Minggu, 14 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Zaini Abdullah: Seorang Dokter yang Menyeberangi Sejarah

Selamat jalan, Abu Doto. Engkau telah menyeberangi konflik, menyeberangi pengasingan, menyeberangi perdamaian, dan menyeberangi sejarah.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Prof Humam Hamid saat membesuk mantan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah yang sedang dirawat di Ruma Sakit Zainal Abidin 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Pada Sabtu, 13 Juni 2026, pukul 12.42 WIB, Aceh kehilangan salah satu tokoh yang paling menandai perjalanan sejarahnya dalam setengah abad terakhir. 

Dr. H. Zaini Abdullah berpulang pada usia 86 tahun, meninggalkan sebuah jejak yang tidak mudah diringkas hanya dengan menyebut jabatan terakhir yang pernah diembannya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Baca juga: Breaking News - Mantan Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Meninggal Dunia di RSUDZA

Meninggalnya seorang mantan gubernur selalu mengundang kenangan. Tetapi kepergian Zaini Abdullah menghadirkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar kenangan tentang pemerintahan. 

Bersamanya, seakan berakhir pula sebuah generasi yang mengalami secara langsung pergulatan Aceh dari masa konflik menuju masa perdamaian.

Ia bukan tokoh yang lahir dari ruang politik yang tenang. Ia bukan pula produk dari birokrasi yang bertumbuh secara biasa. 

Kehidupan Zaini Abdullah dibentuk oleh arus besar sejarah yang membawa Aceh melalui masa-masa paling sulit dalam perjalanan modernnya.

Pada mulanya ia adalah seorang dokter. Sebuah profesi yang didedikasikan untuk merawat kehidupan, mengurangi penderitaan, dan memulihkan harapan. 

Baca juga: VIDEO - Kabar Duka dari Aceh, Mantan Gubernur Dr. Zaini Abdullah Tutup Usia

Namun sejarah memiliki caranya sendiri untuk memanggil manusia keluar dari jalan yang semula mereka pilih.

Seperti banyak tokoh lain dalam sejarah dunia, Zaini Abdullah akhirnya memasuki gelanggang politik yang jauh lebih keras dan lebih rumit daripada dunia kedokteran.

Dalam perjalanan itu, ia menjadi bagian dari Gerakan Aceh Merdeka dan kemudian dikenal sebagai salah satu figur penting dalam diplomasi gerakan tersebut di luar negeri. 

Bertahun-tahun hidup dalam pengasingan membuatnya mengenal dua kenyataan sekaligus: kerinduan kepada tanah air dan kesadaran bahwa konflik yang berkepanjangan selalu menuntut harga yang mahal.

Pejuang, Pemberontak, Gubernur

Banyak orang mengenangnya dari posisi yang berbeda-beda. Ada yang melihatnya sebagai pejuang. Ada yang mengingatnya sebagai tokoh pemberontakan. 

Ada pula yang mengenalnya terutama sebagai gubernur. Semua penilaian itu adalah bagian dari sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya.

Baca juga: Besok, Jokowi ke Rumoh Geudong, Ini Permintaan Zaini Abdullah soal Penyelesaian Pelanggaran HAM Aceh

Namun ketika seseorang meninggal dunia, yang layak direnungkan bukan hanya posisi-posisi yang pernah diambilnya dalam sejarah, melainkan arah perjalanan hidupnya secara keseluruhan.

Dan arah perjalanan hidup Zaini Abdullah adalah perjalanan menuju transformasi.

Tidak sedikit manusia yang mampu berjuang. Tidak sedikit pula yang mampu bertahan dalam keyakinan mereka selama puluhan tahun.

Tetapi jauh lebih sedikit mereka yang mampu mengenali kapan sebuah perjuangan harus menemukan bentuk baru agar tujuan yang lebih besar dapat dicapai.

Ketika kesempatan perdamaian hadir bagi Aceh, Zaini Abdullah menjadi bagian dari generasi yang memilih menapaki jalan itu.

Keputusan tersebut mungkin tampak sederhana bila dilihat dari kejauhan. Namun sejarah mengajarkan bahwa transisi dari konflik menuju perdamaian sering kali merupakan langkah yang paling sulit.

Baca juga: PAN Aceh Siap Rebut Kembali Masa Kejayaan, Dek Gam: “Abeh Ube Abeh”

Perdamaian menuntut keberanian yang berbeda.

Ia menuntut kesediaan untuk berbicara dengan lawan, menerima kompromi, dan mengakui bahwa masa depan tidak dapat dibangun hanya dengan kemenangan satu pihak atas pihak lain.

Dalam hal inilah perjalanan hidup Zaini Abdullah memiliki gema yang dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia.

Di Irlandia Utara, Gerry Adams dan Martin McGuinness menjadi bagian dari generasi yang membantu membawa republikisme Irlandia keluar dari logika konfrontasi menuju logika politik demokratis.

Baca juga: VIDEO Menko Zulhas Pastikan Stok Pupuk Subsidi untuk Petani di Aceh Aman

Mereka memahami bahwa cita-cita yang diperjuangkan tidak akan menemukan masa depannya jika masyarakat terus hidup dalam lingkaran kekerasan yang tak berkesudahan.

Di Uruguay, José Mujica menempuh jalan yang berbeda tetapi memiliki makna yang serupa.

Dari seorang gerilyawan yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara, ia kemudian muncul sebagai presiden yang dihormati karena kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kemampuannya melihat politik sebagai sarana rekonsiliasi.

Zaini Abdullah tidak sama dengan mereka. Setiap bangsa memiliki sejarahnya sendiri, dan setiap tokoh dibentuk oleh konteks yang berbeda.

Baca juga: Dua Siswa SMA Inshafuddin Lolos ke Universitas Al Azhar Kairo

Namun seperti Adams, McGuinness, dan Mujica, ia memperlihatkan sebuah kemungkinan yang langka dalam kehidupan politik: bahwa manusia dapat berkembang melampaui babak awal kehidupannya tanpa harus mengingkari pengalaman yang membentuk dirinya.

Aceh menemukan kemungkinan itu dalam diri seorang dokter yang pernah hidup di pengasingan, lalu kembali untuk ikut membangun masa depan daerahnya melalui jalan demokrasi.

Nama dalam Kisah Besar

Pemilihannya sebagai gubernur pada tahun 2012 memiliki makna yang melampaui kemenangan elektoral biasa.

Bagi banyak orang Aceh, peristiwa itu merupakan simbol keberhasilan sebuah proses sejarah yang panjang dan penuh pengorbanan.

Seorang tokoh yang dahulu berada di luar struktur negara memperoleh mandat melalui pilihan rakyat. Sebuah konflik yang dahulu diselesaikan dengan senjata kini diterjemahkan ke dalam bahasa pemilu, parlemen, dan pemerintahan.

Baca juga: Usung Semangat “Abeh Ube Abeh”, Dek Gam Siap Rebut Kembali Kejayaan PAN Aceh

Tidak berarti semua persoalan selesai. Tidak berarti semua harapan terpenuhi. Sejarah tidak pernah bergerak sesederhana itu.

Tetapi transisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengubah arah hidupnya.

Di titik itu, nama Zaini Abdullah menjadi bagian dari kisah yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ia menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan dua zaman.

Baca juga: VIDEO - ASDP Pastikan Korban Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2 Jadi Prioritas Utama

Ia pernah hidup dalam masa ketika suara ledakan lebih sering terdengar daripada suara kampanye. Ia menyaksikan masa ketika perbedaan politik memisahkan keluarga, kampung, dan komunitas.

Tetapi ia juga hidup cukup lama untuk melihat rakyat Aceh memilih pemimpinnya melalui kotak suara, bukan melalui medan pertempuran.

Tidak banyak tokoh yang diberi kesempatan untuk menyaksikan perubahan sejarah sedemikian besar dalam satu rentang kehidupan.

Karena itu, ketika kita mengenang Zaini Abdullah hari ini, sesungguhnya kita sedang mengenang sebuah generasi.

Generasi yang mengenal pahitnya konflik, kerasnya pengasingan, rapuhnya perundingan, dan berharganya perdamaian.

Baca juga: Dirjen Bina Adwil Kemendagri Raih Anugerah Garda Kemanusiaan dari JMSI Aceh

Dalam perjalanan itu terdapat pula pelajaran tentang kerendahan hati sejarah.

Tidak ada manusia yang sepenuhnya dapat diringkas dalam satu label. Tokoh-tokoh besar sering kali hidup dalam wilayah abu-abu yang membuat mereka diperdebatkan oleh zamannya.

Mereka dipuji oleh sebagian orang dan dikritik oleh sebagian yang lain. Tetapi waktu biasanya memiliki cara yang lebih tenang untuk menilai mereka.

Waktu tidak hanya bertanya di pihak mana seseorang berdiri. Waktu juga bertanya apakah kehidupannya membantu membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi masyarakatnya.

Baca juga: Api Memenuhi Seluruh Ruangan, Kesaksian Taruna Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2

Pertanyaan itulah yang mungkin layak diajukan ketika kita mengenang Zaini Abdullah.

Apakah ia sempurna? Tentu tidak. Tidak ada tokoh sejarah yang demikian.

Apakah semua orang akan sepakat dalam menilai warisannya? Mungkin tidak.

Akhir Perjalanan Abu Doto

Namun sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa ia menjadi bagian dari proses yang memungkinkan Aceh bergerak dari konflik menuju kehidupan politik yang lebih damai.

Dalam konteks itu, warisan terbesarnya mungkin bukan sebuah gedung, bukan sebuah program pemerintahan, dan bukan pula sebuah jabatan.

Baca juga: Sebelumnya Ambruk Diterjang Banjir, TNI Bangun Balai Pengajian Anak Yatim

Warisan terbesarnya adalah kesaksian bahwa perubahan itu mungkin.

Bahwa seseorang dapat menjalani perjalanan hidup yang panjang dan berliku tanpa kehilangan kemampuannya untuk beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Bahwa sebuah masyarakat dapat menyimpan ingatan tentang masa lalu tanpa menjadikannya penjara bagi masa depan.

Bahwa perdamaian, betapapun rapuhnya, selalu lebih berharga daripada perang yang berkepanjangan.

Hari ini, Abu Doto telah menyelesaikan perjalanannya.

Baca juga: Trump Klaim Gembong Kartel Paling Dicari Tewas dalam Serangan Mematikan AS

Ia meninggalkan keluarga yang mencintainya, sahabat-sahabat seperjuangan yang mengenangnya, dan rakyat Aceh yang akan terus menafsirkan arti kehadirannya dalam sejarah daerah ini.

Aceh akan terus berubah. Generasi yang lahir setelah perdamaian mungkin tidak lagi mengalami langsung masa-masa yang membentuk kehidupan Zaini Abdullah.

Tetapi justru karena itulah kisahnya penting untuk diingat. Sebab kedamaian yang dinikmati hari ini bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya.

Ia lahir dari pilihan-pilihan sulit yang diambil oleh banyak orang dalam masa yang tidak mudah.

Ketika matahari terbenam pada hari wafatnya, Aceh tidak hanya kehilangan seorang mantan gubernur. Aceh kehilangan seorang saksi zaman.

Baca juga: SELEBRASI LOKAL - Momen Piala Dunia 2026, Wali Kota Respati Siap Bangkitkan Industri Sepak Bola Solo

Dan sebagaimana semua saksi zaman, ia kini meninggalkan panggung sejarah kepada generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebajikannya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di antara hamba-hamba yang memperoleh rahmat-Nya.

Selamat jalan, Abu Doto.

Engkau telah menyeberangi konflik, menyeberangi pengasingan, menyeberangi perdamaian, dan menyeberangi sejarah.

Kini engkau menyeberangi keabadian.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved