Rabu, 13 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Aceh Barat-Selatan Butuh FK UTU Sekarang

FK UTU bukan sekadar membuka program studi kedokteran baru, tetapi menjadi motor lahirnya sebuah Academic Health System pelayanan kesehatan...

Tayang:
Editor: Nurul Hayati
For Serambinews.com
Prof Dr dr Rajuddin SpOG(K) Subsp FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh. 

Ditulis oleh: Prof Dr dr Rajuddin SpOG(K) Subsp FER
Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh.

Tragedi kematian seorang ibu hamil dari Nagan Raya pada awal September 2025 lalu masih meninggalkan luka mendalam.

Pasien baru saja menjalani operasi sesar karena gawat janin, kemudian histerektomi subtotal akibat perdarahan. 

Namun pendarahan tidak kunjung terkontrol, darah yang tersedia terbatas, sementara ruang ICU pun tidak mampu menopang.

Kondisi itu memaksa pasien dirujuk ke Banda Aceh, menempuh jarak 300 kilometer melewati jalur terjal Gunung Geurutee, Gunung Kulu, dan Gunung Paro.

Di tengah perjalanan, pasien sempat mengalami henti jantung dan pertolongan darurat dilakukan di Puskesmas Lhok Kruet, Kecamatan Sampoiniet dan jantung berdetak kembali secara spontan atau return of spontaneous circulation (ROSC) dan perjalanan kembali dilanjutkan ke Banda aceh.

Setibanya di IGD RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh, pasien kondisinya sudah amat kritis.

Pasien segera dipindahkan ke ruang resusitasi dan dilakukan pemeriksaan oleh tim triase, serta dilakukan stabilisasi oleh divisi anastesi dan divisi obstetric dan ginekologi. 

Tim dokter RSUD Zainoel Abidin, segera melakukan relaparotomi, perawatan intensif diberikan dan pasien dapat betahan selama 13 jam.

Semua ikhtiar medis telah dilakukan tetapi tidak mampu menolong nyawanya, pasien meninggalkan keluarga dalam duka yang mendalam.

Peristiwa ini merupakan simbol betapa rapuhnya sistem rujukan obstetri gawat darurat di Aceh Barat-Selatan.

Rumah Sakit Regional Meulaboh yang mangkrak sepertinya pemerintah tidak peduli.

Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat Barsela membiarkan keadaan seperti ini berlangsung?

Kesenjangan Struktural

Wilayah Barat-Selatan Aceh menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan tambalan jangka pendek.

Jarak tempuh yang jauh ke Banda Aceh, isolasi geografis oleh pegunungan, serta keterbatasan sarana sudah menjadi realitas sehari-hari. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved