Opini
Alone Together: Mati Rasa Moral di Ruang Digital
DI banyak warung kopi di Aceh hari ini, kita menyaksikan sebuah pemandangan yang tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan
Dalam konteks ini, keluarga memiliki peran penting. Orang tua perlu membangun kembali budaya dialog di rumah. Meja makan tidak boleh dikuasai telepon genggam. Anak-anak perlu diajarkan pentingnya mendengar, menyapa, dan menghargai kehadiran orang lain. Pendidikan akhlak di era digital harus menanamkan empati sebagai fondasi utama kehidupan sosial.
Lembaga pendidikan juga perlu memberi perhatian serius terhadap persoalan ini. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan sosial dan spiritual. Mahasiswa harus dilatih untuk aktif berdiskusi, bekerja sama, dan membangun sensitivitas sosial di tengah arus individualisme digital.
Demikian pula para ulama dan tokoh agama perlu menghadirkan dakwah yang relevan dengan tantangan zaman digital. Mimbar-mimbar keagamaan harus mengingatkan masyarakat bahwa menjaga adab di media sosial adalah bagian dari akhlak Islam. Menjaga lisan hari ini bukan hanya soal ucapan langsung, tetapi juga soal komentar, unggahan, dan interaksi digital.
Teknologi pada dasarnya tidak salah. Media sosial juga bukan musuh. Yang menjadi masalah adalah ketika manusia kehilangan kendali moral dalam menggunakannya. Kita boleh modern, tapi jangan kehilangan empati. Kita boleh aktif di dunia digital, tetapi jangan mati rasa terhadap manusia di sekitar kita.
Warung kopi di Aceh seharusnya tetap menjadi ruang hidup yang menghadirkan kehangatan sosial, bukan sekadar tempat berkumpul tanpa percakapan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang terlalu sibuk terhubung dengan dunia maya, tetapi gagal membangun hubungan nyata dengan sesama manusia.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan hanya seberapa cepat internetnya, tetapi seberapa kuat rasa kemanusiaannya. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan koneksi digital, tetapi juga sentuhan empati, sapaan hangat, dan kehadiran sosial yang tulus. Jika semua itu hilang, maka kita mungkin sedang hidup bersama, tetapi sesungguhnya berjalan sendiri-sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Abdul-Wahid-Arsyad-MAg.jpg)