Kupi Beungoh
Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital
Sebentar lagi tahun ajaran dimulai. Menjelang tahun ajaran baru, masyarakat saat ini sering kali disuguhi berbagai pemberitaan mengenai dunia pendidi
Oleh: Sarkawi *)
Sebentar lagi tahun ajaran dimulai. Menjelang tahun ajaran baru, masyarakat saat ini sering kali disuguhi berbagai pemberitaan mengenai dunia pendidikan, termasuk dayah atau pondok pesantren.
Di antara berita-berita tersebut, tidak sedikit yang bernada negatif. Kemudian menjadi bahan perbincangan luas di tengah masyarakat.
Dalam era digital saat ini, sebuah informasi dapat menyebar dengan sangat cepat, bahkan sebelum masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai suatu peristiwa.
Dalam kajian komunikasi massa, dikenal Teori Jarum Hipodermik (Hypodermic Needle Theory) yang menjelaskan bahwa pesan yang disampaikan media dapat memengaruhi khalayak secara langsung dan kuat, layaknya suntikan yang masuk ke dalam tubuh.
Meskipun teori ini kemudian mengalami berbagai penyempurnaan, substansinya tetap relevan untuk menjelaskan bagaimana pemberitaan yang dilakukan secara berulang dapat membentuk persepsi publik terhadap suatu isu.
Ketika masyarakat terus-menerus disuguhi informasi bernada negatif mengenai suatu lembaga atau kelompok tertentu, maka tanpa disadari dapat muncul kecenderungan untuk menganggap informasi tersebut sebagai gambaran keseluruhan kenyataan, meskipun fakta yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan beragam.
Baca juga: Al-Washliyah Diminta Perkuat Dukungan bagi Dayah di Aceh
Akibatnya, muncul penilaian yang terkadang terlalu sederhana.
Ketika sebuah kasus terjadi pada satu lembaga pendidikan, sebagian orang kemudian menganggap bahwa seluruh dayah atau pondok pesantren memiliki persoalan yang sama.
Generalisasi semacam ini tentu perlu disikapi secara bijaksana, karena setiap lembaga pendidikan memiliki karakter, sistem pengelolaan, serta kualitas pembinaan yang berbeda-beda.
Di tengah derasnya arus informasi tersebut, para orang tua sesungguhnya sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Keharusan menentukan pilihan pendidikan terbaik bagi anaknya pada saat lingkungan sosial mengalami perubahan yang sangat cepat.
Perkembangan teknologi informasi, media sosial, pergaulan bebas, lunturnya penghormatan terhadap orang tua dan guru, serta berbagai pengaruh budaya luar telah menghadirkan tantangan baru yang jarang dihadapi generasi sebelumnya dalam skala sebesar sekarang.
Baca juga: Dayah Safinatussalamah Aceh Singkil Lepas 32 Santri, Setelah Kuasai Tiga Keilmuan
Pilihan orang tua hari ini bukan lagi sekadar memilih sekolah yang memiliki gedung megah atau fasilitas yang lengkap.
Lebih dari itu, orang tua harus mempertimbangkan lingkungan pendidikan yang mampu menjaga, membimbing, dan membentuk karakter anak dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
Dalam konteks inilah dayah atau pondok pesantren masih memiliki posisi penting.
Selama berabad-abad, lembaga pendidikan ini menjadi tempat pembinaan ilmu pengetahuan, akhlak, kedisiplinan, dan pembentukan karakter.
Banyak tokoh agama, pemimpin masyarakat, ulama, pendidik, bahkan pejabat publik yang lahir dari lingkungan pendidikan dayah.
Sejarah mencatat, kontribusi ulama dan santri dayah atau pondok pesantren menuju Kemerdekaan dan membentuk karakter bangsa tidak dapat dilupakan, walaupun harus diakui terjadi pergeseran dan perubahan di tengan tuntutan zaman, ini bukan berarti membenarkan semua kesalahan dilakukan lembaga pendidikan, namun jika dalam dunia pendidikan saja dianggap terjadi kegagalan, bagaimana mungkin karakter terbentuk ditengah arus transformasi digital yang tidak semua dapat disaring.
Baca juga: Kebangkitan Tradisi Menulis Teungku Dayah
Pendidikan merupakan bagian ikhtiar sebagai pembentukan karakter, namun tidak semata-mata kegagalan sebagian kecil lembaga pendidikan menjadi alasan penilaian secara menyeluruh terhadap seluruh lembaga pendidikan keagamaan.
Albert Bandura dalam teorinya menjelakan seseorang belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku yang ada di sekitarnya.
Dalam kehidupan dayah, santri setiap hari menyaksikan kegiatan, melaksanakan ibadah berjamaah, menjaga disiplin waktu, serta berinteraksi dalam budaya yang mengedepankan akhlak dan adab.
Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara berulang ini lambat laun menjadi bagian dari dirinya.
Pandangan ini juga sejalan dengan konsep habitus dari Pierre Bourdieu yang menjelaskan bahwa lingkungan dan praktik yang terus-menerus dilakukan akan membentuk pola pikir, sikap, dan karakter seseorang.
Kajian dan tulisan mengenai pentingnya lingkungan dalam membentuk karakter telah banyak dihasilkan oleh para akademisi, pemerhati pendidikan, psikolog, dan tokoh pesantren.
Hampir seluruhnya sampai pada satu kesimpulan yang sama, yaitu bahwa manusia tidak dibentuk oleh nasihat semata, tetapi oleh kebiasaan yang dijalani setiap hari.
Namun demikian, tidak berarti dayah adalah lembaga yang sempurna dan bebas dari kekurangan. Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, dayah juga menghadapi berbagai tantangan.
Ada keterbatasan sarana, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan pembiayaan, hingga berbagai persoalan yang muncul seiring perkembangan zaman.
Mengakui adanya kekurangan bukan berarti merendahkan dayah, melainkan bagian dari upaya untuk terus melakukan perbaikan.
Justru karena dayah adalah lembaga yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat, maka kritik dan evaluasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Kritik yang sehat bertujuan memperbaiki, bukan menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap seluruh lembaga pendidikan Islam, sumbangan pemikiran dan nasihat dari semua pihak dengan motivasi memperbaiki merupakan bagian dari amal Ibadah.
Karena Islam mengajarkan sesungguhnya semua perbuatan tergantung kepada niat.
Salah satu hal yang sering menjadi sorotan adalah kehidupan santri yang dianggap penuh keterbatasan.
Sebagian orang memandang aturan yang ketat, jadwal yang padat, fasilitas yang sederhana, serta pembatasan penggunaan teknologi sebagai bentuk tekanan terhadap peserta didik.
Padahal, dari sudut pandang pendidikan karakter, berbagai keterbatasan tersebut justru memiliki nilai pembelajaran yang penting.
Kehidupan tidak selalu menyediakan kenyamanan. Dunia kerja, kehidupan sosial, bahkan kehidupan berumah tangga kelak akan menghadapkan seseorang pada berbagai keterbatasan dan tantangan.
Oleh karena itu, pendidikan yang hanya membiasakan anak hidup dalam kenyamanan berlebihan berisiko melahirkan generasi yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Di dayah, santri belajar hidup bersama dari latar belakang berbeda. belajar mengatur waktu, menaati aturan, menghormati guru, berbagi dengan teman, serta menyelesaikan berbagai persoalan tanpa selalu bergantung kepada orang tua, dan juga tidak semua harus dicampuri orang tua.
Pengalaman seperti ini merupakan bagian penting dari proses pendewasaan yang sering kali tidak dapat diperoleh secara maksimal dalam lingkungan yang terlalu permisif.
Kehidupan Rasulullah yang serba sederhana dan penuh dengan tantangan sejak kecil menjadi sejarah penting untuk direnungkan dan dihayati, tantangan yang beliau hadapi merupakan awal pembentukan mental menjadi pribadi yang siap menghadapi segala kemungkinan, karena sebuah kebahagiaan dan kesuksesan akan terasa lebih berarti jika telah lolos melalui berbagai cobaan dan tantangan.
Tentu saja, keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya ditentukan oleh dayah. Peran keluarga tetap menjadi faktor utama.
Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sebaik apa pun lembaga pendidikan yang dipilih, hasilnya tidak akan optimal apabila tidak didukung oleh pembinaan yang baik di lingkungan keluarga.
Sebaliknya, lembaga pendidikan yang sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar apabila terjadi sinergi antara guru, pengelola lembaga, dan orang tua.
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, semua orang tua mengharapkan kesuksesan bagi anak-anaknya akan tetapi hendaknya jangan terlena dengan keberhasilan pendidikan hanya dari aspek akademik semata.
Bangsa ini tentu mengharapkan generasi yang memiliki integritas, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta keteguhan moral dalam menghadapi berbagai tantangan disetiap perubahan zaman.
Pada akhirnya, pilihan pendidikan merupakan hak dan tanggung jawab setiap orang tua. Tidak semua anak harus masuk dayah, sebagaimana tidak semua anak harus menempuh jalur pendidikan tertentu.
Akan tetapi, keputusan tersebut hendaknya didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan karena terpengaruh oleh persepsi negatif yang belum tentu mencerminkan kenyataan secara keseluruhan.
Di tengah derasnya perubahan sosial dan tantangan moral yang semakin kompleks, masyarakat membutuhkan sikap yang lebih adil dalam menilai lembaga pendidikan.
Dayah memang tidak sempurna, tetapi kontribusinya dalam membentuk karakter dan menjaga nilai-nilai moral generasi muda tetap tidak dapat diabaikan.
Yang dibutuhkan hari ini bukanlah saling menyalahkan, jika kita sibuk terus mencari kesalahan, maka kita akan lalai membangun kebersamaan dan kekompakan, bila kita lalai dalam mencari kelemahan orang lain, maka kita lupa akan kekurangan kita, karena itu, perlu komitmen bersama untuk memperkuat seluruh lembaga pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, masa depan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan yang dimiliki, tetapi juga oleh karakter yang berhasil ditanamkan. (*)
PENULIS: Akademisi STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sarkawi-12062026.jpg)