Opini
Fermentasi sebagai Solusi Kekinian
Proses ini menghasilkan produk bernilai tambah, mengubah rasa, aroma, dan tekstur makanan, serta berfungsi sebagai metode pengawetan alami
Jika kita tarik garis besar, fermentasi mendukung sedikitnya delapan SDGs: SDG 2, SDG 3, SDG 9, SDG 11, SDG 12, SDG 13, SDG 15, dan SDG 17. Tidak banyak tradisi manusia yang bisa menyentuh begitu banyak aspek sekaligus mulai dari kesehatan, pangan, inovasi, lingkungan, hingga budaya. Akhirnya, fermentasi bisa kita lihat sebagai jembatan penghubung antara masa lalu dan masa depan. Ia lahir dari kearifan nenek moyang yang akrab dengan alam, kini dibedah lewat sains modern, dan mungkin menjadi solusi nyata untuk krisis pangan serta kesehatan global.
Setiap kali kita menikmati tempe hangat, atau tape manis, sebenarnya kita sedang ikut merawat warisan panjang manusia yang sarat makna. Fermentasi bukan cuma soal makan, melainkan cara hidup. Ia sederhana di meja makan, tetapi dampaknya besar bagi kesehatan, budaya, dan keberlanjutan bumi. Kalau kita mau sedikit mengubah cara pandang, fermentasi bisa jadi bagian dari solusi global.
Bayangkan jika setiap rumah, sekolah, atau komunitas kembali membiasakan fermentasi, tidak hanya demi rasa atau daya simpan, tetapi juga demi kesehatan, pengurangan limbah, dan pelestarian tradisi. Dari hal-hal kecil itulah, kita semua bisa ikut andil dalam pencapaian SDGs.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Periskila-Dina-Kali-Kulla-SPd-MSc.jpg)