Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Program Ruang Cerita Psikologi Unmuha: Tempat Aman Berbagi Kisah

Pertama kali saya mendengar adanya program Ruang Cerita yang dibuka oleh para mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
HELLEN DILLA FITRIA, Siswi Kelas X Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar 

HELLEN DILLA FITRIA, Siswi Kelas X Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

Pertama kali saya mendengar adanya program Ruang Cerita yang dibuka oleh para mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, saya bertanya-tanya: Kenapa, ya, ada program seperti itu di pesantren kami?

Soalnya, menurut saya dulu, psikolog itu hanya menangani orang-orang yang punya gangguan mental, sakit jiwa, atau minimal orang stres, tetapi ternyata dugaan saya itu hanya sekadar asumsi dan stigma. Saya benar-benar belum teredukasi mengenai dunia psikologi.

Sebelum ada kelas pengayaan sosialisasi Ruang Cerita ini, saya dan teman-teman tidak paham bahwa isu kesehatan mental sepenting itu. Ibaratnya ketika terjadi kecelakaan di depan mata, kita menyaksikan seseorang terluka, segera saja kita larikan ke rumah sakit.

Namun, jika ada trauma dan luka di dalam hati, tidak banyak orang yang tergerak dan sadar untuk segera mencari pertolongan. Luka itu terus dibiarkan dan tidak dianggap, sehingga dampaknya bisa ke mana-mana. Bahkan, mungkin bisa seperti luka berulang-ulang dan infeksi. Seperti itulah yang disampaikan Bang Ihsan Al-Farabi, Kak Dian Anggraini, Kak Sofianisyah, dan Kak Elvi Susanti Lase, saat melakukan  sosialisasi “Ruang Cerita”.

Keempat mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang mengadakan praktik kerja lapangan (PKL) di pesantren kami selama kurang lebih sebulan. Mereka hadir didampingi Ibu Syarifah Zainab SPsi, MPsi yang merupakan dosen pendamping lapangan (DPL).

Sosialisasinya diadakan hari Sabtu, 23 Agustus 2025. Adapun “Ruang CERITA” merupakan singkatan dari  C: Curhat, E: Ekspresi, R: Relasi, I: Inspirasi, T: Tenang, dan A: Aman.

Ihsan Al-Farabi menyampaikan kepada para santri, agar jangan merasa malu untuk berbicara pada orang yang kita percaya. Kalau kita tidak pernah bercerita tentang masalah kepada orang yang kita percayai, maka masalah tersebut akan semakin menumpuk satu per satu, menjadi bukit persoalan yang semakin tinggi menjulang. Atau bisa diibaratkan seperti balon yang terus ditiup. Semakin kita tiup semakin membesar dan balon tersebut pun akan meletus atau meledak dengan sendirinya.

Dampak ledakan diibaratkan dengan gangguan kesehatan mental. Misalnya, dalam kasus perisakan (bullying), ada korban yang tidak berani bercerita. Mungkin pula pola asuh, trauma masa lalu, dan hal lain yang menimbulkan luka jiwa, tetapi tidak ada ruang untuk bercerita kepada siapa pun. Ada persoalan rumit, tetapi tidak didapat solusinya.

Contoh lainnya seperti bola yang diputar, kemudian berhenti dengan sendirinya atau seperti tangkai pohon yang bercabang-cabang, lalu rapuh dengan sendirinya, sama juga dengan pikiran yang di dalam kepala. Jadi, program “Ruang Cerita” bisa menjadi wadah agar para remaja lebih terbuka dan berani berbicara.

“Apakah teman-teman ingin cerita santai dan ingin didengar, bahkan curhat sekalipun, bicara tentang hal kecil dan apa pun itu yang membebani pikiran kalian, kalian bisa datang kapan saja untuk menjumpai kakak. Kami siap mendengarkan dan jika memungkinkan kakak dari psikologi akan memberi solusi,” kata Elvi Susanti Lase kepada para santri.

Kemudian ia tambahkan, jika ada seseorang yang mengalami kecelakaan, kita langsung membawa orang tersebut ke rumah sakit, sama juga dengan orang yang butuh curhat, menyatakan keluh kesah yang memberatkan hati, kita bisa datang ke psikolog.

“Perasaan sedih, marah, maupun kesal apa pun itu sering kali butuh divalidasi,” imbuhnya.

Elvi juga mengingatkan, ketika ada orang yang suka memendam perasaan negatifnya, tidak mau bercerita pada siapa pun, atau tidak punya orang yang dipercaya, ketika ada masalah justru selalu ditutupi, pasti akan ada gejala seperti pusing, lemas, capek, atau bisa juga tiba-tiba sesak napas disebabkan pikiran buruk dan kecemasan. Sebenarnya itu tidak bagus untuk kesehatan.

Berkonsultasi dengan psikolog bukan pertanda gila. Hilangkan stigma semacam itu agar muncul kesadaran menjaga keseimbangan diri dan kesehatan mental. Buktinya, saat ini ramai remaja terganggu mentalnya. Ada yang disebabkan latar belakang sosial, pola asuh, trauma, masalah perundungan, dan lain-lain.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved