KUPI BEUNGOH
Ketika Pendidikan Mencari Jiwanya
Pendidikan membentuk manusia berpikir kritis, memiliki empati, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Pagi itu, matahari menyelinap pelan di sela-sela jendela ruang kelas. Anak-anak duduk rapi di bangkunya, wajah mereka tampak lelah, sebagian menunduk, yang lain menatap kosong ke papan tulis.
Di depan, seorang guru menjelaskan materi dengan suara datar, memegang buku paket seolah hidup mereka semua digantungkan pada lembar demi lembar halaman yang kaku.
Itulah potret umum dari banyak ruang kelas di negeri ini tempat di mana pendidikan seharusnya menjadi ruang penghidupan, justru kerap terasa seperti ruang penghakiman.
Di sinilah pertanyaan itu lahir Di manakah jiwa pendidikan kita?
Dulu, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Bukan sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan atau status sosial, melainkan jalan untuk mengasah hati dan akal.
Pendidikan membentuk manusia berpikir kritis, memiliki empati, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Namun, kini, nilai-nilai itu perlahan terkikis. Digantikan oleh angka-angka, ranking, sertifikat, dan standar yang seragam.
Anak-anak dididik untuk menghafal, bukan memahami. Untuk mengikuti, bukan mempertanyakan. Untuk tunduk pada sistem, bukan bertumbuh secara alami.
Di sekolah, kreativitas kerap kali dianggap gangguan, dan keberbedaan dimaknai sebagai penyimpangan.
Maka lahirlah generasi yang pandai menjawab soal, namun gagap menghadapi persoalan hidup.
Pendidikan kita sedang kehilangan jiwanya
Lebih menyedihkan lagi, guru yang seharusnya menjadi pelita bagi murid terjebak dalam rutinitas administrasi dan tekanan kurikulum.
Waktu mereka habis untuk mengisi laporan, bukan mendampingi proses belajar yang sesungguhnya.
Padahal, dalam diri seorang guru, seharusnya ada ruh yang menghidupkan ruang kelas: keteladanan, kehangatan, dan inspirasi.
Baca juga: Kabar Gembira Bagi Guru Aceh Utara yang Viral Gagal Ikut Ujian PPG Akibat Listrik Padam
Dan siswa? Mereka diperlakukan bak mesin yang harus menghasilkan output. Nilai tinggi menjadi tujuan utama, bukan proses tumbuh menjadi manusia yang utuh.
| Ketika Negara “Beribadah” Pakai Pajak Rakyat |
|
|---|
| Ngopi Sambil Nonton Bola: Tren Baru yang Mengubah Wajah Malam Kota |
|
|---|
| Arafah, Tempat Manusia Kembali Menatap Diri dan Sang Pencipta |
|
|---|
| Amarah Bukan Takdir: Menelusuri Akar Temperamen dari Sudut Pandang Psikologi |
|
|---|
| Polemik JKA dan Jalan Aceh Menuju Pemerintahan Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_17042024.jpg)