Opini

Memahami Opini Publik di Era Digital

PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, mengakses informasi, dan membentuk opini.

Editor: mufti
IST
Nara Pristiwa SE MBA, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Aceh dan Ketua Program Studi Bisnis Digital FE Unmuha 

Nara Pristiwa SE MBA, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Aceh dan Ketua Program Studi Bisnis Digital FE Unmuha

PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, mengakses informasi, dan membentuk opini. Di Indonesia, transformasi ini berlangsung dengan sangat cepat dan masif. Hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua, telah terhubung dengan dunia digital. Berdasarkan data terbaru, lebih dari 221 juta penduduk Indonesia atau sekitar 79,5 persen dari total populasi telah terhubung dengan internet.

Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki basis pengguna media sosial yang sangat besar. Pada awal tahun 2024, tercatat 100,9 juta pengguna aktif Instagram, sementara TikTok mencatat 108 juta pengguna berusia 18 tahun ke atas pada awal 2025. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar digital yang sangat potensial, terutama setelah lonjakan penggunaan internet pasca pandemi COVID-19.

Internet kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ia berperan penting dalam berbagai aspek, mulai dari pendidikan, bisnis, hiburan, hingga komunikasi sosial. Namun, di balik kemudahan dan kecepatan akses informasi, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi, terutama dalam memahami opini publik yang terbentuk di ruang digital.

Opini publik, yang secara umum dapat diartikan sebagai pandangan, sikap, atau persepsi yang dimiliki oleh sekelompok orang terhadap suatu isu, kebijakan, tokoh, atau peristiwa, kini berkembang dengan cara yang jauh lebih dinamis dibandingkan era sebelumnya. Di era digital, opini publik tidak lagi terbentuk secara perlahan melalui diskusi tatap muka atau media konvensional, melainkan menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform digital seperti media sosial, forum daring, dan situs berita.

Salah satu karakteristik utama opini publik digital adalah kecepatannya dalam menyebar. Informasi dan opini dapat menjadi viral dalam hitungan menit, terutama melalui platform seperti Twitter, Instagram, dan TikTok. Kecepatan ini memungkinkan masyarakat untuk segera mengetahui dan merespons berbagai isu yang sedang berkembang.

Selain itu, opini publik digital juga memberikan umpan balik secara real-time. Komentar, likes, shares, dan trending topic menjadi indikator langsung dari respons publik terhadap suatu isu. Namun, kebebasan berpendapat yang ditawarkan oleh dunia digital juga membawa risiko tersendiri. Anonimitas yang diberikan oleh platform digital sering kali mendorong munculnya opini ekstrem, hoaks, dan ujaran kebencian. Di sisi lain, opini publik digital juga semakin berbasis data. Dengan bantuan teknologi seperti analisis sentimen dan kecerdasan buatan, opini publik kini dapat dipetakan dan dianalisis secara lebih akurat.

Peran medsos

Media sosial memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan opini publik digital. Ia menjadi medium komunikasi langsung antara tokoh publik dan masyarakat, memungkinkan interaksi yang lebih personal dan cepat. Media sosial juga menjadi pendorong gerakan sosial, seperti kampanye #MeToo dan #BlackLivesMatter, yang menunjukkan bagaimana opini publik digital dapat menggerakkan perubahan sosial yang nyata. Selain itu, media sosial juga menjadi sumber data yang sangat berharga bagi perusahaan, politisi, dan media dalam mengambil keputusan strategis.

Namun, memahami opini publik digital bukanlah hal yang mudah. Terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah disinformasi dan hoaks. Tidak semua opini yang beredar di dunia digital berbasis pada fakta. Banyak opini yang terbentuk dari informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi opini publik, menyebarkan kebencian, atau mempengaruhi keputusan politik dan sosial.

Disinformasi dapat menyebabkan kepanikan massal, merusak reputasi individu atau kelompok, menurunkan kepercayaan terhadap institusi resmi seperti pemerintah dan media, serta mengganggu kesehatan mental masyarakat. Untuk menghindari dampak negatif dari disinformasi, pengguna digital perlu selalu mengecek sumber informasi, memastikan bahwa informasi tersebut berasal dari media resmi, serta melakukan verifikasi melalui situs pengecekan fakta seperti turnbackhoaks.id, cekfakta.com, dan Kominfo Hoaks Buster. Selain itu, penting untuk meningkatkan literasi digital dan melaporkan akun atau konten yang menyebarkan hoaks.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah fenomena bubble filter dan echo chamber. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga seseorang hanya terpapar pada opini yang serupa dengan pandangannya. Bubble filter adalah kondisi di mana seseorang hanya menerima informasi yang sesuai dengan kebiasaan atau minat pribadinya.

Misalnya, jika seseorang sering mencari konten tentang teori konspirasi, maka algoritma YouTube, Instagram, atau TikTok akan lebih sering menampilkan konten sejenis dan menghindari konten yang berbeda pandangan. Dampaknya, perspektif dan wawasan seseorang menjadi terbatas, sulit menerima pendapat berbeda, dan cenderung mempercayai informasi sepihak.

Echo chamber, di sisi lain, adalah lingkungan di mana seseorang hanya berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Hal ini dapat menyebabkan polarisasi dalam masyarakat, meningkatnya sikap intoleran terhadap perbedaan pendapat, terbentuknya kelompok ekstrem, serta kesulitan menerima fakta yang tidak sesuai dengan keinginan kelompok.

Untuk menghindari dampak negatif dari bubble filter dan echo chamber, pengguna digital perlu mengikuti berbagai sumber berita dari sudut pandang yang berbeda, berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan beragam, serta melatih sikap terbuka dan kritis terhadap setiap informasi yang diterima.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved