Kupi Beungoh
Kisah Muliadi: SD di Tenda Biru, Dapat Beasiswa Double Degree dan Bisnis Valas sambil Kuliah di LN
Masa kecil Muliadi diwarnai suasana mencekam. Sejak kecil hingga menjelang masa perdamaian Aceh pada tahun 2005
Oleh: Hilyatul Azkia dan Miftahul Jannah
Di balik wajah tenangnya, Muliadi menyimpan kisah panjang penuh perjuangan. Pria kelahiran 1997 asal Desa Empeh, Kecamatan Mutiara Timur, Kemukiman Ujong Rimba, Kabupaten Pidie ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Dari sebuah desa kecil yang pernah dilanda konflik, ia tumbuh menjadi sosok inspiratif yang menembus dunia akademik internasional dan pengalaman bekerja di luar negeri.
Masa kecil Muliadi diwarnai suasana mencekam. Sejak kecil hingga menjelang masa perdamaian Aceh pada tahun 2005, desanya menjadi salah satu titik panas dalam konflik antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka.
“Lingkungan kecil saya kadang agak terancam dengan kontak senjata anatara GAM dan TNI,” kenangnya.
Rumahnya bahkan pernah menjadi tempat singgah para anggota GAM yang melintas di desa tersebut. Situasi itu membuat keluarganya hidup dalam kewaspadaan, namun justru menanamkan pada dirinya keteguhan hati dan keberanian menghadapi segala keterbatasan.
Baca juga: Potensi Manfaat Kunyit untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui, Baik untuk Diabetes hingga Jantung
Sekolah Era Konflik
Namun di tengah ketakutan dan keterbatasan itu, semangat pantang menyerah justru tumbuh kuat dalam dirinya. Ia menempuh pendidikan di SD Empeh Monara (SD Lampoh U), sekolah sederhana yang sempat dibakar saat konflik.
“Saya masuk sekolah ini dalam kondisi bangunannya sudah hangus terbakar. Kami belajar di bawah tenda biru, dengan dinding dari atap bekas kebakaran,” ujarnya.
Meski serba terbatas, semangatnya tak pernah padam. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Blang Malu dan kemudian melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 2 Sigli jurusan Teknik Perbaikan Bodi Otomotif (TPBO).
Setiap hari ia menempuh perjalanan 40 menit ke sekolah tanpa keluhan. “Pagi sekolah, malam ngaji di dayah desa Empeh (Dayah Tgk Chik di Pasi), dan belajar bersama keluarga,” katanya.
Sejak kecil, Muliadi telah belajar hidup mandiri. Ayahnya wafat saat ia duduk di kelas tiga SD di tahun 2006, meninggalkan ibunya sebagai tulang punggung keluarga. Karena keterbatasan ekonomi, ia memilih masuk SMK agar bisa langsung bekerja setelah lulus.
“Karena kalau lanjut SMA, pasti harus kuliah, dan itu memerlukan biaya besar. Di SMK saya bisa punya keahlian dan langsung bekerja,” jelasnya.
Magang ke Malaysia
Kerja kerasnya berbuah hasil. Prestasi di SMK membuatnya terpilih mengikuti program magang luar negeri ke Malaysia pada 2015.
Awalnya sang ibu ragu, namun akhirnya mengizinkan setelah ia menjelaskan nilai dan manfaat program tersebut. Enam bulan magang di perusahaan Scomi Malaysia yaitu tempat pembuatan Bus Rapid KL, menjadi titik balik dalam hidupnya.
Ia belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan arti kemandirian di negeri orang. Setelah magang selesai, ia memutuskan untuk bekerja setahun lagi demi menambah tabungan.
| Sebelum Kampus Sempat Bicara! |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 13, Keberlanjutan Perdamaian dan Membuka Ruang Peradaban Dunia |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian |
|
|---|
| Saatnya Wakaf Harus Naik Kelas, Dari Aset Diam Menjadi Kekuatan Umat |
|
|---|
| PR untuk Rektor di Aceh: Alumni Universitas Menganggur Makin Tinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hilyatul-Azkia-dan-Miftahul-Jannah.jpg)