Kupi Beungoh
Zoel Helmi: Guru Dayah Oemar Diyan Indrapuri yang Kuasai 7 Bahasa Dunia
Zoel Helmi mengusai 7 bahasa di dunia, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya.
Oleh: Raihana Salsabilla dan Salsabila Salwa Jaisa
SERAMBINEWS.COM – Mengusai asing terasa rumit bagi sebagian orang, apalagi bahasa yang memiliki aksara cara tulis tersendiri. Namun, hal itu tidak menjadi halangan bagi Zoel Helmi.
Zoel Helmi mengusai 7 bahasa di dunia, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya. Bahkan, dia ingin menambah lagi dengan bahasa Cina, Jepang dan Korea. Wow! Menakjubkan bukan?
Dayah Oemar Diyan Indrapuri Aceh Besar tergolong beruntung. Betapa tidak, Zoel Helmi bersedia menjadi guru di dayah modern yang menjadi incaran anak-anak dari seluruh Aceh, bahkan Indonesia ini.
Salah satu fokus dayah ini adalah dalam penguasaan dua bahasa asing, yaitu Inggris dan Arab. Kami selaku alumni Dayah Oemar Diyan telah melewati masa-masa santri yang wajib berbicara Bahasa Inggris dalam dua minggu, demikian juga Bahasa Arab.
“Ada hukuman jika melanggar aturan bahasa. Anak laki akan dibotaki, anak perempuan dihukum pakai jilbab merah-hijau selama seminggu,” ujar Dina Alya Hasan, alumni Dayah OD Indrapuri 2025 yang kini kuliah di dua kampus: USK dan UIN Ar-Raniry, Sabtu (11/10/2025).
Baca juga: 10 Prompt Gemini AI Edit Foto Wanita Berhijab Berbagai Gaya, Ubah Fotomu yang Biasa Saja Jadi Keren
Mulai dari Langsa dan Mesir
Zoel Helmi Ridhwan lahir di Lhokseumawe pada 10 September 1985. Ia akrab dikenal sebagai Ustadz Zoel Helmi karena beliau merupakan pendidik bahasa di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan, Aceh Besar.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah panjang perjuangan dan semangat belajar yang luar biasa hingga mampu menguasai 5 bahasa asing.
Perjalanan pendidikan dimulai dari TK Malahayati Gandapura, Aceh Utara, dilanjutkan ke SD Hagu Teungoh Lhokseumawe dan kemudian ke Pesantren Modern MUQ Bustanul Ulum Langsa. Dari pesantren inilah tumbuh ketertarikan terhadap bahasa, meskipun pada awalnya tidak begitu ia sadari.
Setelah menamatkan pendidikan di Langsa orang tuanya menawarkannya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mesir menjadi pilihan yang disetujui keluarga, bukan hanya karena biaya hidup yang terjangkau, tetapi juga karena Suasananya yang Islami.
Namun, perjalanan awalnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, tidak berjalan mulus Ustadz Zoel Helmi sempat merasa menyesal mengambil jurusan Syariah Islamiyah karena kesulitan memahami bahasa Arab.
Padahal beliau mengambil jurusan itu karena dianggap mudah dibandingkan jurusan yang lain. Ia bahkan sempat di-drop out setelah tiga kali gagal dalam ujian.
Tetapi semangatnya tidak padam. Ia kembali bangkit dan memilih jurusan Ushuluddin yang justru membuatnya menemukan dunia yang ia cintai. Dari sanalah titik balik hidupnya dimulai, terutama setelah mendapat gelar Lc.
Inspirasi dari orang masuk Islam
Ketertarikannya dalam bahasa Arab tumbuh setelah melihat banyak orang Eropa yang baru masuk Islam rela datang jauh-jauh ke Mesir untuk belajar bahasa Arab, dari situ ia merenung.
"Kalau mereka yang baru masuk Islam saja semangat mempelajari bahasa Arab mengapa saya yang lahir di negeri muslim tidak demikian,?" bisik batinnya.
Pemikiran itu mengubah arah hidupnya. Ia mulai mencintai bahasa Arab dan belajar dengan tekun hingga menguasainya.
Seiring waktu, kecintaannya pada bahasa meluas. Tahun 2006 ia mulai belajar bahasa Perancis setelah bertemu seorang warga Perancis di masjid.
Tidak puas sampai di situ, lalu pada tahun 2010 ia mendalami bahasa Jerman. Selanjutnya pada tahun 2013 menambah bahasa Turki ke dalam daftar kemampuan bahasanya.
Semua ia pelajari secara otodidak didorong oleh lingkungan Al-Azhar yang sangat mendukung. Ia pun berprinsip bahwa "segala hal itu akan mudah jika kita tertarik akannya".
Menurutnya, setiap bahasa punya tantangan berbeda. Bahasa Perancis menentang di pengucapan tetapi mudah di struktur bahasanya, sedangkan Jerman sebaliknya, sementara Turki itu terasa paling ringan karena memiliki pola yang mirip dengan bahasa Arab.
Hingga kini, urutan bahasa yang dikuasainya adalah Inggris, Arab, Prancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya.
Bahkan kini ia sedang belajar bahasa isyarat (ILC) sebagai bentuk kepedulian terhadap komunikasi lintas keterbatasan.
Selama 9 tahun menempuh pendidikan di Mesir, ia belajar banyak hal. Bukan hanya bahasa tetapi juga makna dari kerja keras dan keikhlasan.
Ia menyelesaikan studi sarjana di Ushuluddin selama 6 tahun baginya alam semesta akan selalu merespon niat dan usaha seseorang.
"Kalau seseorang ingin memancing ikan tentu ia akan pergi ke laut bukan ke lapangan bola. Di situlah alam akan memberi bantuan: ada yang menawarkan perahu, jaring dan sebagainya," ujarnya memberi perumpamaan.
Kini, setelah kembali ke Aceh dan menjadi pendidik di pesantren, yang mengakui bahwa menjaga kemampuan bahasa asing cukup sulit karena tidak semua bahasa bisa dipraktikkan secara langsung.
Namun, ia tetap berusaha menjaga kemampuannya melalui interaksi daring dengan orang asing. Setiap kali berpergian, ia selalu percaya bahwa "alam akan merespon" niatnya untuk bertemu penutur bahasa lain dan anehnya hal itu memang sering terjadi.
Ustadz Zoel Helmi juga mengajarkan bahwa ilmu akan tetap hidup jika diajarkan. "Jika ingin menjaga ilmu yang kita miliki, maka carilah murid untuk membagikannya," katanya.
Ia kini mengajar bahasa Inggris di Pesantren Sulaimaniyah dan kadang menjadi guru privat bahasa asing secara daring. Dari situlah Ia terus melatih kemampuan berbahasannya.
Dalam pandangannya, seorang guru yang baik adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan murid. Ia selalu menyesuaikan metode ajarnya agar setiap siswa merasa bahasa bukan beban, melainkan ekspresi diri.
Ia juga sering mengutip kalimat motivasi, "you are the result of what you have thought," dan "you are what you repeat."
Menurutnya, kekuatan pikiran dan kebiasaan sangat menentukan siapa kita di masa depan.
Dengan kemampuan bahasa beliau, Ia mendapat kepercayaan untuk menjadi translator saat Mualim jamu Dubes UEA dan Bos Mubadala Energy di Meuligoe, saat pembahasan Kerja Sama Investasi di Aceh. https://share.google/5FEBxHlx09sXkRnMe
Meski telah mencapai banyak hal, Ustadz Zoel Helmi tidak pernah patah semangat. Sejak ayahnya wafat, semangat belajarnya sedikit menurun karena kehilangan sosok pemberi motivasi.
"Dalam psikologi Ibu adalah kasih sayang, ayah adalah motivasi. Ketika ayah saya tiada, maka hilanglah motivasi itu, dan yang tersisa hanyalah kasih sayang," ungkapannya pelan.
Kini di usia hampir empat puluh ia lebih fokus pada persiapan menuju akhirat, meski semangat belajar tetap menyala.
Ingin Belajar Bahasa Cina Cs
Seketika Beliau berkata jika saya masih seumur kalian maka saya akan menambah bahasa asing lainnya terutama bahasa Asia seperti Mandarin, Jepang, dan Korea.
Menutup perbincangan, ia sempat melontarkan kritik reflektif terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Jika pendidikan memang untuk kita, mengapa kurikulumnya ditentukan pemerintah? dan jika pendidikan untuk negara, mengapa kita yang harus membayar?.
Pertanyaan di atas menunjukkan bahwa bagi Ustaz Zoel Helmi, pendidikan sejati bukan hanya soal kurikulum, tetapi tentang keikhlasan mencari ilmu. Dan keberanian melangkah menembus batas diri.
Zoel Helmi berhasil menjadi “poliglot”, yaitu sosok yang menguasai lebih dari dua bahasa dalam pergaulan. Keberhasilan ini tentu sudah memulai sejumlah proses dan tidak datang dengan serta merta.
Maka, dari cerita ini, generasi muda sekarang ini, perlu belajar dari kisah sukses orang lain sebagai inspirasi. Semoga!
Darussalam, 11 Oktober 2025
Penulis Raihana Salsabilla dan Salsabila Salwa Jaisa (Kedua adalah mahasiswa Prodi KPI FDK UIN Ar-Raniry, email: raihanaslsbillaa@gmail.com & salwajaisa412@gmail.com)
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
| Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Raihana-Salsabilla-dan-Salsabila-Salwa-Jaisa.jpg)