Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Brain Rot: Generasi Kehilangan “Otak” Brilian

Anak-anak yang terbiasa bermain gim atau menonton video pendek lebih mudah marah, cemas, dan gelisah

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Nasir, Dosen Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban. 

 Otak anak kini bekerja dalam pola serba cepat, menolak jeda, dan menginginkan rangsangan tanpa henti. Mereka tumbuh dengan banyak informasi, namun miskin makna; penuh data, tetapi tanpa daya tafsir.

Dunia Bergerak, Kita Tertinggal

Bandingkan dengan Tiongkok dan Iran, dua negara dengan rata-rata IQ tertinggi di dunia. Berdasarkan International IQ Test (IIT) 2024, rata-rata IQ warga Tiongkok mencapai 107, sementara Iran 106,  jauh di atas rata-rata global 98. 

Dalam Olimpiade Sains Internasional 2024, Tiongkok menjadi runner-up global setelah Amerika Serikat, memborong medali emas di bidang matematika, fisika, dan komputer. 

Iran menempati posisi ketiga dunia dengan 10 emas, 10 perak, dan 2 perunggu, termasuk juara pertama Olimpiade Astronomi dan peringkat keempat Fisika.

Apa rahasianya?

Kedua negara ini menata paparan digital anak-anaknya secara ketat. TikTok versi Tiongkok (Douyin) hanya menampilkan konten edukatif dan sains, dengan waktu tayang maksimal 40 menit per hari. 

Pemerintah Iran membangun ekosistem digital berbasis riset dan literasi ilmiah, bukan hiburan kosong.

Negara-negara maju di Eropa pun sadar akan bahaya ini. Prancis telah melarang penggunaan ponsel di sekolah dasar dan menengah sejak 2018. 

Australia mengikuti pada 2024: siswa di bawah 15 tahun wajib menyerahkan ponsel di pintu sekolah. 

Belgia, Belanda, dan Swedia sedang mengadopsi kebijakan serupa, setelah menyimpulkan bahwa kecanduan gawai menurunkan daya fokus dan prestasi akademik.

Para pemimpin pendidikan di Eropa menyebut fenomena ini sebagai silent epidemic, epidemi sunyi yang merusak generasi tanpa disadari. 

Baca juga: Manusia, Predator Tanpa Taring

Mereka ingin menyelamatkan anak-anak dari dunia layar yang memenjarakan imajinasi.

Sementara di Indonesia, kita justru sering merayakan viralitas. Anak-anak menjadi selebritas kecil dengan video lucu, tarian pendek, atau prank yang ditonton jutaan orang. 

Di balik tawa dan sorak, kita lupa bahwa sedang tumbuh generasi yang kehilangan arah antara hiburan dan peradaban.

Melatih Anak Bersabar dan Disiplin: Kearifan Lama untuk Dunia Baru

Islam sejak awal telah mengajarkan disiplin dan kesabaran sejak dini. Anak dilatih berpuasa, shalat tepat waktu, dan menjaga kebersamaan dalam ibadah berjamaah. 

Semua itu bukan sekadar ritual, tetapi pelatihan struktur mental dan spiritual. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved