Kopi Beungoh

Adu Sakti

Sepertinya benar, dan memang benar, bahwa cerita kudeta di mana pun di belahan dunia mana pun, pastilah secepat kilat. Dalam hitungan hari.

|
Editor: Nurul Hayati
For Serambinews.com
Muhammad Alkaf 

Sedangkan Oemar Dani adalah Kepala Staf Angkatan Udara.

Dua orang ini, sedikit dari deretan nama para loyalis Sukarno yang diseret ke Mahmilub.

Satu langkah lagi menuju Sukarno, sampai kemudian Suharto yang menghalangi agar tuntutan itu tidak terjadi.

Bagi Suharto, membawa Sukarno ke Mahmilub sama saja dengan memulai tradisi Arokian ke panggung politik Indonesia modern.

"Tetapi, kau Harto," kata Pramoedya dalam roman Arok Dedes, "telah mempraktekkan jalan Ken Arok menuju kekuasaan."

Baca juga: Menilik Sejarah Kantor PWI Sabang, Ada Bayang-bayang PKI, Kini Aset Pemko

Suharto dibayangkan seperti Ken Arok yang menjungkalkan Tunggul Ametung dalam epos politik Jawa klasik. 

Suharto, setelah kejatuhannya, didakwa tanpa ampun bahwa telah mengkudeta Sukarno.

"Suharto telah melakukan kudeta merangkak," kata Soebandrio. 

"Tidak ada istilah kudeta merangkak dalam sejarah politik di mana pun," sergah Saleem Said.

Sepertinya benar, dan memang benar, bahwa cerita kudeta di mana pun di belahan dunia mana pun, pastilah secepat kilat.

Dalam hitungan hari.

Tetapi, tidak demikian dalam kisah pergantian dari Sukarno ke Suharto.

Kisahnya seperti melambat.

Baca juga: Panitia Musda Tetapkan Syarat Calon Ketua Golkar Aceh, Salah Satunya Tak Pernah Terlibat G30S/PKI

Suharto memberi terlebih dahulu kesempatan kepada tiga orang yang lebih tua darinya, Hamengkubowono IX, Moh. Hatta, dan Jenderal Nasution, yang kesemuanya menolak, dengan alasan masing-masing.

Suharto naik tahta, Sukarno disingkirkan, tetapi tidak pernah dibawa ke Mahmilub.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved