Kamis, 4 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Program Ruang Cerita Psikologi Unmuha: Tempat Aman Berbagi Kisah

Pertama kali saya mendengar adanya program Ruang Cerita yang dibuka oleh para mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
HELLEN DILLA FITRIA, Siswi Kelas X Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar 

HELLEN DILLA FITRIA, Siswi Kelas X Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

Pertama kali saya mendengar adanya program Ruang Cerita yang dibuka oleh para mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, saya bertanya-tanya: Kenapa, ya, ada program seperti itu di pesantren kami?

Soalnya, menurut saya dulu, psikolog itu hanya menangani orang-orang yang punya gangguan mental, sakit jiwa, atau minimal orang stres, tetapi ternyata dugaan saya itu hanya sekadar asumsi dan stigma. Saya benar-benar belum teredukasi mengenai dunia psikologi.

Sebelum ada kelas pengayaan sosialisasi Ruang Cerita ini, saya dan teman-teman tidak paham bahwa isu kesehatan mental sepenting itu. Ibaratnya ketika terjadi kecelakaan di depan mata, kita menyaksikan seseorang terluka, segera saja kita larikan ke rumah sakit.

Namun, jika ada trauma dan luka di dalam hati, tidak banyak orang yang tergerak dan sadar untuk segera mencari pertolongan. Luka itu terus dibiarkan dan tidak dianggap, sehingga dampaknya bisa ke mana-mana. Bahkan, mungkin bisa seperti luka berulang-ulang dan infeksi. Seperti itulah yang disampaikan Bang Ihsan Al-Farabi, Kak Dian Anggraini, Kak Sofianisyah, dan Kak Elvi Susanti Lase, saat melakukan  sosialisasi “Ruang Cerita”.

Keempat mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang mengadakan praktik kerja lapangan (PKL) di pesantren kami selama kurang lebih sebulan. Mereka hadir didampingi Ibu Syarifah Zainab SPsi, MPsi yang merupakan dosen pendamping lapangan (DPL).

Sosialisasinya diadakan hari Sabtu, 23 Agustus 2025. Adapun “Ruang CERITA” merupakan singkatan dari  C: Curhat, E: Ekspresi, R: Relasi, I: Inspirasi, T: Tenang, dan A: Aman.

Ihsan Al-Farabi menyampaikan kepada para santri, agar jangan merasa malu untuk berbicara pada orang yang kita percaya. Kalau kita tidak pernah bercerita tentang masalah kepada orang yang kita percayai, maka masalah tersebut akan semakin menumpuk satu per satu, menjadi bukit persoalan yang semakin tinggi menjulang. Atau bisa diibaratkan seperti balon yang terus ditiup. Semakin kita tiup semakin membesar dan balon tersebut pun akan meletus atau meledak dengan sendirinya.

Dampak ledakan diibaratkan dengan gangguan kesehatan mental. Misalnya, dalam kasus perisakan (bullying), ada korban yang tidak berani bercerita. Mungkin pula pola asuh, trauma masa lalu, dan hal lain yang menimbulkan luka jiwa, tetapi tidak ada ruang untuk bercerita kepada siapa pun. Ada persoalan rumit, tetapi tidak didapat solusinya.

Contoh lainnya seperti bola yang diputar, kemudian berhenti dengan sendirinya atau seperti tangkai pohon yang bercabang-cabang, lalu rapuh dengan sendirinya, sama juga dengan pikiran yang di dalam kepala. Jadi, program “Ruang Cerita” bisa menjadi wadah agar para remaja lebih terbuka dan berani berbicara.

“Apakah teman-teman ingin cerita santai dan ingin didengar, bahkan curhat sekalipun, bicara tentang hal kecil dan apa pun itu yang membebani pikiran kalian, kalian bisa datang kapan saja untuk menjumpai kakak. Kami siap mendengarkan dan jika memungkinkan kakak dari psikologi akan memberi solusi,” kata Elvi Susanti Lase kepada para santri.

Kemudian ia tambahkan, jika ada seseorang yang mengalami kecelakaan, kita langsung membawa orang tersebut ke rumah sakit, sama juga dengan orang yang butuh curhat, menyatakan keluh kesah yang memberatkan hati, kita bisa datang ke psikolog.

“Perasaan sedih, marah, maupun kesal apa pun itu sering kali butuh divalidasi,” imbuhnya.

Elvi juga mengingatkan, ketika ada orang yang suka memendam perasaan negatifnya, tidak mau bercerita pada siapa pun, atau tidak punya orang yang dipercaya, ketika ada masalah justru selalu ditutupi, pasti akan ada gejala seperti pusing, lemas, capek, atau bisa juga tiba-tiba sesak napas disebabkan pikiran buruk dan kecemasan. Sebenarnya itu tidak bagus untuk kesehatan.

Berkonsultasi dengan psikolog bukan pertanda gila. Hilangkan stigma semacam itu agar muncul kesadaran menjaga keseimbangan diri dan kesehatan mental. Buktinya, saat ini ramai remaja terganggu mentalnya. Ada yang disebabkan latar belakang sosial, pola asuh, trauma, masalah perundungan, dan lain-lain.

“Tidak perlu khawatir ya, teman-teman, semua yang diceritakan ke kakak psikolog itu aman, tidak akan disebarkan ke publik. Selagi kita berkonsultasi dengan psikolog, insyaallah identitas dan permasalahan individu tidak akan diumbar,” Ihsan Al-Farabi menjelaskan.

Selama tinggal di pesantren memang semangat saya naik dan turun. Ada kalanya rutinitas dan tindakan saat mendisiplinkan kami membuat saya bersemangat, tetapi pernah juga jadi membebani saya, sehingga sering kali saya dan teman-teman perlu jeda dan ruang untuk bercerita.

Aktivitas saya sejak bangun tidur pukul 04.40 WIB yang dilanjutkan dengan salat tahajud, kemudian shalat subuh berjemaah, membaca zikir pagi, terlebih lagi kadang kami lupa mencatat dan menghafalkan ‘mufradat’ atau kosakata yang diberikan setiap sore hari, sehingga ada pula tugas tambahan lagi bagi yang lalai. Rutinitas semacam itu kadang terasa melelahkan, dan ruang bercerita inilah yang akan membuat saya dan teman-teman merasa didengarkan.

Pengetahuan yang saya dapatkan mengenai kesehatan mental setelah kelas pengayaan tersebut bertambah. “Ruang Bicara” itu penting bagi kesehatan mental. Supaya pikiran kita lebih ringan dan tidak terbebani oleh hal yang tidak perlu. Harapannya, dengan seperti itu, saya bisa lebih fokus belajar dan meraih cita-cita.

Saya juga jadi terinspirasi menjadi seorang psikolog. Menjadi psikolog sepertinya seru dan menyenangkan karena kelak saya bisa membantu banyak orang yang punya masalah dengan hidup mereka, mencarikan solusi bagi masalah orang tersebut.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.15, kelas pengayaan pun selesai. Kami para santri berdiri mengatur barisan untuk sesi berfoto bersama dengan kakak mahasiswa psikologi Unmuha Aceh.

Hingga 20 September, kami memulai program “Ruang Cerita” di Pesantren Baitul Arqam, Sibreh. Kami boleh bertemu dan membuat janji dengan kakak-kakak mahasiswa psikologi di ruang unit kesehatan sekolah (UKS) yang berdampingan dengan perpustakaan pesantren. Jadi, selama September lalu, perpustakaan lebih ramai pengunjungnya. Kami membaca dan sebagian lagi mengobrol dengan kakak-kakak dari Fakultas Psikologi Unmuuha Aceh.

Di hari Sabtu berikutnya, kami juga diajak bermain psikogim, semacam gim yang memadukan permainan dan psikologi. Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya pribadi dan mungkin juga bagi teman-teman saya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved