KUPI BEUNGOH
Ketika Pendidikan Mencari Jiwanya
Pendidikan membentuk manusia berpikir kritis, memiliki empati, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Padahal setiap anak membawa potensi yang berbeda, ritme belajar yang unik, dan mimpi yang tak bisa diseragamkan. Namun sistem yang kaku telah mengabaikan itu semua.
Apakah ini yang disebut pendidikan?
Di tengah semua itu, ada keresahan yang mengendap. Sebuah kerinduan akan pendidikan yang memerdekakan.
Yang tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tapi bagaimana berpikir. Pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan, tapi melahirkan manusia yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.
Jiwa pendidikan adalah tentang relasi. Antara guru dan murid, antara ilmu dan kehidupan. Ia hidup dalam percakapan yang tulus, dalam proses mendengar, memahami, dan menemani.
Jiwa pendidikan tidak bisa ditemukan dalam laporan evaluasi, tapi dalam tanya yang jujur dan semangat mencari.
Kita perlu menengok kembali pada para pemikir pendidikan yang mengusung nilai nilai ini. Ki Hadjar Dewantara, misalnya, tidak pernah memandang pendidikan sebagai mesin pencetak buruh intelektual.
Ia melihat pendidikan sebagai sarana membimbing anak agar selamat dan bahagia, lahir dan batin.
Prinsip Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" bukan sekadar slogan, tapi filosofi mendalam tentang posisi guru dan suasana belajar yang ideal.
Maka, jika hari ini kita merasa hampa di ruang ruang pendidikan, mungkin karena kita telah terlalu jauh berjalan tanpa arah.
Kita membangun gedung, tapi lupa membangun relasi. Kita memperbarui kurikulum, tapi lupa memperbarui semangat. Kita sibuk mengejar target, tapi lupa bertanya: Apakah anak anak kita bahagia belajar?
Baca juga: Yang tak Terliput dari Lirboyo
Mencari jiwa pendidikan bukan pekerjaan sehari dua hari. Ia adalah proses panjang untuk kembali ke nilai nilai dasar.
Dimulai dari keberanian untuk mengubah cara pandang: bahwa pendidikan bukan industri, bukan proyek, dan bukan kompetisi semata.
Pendidikan adalah jalan untuk membentuk manusia yang utuh berpikir, merasa, dan bertindak dengan nurani.
Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah sistem besar. Tapi kita bisa mulai dari ruang kelas kita sendiri, dari cara kita berbicara dengan murid, dari bagaimana kita memperlakukan perbedaan.
Kita bisa mulai dari mendengarkan lebih banyak, daripada terus memberi perintah.
Baca juga: Arah Baru Pendidikan Indonesia
| Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana |
|
|---|
| Jaga Marwah USK: Biarkan Kompetisi Rektor Bergulir dengan Tenang dan Beradab |
|
|---|
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_17042024.jpg)