sektor swasta.

Sudah saatnya Aceh tidak hanya fokus pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga memastikan setiap hasil panen terserap pasar dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani. Sebab keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari melimpahnya hasil panen, melainkan dari sejauh mana hasil panen tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved