Kamis, 23 April 2026

Kupi Beungoh

Flexing: Dompet Tipis, Gaya Fantastis

Kita hidup di zaman ketika manusia rela berutang demi terlihat bahagia, dan negara berutang demi tampak berjaya.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Nasir, Dosen Program Magister Keuangan Islam Terapan, Politeknik Negeri Lhokseumawe; Penulis Buku Manajemen ZISWAF; Nazhir Yayasan Generasi Cahaya Peradaban. 

Laporan IMF Country Report on Indonesia (2024) mencatat utang pemerintah menembus Rp8.200 triliun, dengan beban bunga terus membengkak.

Tanpa pertumbuhan ekonomi riil seimbang, proyek semacam ini berisiko menjadi flexing structural, kemegahan di atas fondasi utang.

Paradoks muncul: negara bangga infrastruktur megah, namun masih berjuang menekan kemiskinan dan meningkatkan mutu pendidikan.

Bandingkan dengan Jepang atau Jerman yang menunda proyek prestisius demi riset teknologi: di sana kemajuan lahir dari laboratorium, bukan baliho.

Baca juga: VIDEO - Heboh! Ahmad Dhani Usul UU Anti-Flexing, Lita Gading Sindir: Otak Dangkal!

Negara Aset Membangun Nilai, Negara Liabilitas Membangun Gaya

Di balik budaya flexing tersembunyi akar persoalan yang lebih dalam: cara pandang terhadap kerja dan kekayaan.

Inilah jurang sesungguhnya antara negara maju dan berkembang, bukan hanya jumlah modal, tetapi cara menciptakan nilai.

Negara maju membangun kemakmuran melalui kerja asset, modal, ilmu, dan teknologi digunakan agar uang bekerja untuk manusia.

Kapital diolah menjadi produktivitas; pengetahuan dikonversi menjadi inovasi; kekayaan diarahkan untuk membangun daya bukan gaya.

Sebaliknya, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia masih berkutat dalam kerja otot.

Energi terkuras untuk rutinitas, bukan mencipta nilai.

Sering membeli beban (liabilitas) yang menambah biaya hidup, bukan aset yang menumbuhkan daya hidup.

Dalam semangat konsumtif dan gengsi sosial, utang pribadi maupun nasional menjadi jalan pintas untuk tampil berkelas.

Akibatnya, masyarakat bekerja keras hanya untuk membayar gaya hidup yang tak pernah mereka miliki sepenuhnya.

“Negara maju bekerja dengan kepala dan aset; negara berkembang masih berkeringat untuk membayar gaya.”

Kontras ini menjelaskan mengapa bangsa maju tumbuh meski tanpa sumber daya alam melimpah: mereka mengandalkan daya cipta, bukan daya gali; mengutamakan manajemen aset, bukan eksploitasi liabilitas.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved