Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Brain Rot: Generasi Kehilangan “Otak” Brilian

Anak-anak yang terbiasa bermain gim atau menonton video pendek lebih mudah marah, cemas, dan gelisah

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Nasir, Dosen Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban. 

Dalam setiap ibadah ada latihan menunda keinginan, mengatur waktu, dan menundukkan ego, sesuatu yang kini mulai hilang di era digital yang serba instan.

Penelitian modern pun menguatkan kearifan ini. Eksperimen terkenal Marshmallow Test oleh Walter Mischel di Universitas Stanford menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda kepuasan (delayed gratification) tumbuh menjadi individu yang lebih kompeten, fokus, dan sukses. 

Mereka memiliki kontrol diri yang lebih kuat dan ketahanan mental dalam menghadapi stres.

Kebiasaan menunda kepuasan inilah fondasi utama dalam membangun konsentrasi dan daya tahan mental di era digital. 

Ketika anak mampu menunggu, menahan diri, dan tetap fokus pada Visi dan tujuan jangka panjang, ia sedang melatih otaknya untuk berpikir dalam, bukan sekadar bereaksi cepat.

Digital Parenting: Menjemput Kembali Kesadaran

Kini saatnya orang tua mengambil peran utama. Dunia digital tak bisa dihapus, tetapi bisa ditata ulang. Orang tua bukan sekadar pengawas, melainkan kurator dunia digital anak. 

Menyusun waktu layar, menciptakan ruang hening di rumah, membaca bersama, berdialog tanpa distraksi, semua itu adalah investasi jangka panjang bagi kecerdasan emosional dan reflektif anak.

Penelitian di Harvard University (2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki “zona tenang digital” di rumah, yakni waktu tanpa layar setiap hari, mengalami peningkatan signifikan dalam empati, daya ingat, dan ketekunan belajar. 

Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Hari Ini Dekati Rp 8 Juta Per Mayam, 17 Oktober 2025 Dijual Naik Segini

Artinya, pembatasan bukanlah bentuk larangan, melainkan pemulihan makna hidup di tengah bisingnya dunia virtual.

Digital parenting berarti menyusun ulang prioritas keluarga: bukan seberapa banyak anak menguasai aplikasi, tetapi seberapa dalam mereka mengenali dirinya sendiri. 

Dalam dunia yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti, mendengar, dan berpikir menjadi tanda kecerdasan sejati.

Menjemput Kembali Generasi Berpikir

Jika dibiarkan, kita akan menyaksikan generasi yang cepat meniru, tetapi lemah memahami; pintar menjawab, namun gagal bertanya; sibuk mencari data, tetapi kehilangan arah makna. 

Generasi Brain Rot bukanlah kutukan, melainkan peringatan.

Bahwa di tengah derasnya arus informasi, manusia tetap membutuhkan ruang untuk hening, berpikir, dan merasa. 

Kita perlu mengembalikan anak-anak pada kodratnya sebagai makhluk pembelajar yang utuh, yang tak hanya menggunakan otak untuk bereaksi, tetapi juga untuk mengolah makna hidup.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved