Jurnalisme Warga
Meuseuraya di Rumah Duka
Sabtu pagi, 13 September 2025, saya terima pesan penting bahwa kondisi Ibunda Hj Saleha binti Abdul Majid di Rumah Sakit Mufid Sigli semakin genting
MURIZAL HAMZAH, wartawan dan penulis buku, melaporkan dari Sigli, Kabupaten Pidie
Kabar itu sangat mengejutkan. Sabtu pagi, 13 September 2025, saya terima pesan penting bahwa kondisi Ibunda Hj Saleha binti Abdul Majid di Rumah Sakit Mufid Sigli semakin genting. Saturasi oksigen beliau semakin menurun. Sementara grafik di layar monitor semakin landai.
Saya memutuskan untuk segera pulang dari Jakarta ke kampung asal, Sigli. Dalam hal ini, sekitar 18 tahun lalu, seorang perantau mengingatkan saya bahwa jika sudah merantau, harus siapkan dana darurat untuk beli tiket dan lain-lain.
Sekitar pukul 10.00 WIB, saya pesan tiket dari Jakarta ke Banda Aceh. Yang tersisa hanyalah jadwal pesawat pukul 16.00 WIB. Saya mengisi koper dengan tujuh baju koko dan kupiah hitam motif Aceh.
Sebagai anak, saya harus ikhlas dengan segala kondisi. Sekitar pukul 16.30 WIB saya ‘take off’ dengan status Ibunda masih di rumah sakit.
Sekitar pukul 19.30 WIB saya mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Aceh Besar dengan status Ibunda telah berpulang ke rahmatullah dan jenazah almarhumah berada di rumah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Dalam perjalanan ke Sigli, kegalauan berkelebat, bagaimana proses fardu kifayah. Setelah Ayahanda Hamzah bin Ibrahim dan Abangda Muazzim Hamzah wafat beberapa tahun lalu, hanya tinggal adik kandung saya, Mustika dan suaminya Teuku Syahrul yang merawat Ibunda.
Dalam sekejab, kegelisahan itu musnah. Tiba di rumah, teratak sudah terpasang. Bertemu Keuchik Bang Adi yang menyatakan semua sudah disiapkan dari yang memandikan hingga penggali kuburan. Saya diminta terima pelayat dan perbanyak berdoa saja.
“Besok sekitar pukul 10.00 WIB diseumiyub (dikebumikan),” kata Keuchik Adi yang masih muda.
Ahad, 14 September 2025, sekitar pukul 06.00 WIB seorang lansia datang ke rumah untuk memandikan dan lain-lain. Pertama, dia mengukur panjang Ibunda dengan seutas tali. Selanjutnya kain-kain ditata seperti layaknya baju.
Sekitar pukul 10.00 WIB, jenazah dibawa ke meunasah. Teungku Imuem memberi tausiah singkat. Intinya, setiap yang bernyawa akan berpulang ke rahmatullah dan jika almarhumah ada berutang, silakan bertemu dengan ahli warisnya.
“Jika almarhumah ada utang walaupun seribu rupiah, itu menghambat masuk surga. Kewajiban ahli warislah untuk melunasinya,” ingat Teungku Imuem.
Selanjutnya jenazah dibawa ke kompleks pemakaman. Saya dan Bang Din—suami Mursinah—turun ke liang lahad menyambut jenazah. Sejurus kemudian, Teungku Imuen Meunasah membaca doa.
Sekali lagi proses berlangsung singkat dan ringkas. Tidak ada sambutan-sambutan di rumah, meunasah, atau makam.
Masih di hari yang sama, Ahad, sekitar pukul 11.00 WIB, ibu-ibu warga membawa rantang makanan. Keuchik Adi menjelaskan, selama tiga hari, warga ‘meuseuraya’ (gotong royong) mempersiapkan makan siang. Ahli waris tidak perlu menghidupkan api dapur alias memasak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MURIZAL-HAMZAH.jpg)