KUPI BEUNGOH
Aceh Barat-Selatan Butuh FK UTU Sekarang
FK UTU bukan sekadar membuka program studi kedokteran baru, tetapi menjadi motor lahirnya sebuah Academic Health System pelayanan kesehatan...
Ditulis oleh: Prof Dr dr Rajuddin SpOG(K) Subsp FER
Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh.
Tragedi kematian seorang ibu hamil dari Nagan Raya pada awal September 2025 lalu masih meninggalkan luka mendalam.
Pasien baru saja menjalani operasi sesar karena gawat janin, kemudian histerektomi subtotal akibat perdarahan.
Namun pendarahan tidak kunjung terkontrol, darah yang tersedia terbatas, sementara ruang ICU pun tidak mampu menopang.
Kondisi itu memaksa pasien dirujuk ke Banda Aceh, menempuh jarak 300 kilometer melewati jalur terjal Gunung Geurutee, Gunung Kulu, dan Gunung Paro.
Di tengah perjalanan, pasien sempat mengalami henti jantung dan pertolongan darurat dilakukan di Puskesmas Lhok Kruet, Kecamatan Sampoiniet dan jantung berdetak kembali secara spontan atau return of spontaneous circulation (ROSC) dan perjalanan kembali dilanjutkan ke Banda aceh.
Setibanya di IGD RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh, pasien kondisinya sudah amat kritis.
Pasien segera dipindahkan ke ruang resusitasi dan dilakukan pemeriksaan oleh tim triase, serta dilakukan stabilisasi oleh divisi anastesi dan divisi obstetric dan ginekologi.
Tim dokter RSUD Zainoel Abidin, segera melakukan relaparotomi, perawatan intensif diberikan dan pasien dapat betahan selama 13 jam.
Semua ikhtiar medis telah dilakukan tetapi tidak mampu menolong nyawanya, pasien meninggalkan keluarga dalam duka yang mendalam.
Peristiwa ini merupakan simbol betapa rapuhnya sistem rujukan obstetri gawat darurat di Aceh Barat-Selatan.
Rumah Sakit Regional Meulaboh yang mangkrak sepertinya pemerintah tidak peduli.
Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat Barsela membiarkan keadaan seperti ini berlangsung?
Kesenjangan Struktural
Wilayah Barat-Selatan Aceh menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan tambalan jangka pendek.
Jarak tempuh yang jauh ke Banda Aceh, isolasi geografis oleh pegunungan, serta keterbatasan sarana sudah menjadi realitas sehari-hari.
Namun yang paling krusial adalah defisit tenaga spesialis, hingga rawat intensive nyaris tidak tersedia.
Akibatnya, kasus perdarahan obstetri berat yang seharusnya segera ditangani di daerah terpaksa “dilarikan” ke Banda Aceh.
Banyak dokter spesialis hanya singgah sebentar, tanpa ekosistem akademik, jenjang karier dosen klinik, ataupun dukungan riset yang bisa mengikat mereka lebih lama.
Begitu masa tugas usai, mereka kembali pergi.
Masyarakat pun kembali ditinggalkan tanpa layanan esensial.
Inilah yang saya sebut sebagai kesenjangan struktural.
Tanpa menghadirkan tenaga medis yang lahir, tumbuh, dan berkomitmen mengabdi di Barat-Selatan Aceh, masyarakat hanya akan terus menyaksikan siklus berulang dari tahun ke tahun.
Di sinilah urgensi pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar (FK UTU) menemukan pijakan yang nyata.
FK UTU bukan sekadar membuka program studi kedokteran baru, tetapi menjadi motor lahirnya sebuah Academic Health System pelayanan kesehatan Barat-Selatan Aceh.
Academic Health System (AHS) merupakan konsep yang menyatukan tiga pilar utama yaitu layanan kesehatan, pendidikan, dan riset dalam satu ekosistem terpadu.
Kehadiran FK UTU sebagai jangkarnya akan menghadirkan dampak berlapis bagi pembangunan kesehatan di Barat-Selatan Aceh.
Dampak yang diperoleh melalui AHS Adalah:
Pertama, Revitalisasi RS Regional Meulaboh.
Dari rumah sakit yang kini “mangkrak”, ia bisa tumbuh menjadi teaching & referral hub.
Status ditingkatkan menjadi Rumah Sakit pendidikan memberi legitimasi untuk menghidupkan kembali ICU, bank darah, serta kamar operasi berstandar akademik.
Keduan, dokter yang ditempatkan di BarSel tidak lagi hanya berperan sebagai pelayan klinis, tetapi juga dosen klinik, peneliti, dan bagian dari jejaring akademik.
Peran ganda ini memberi insentif karier yang kuat, sehingga peluang bertahan dan mengabdi lebih lama menjadi jauh lebih besar.
Ketiga, SDM lokal.
Mahasiswa yang lahir dan besar di Aceh Barat–Selatan akan lebih berpeluang kembali mengabdi setelah lulus dokter.
Dengan mekanisme bonding, FK UTU mampu melahirkan dokter, perawat, dan tenaga kritis lain yang terikat secara emosional, sosial, dan profesional dengan wilayahnya sendiri.
Dengan demikian, FK UTU bukan hanya menambah jumlah institusi pendidikan, melainkan menciptakan ekosistem kesehatan baru yang kokoh, berakar di daerah, dan berdaya tahan jangka panjang.
Dampak Strategis FK UTU
Pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar (FK UTU) tidak hanya menjawab kebutuhan tenaga medis, tetapi juga membawa dampak luas pada berbagai sektor antara lain:
Dampak Ekonomi. Biaya rujukan pasien yang selama ini membebani BPJS dan pemerintah daerah dapat ditekan.
Anggaran yang dihemat bisa dialihkan ke program yang lebih strategis: memperkuat puskesmas, mengembangkan layanan primer, dan mempercepat upaya pencegahan stunting maupun masalah gizi lainnya.
Dampak Sosial. Masyarakat memperoleh rasa aman. Komplikasi obstetri tidak lagi identik dengan “vonis perjalanan jauh” ke Banda Aceh.
Kehadiran layanan kritis di BarSel memberi harapan baru bahwa keselamatan ibu dan bayi dapat dijaga di tanah kelahiran mereka sendiri.
Dampak Pendidikan dan riset. FK UTU akan menjadi katalis lahirnya pusat riset di bidang kesehatan maternal, penyakit endemik, hingga gizi buruk di Aceh.
Aktivitas akademik dan penelitian akan meningkatkan mutu layanan, menggerakkan roda ekonomi lokal melalui hadirnya dosen, peneliti, dan jejaring kesehatan.
Dengan demikian, FK UTU bukan sekadar kampus baru, melainkan instrumen pembangunan multidimensi.
Kehadirannya ditunggu untuk menyelamatkan nyawa, mengefisienkan anggaran, menguatkan rasa aman masyarakat, dan menumbuhkan ekosistem kesehatan di Barat-Selatan Aceh.
Langkah Cepat Peresmian FK UTU
Agar gagasan ini tidak berhenti sebagai wacana, diperlukan langkah percepatan pembukaan FK UTU yang terukur dan berani yaitu:
- Keputusan politik. Presiden perlu menetapkan pembukaan FK UTU sebagai prioritas nasional, dengan skema percepatan izin prodi Sarjana Kedokteran dan Profesi Dokter. Tanpa payung politik di level tertinggi, percepatan sulit diwujudkan.
2. Rumah Sakit pendidikan. RS Regional Meulaboh harus segera ditetapkan sebagai satelit RSUDZA, sekaligus dipenuhi standar Rumah Sakit pendidikan: keberadaan ICU, komponen bank darah , kamar operasi berstandar akademik, dan sistem informasi rumah sakit yang terintegrasi.
3. Dosen dan jejaring akademik. Dosen klinik dari RSUDZA dapat diperbantukan sebagai affiliate lecturer, diperkuat dengan skema visiting professorship dari kampus mitra nasional. Bahkan, program residensi satelit bisa langsung dijalankan untuk mempercepat alih pengetahuan dan keterampilan.
4. Pendanaan terpadu. Dukungan keuangan perlu dihimpun melalui kombinasi APBN, APBA, dana Otsus, hingga kemitraan dengan BSI. Dana tersebut diarahkan untuk pengadaan alat kritikal (ventilator, blood warmer, ICU) sekaligus investasi sumber daya manusia (beasiswa, insentif dosen klinik, dan pendanaan riset awal).
Bagi sebagian orang, pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar mungkin hanya terlihat sebagai proyek pendidikan semata.
Padahal, sesungguhnya ini adalah intervensi kebijakan kesehatan publik. Kita sedang berbicara tentang nyawa pasien dan ibu-ibu di ujung barat Nusantara, yang selama ini dipertaruhkan di jalan raya.
Tanpa FK UTU, krisis akan terus berulang: pasien Kritis, ibu hamil dalam kondisi darurat harus menempuh rujukan jauh, dan kerap tiba di Rumah Sakit dalam keadaan too late to rescue.
Dengan berdirinya FK UTU sebagai jangkar Academic Health System (AHS) Barat-Selatan Aceh, lingkaran tragis itu dapat diputus.
RS Regional Meulaboh dihidupkan kembali sebagai pusat rujukan dan dijadikan sebagai Rumah Sakit pendidikan, tenaga spesialis lebih terjaga melalui jejaring akademik, mahasiswa kedokteran tumbuh dari lokalitas, dan masyarakat akhirnya memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa harus mempertaruhkan nyawa di perjalanan panjang.
Penutup
Kematian seorang ibu hamil akibat gagal rujukan dari Nagan Raya harus dibaca sebagai alarm keras.
Jalan berliku yang ditempuh bukan sekadar jarak geografis, melainkan simbol lebar jurang antara idealitas sistem kesehatan dan kenyataan di lapangan.
Kini keputusan ada di tangan pemerintah pusat dan daerah.
Presiden Prabowo perlu segera meresmikan FK UTU sebagai prioritas nasional, sementara Pemerintah Aceh wajib mengaktifkan kembali Rumah Sakit Regional Meulaboh sebagai hub rujukan kritis.
Inilah solusi struktural yang bukan hanya menyelamatkan nyawa pasien, ibu hamil dan bayi, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan kesehatan jangka panjang.
Aceh tidak lagi membutuhkan janji, melainkan tindakan nyata. Pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar adalah jawabannya. Membangun dari Barat-Selatan Aceh, menyelamatkan generasi, dan memastikan bahwa jalan panjang tidak lagi menjadi jalan kematian. (email:rajuddin@usk.ac.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ProfDrdr-Rajuddin-SpOGKSubspFER-Guru-Besar-Universitas-Syiah-Kuala.jpg)