Kupi Beungoh
Flexing: Dompet Tipis, Gaya Fantastis
Kita hidup di zaman ketika manusia rela berutang demi terlihat bahagia, dan negara berutang demi tampak berjaya.
Bank Indonesia (2024) melaporkan lonjakan transaksi paylater hingga 70 % di usia 20–35 tahun.
Fenomena ini melahirkan the illusion of prosperity, kemakmuran semu yang gemerlap di permukaan, namun rapuh di dasar.
Bank Dunia (2023) memperingatkan bahwa hampir 40 % kelas menengah Indonesia berada di ambang kerentanan finansial.
Algoritma media sosial memperkuat budaya pamer ini.
Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism menjelaskan: algoritma digital dirancang untuk memanen perhatian; dan konten mencolok menjadi bahan bakarnya.
Semakin mewah tampil, semakin besar peluang viral.
Dalam ekosistem seperti ini, pamer bukan pilihan, tetapi strategi bertahan hidup digital.
Psikolog Leon Festinger melalui social-comparison theory menjelaskan bahwa manusia menilai harga dirinya dari apa yang dilihat dari orang lain.
Media sosial memperluas ruang perbandingan ini hingga tanpa batas.
Laporan World Economic Forum (2023) menunjukkan perilaku show-off spending naik 28 % secara global pasca-pandemi.
Nilai kerja keras dan kesederhanaan tergeser oleh nilai tampilan, gengsi, dan eksistensi.
Baca juga: Budaya Flexing di Medsos Bisa Jadi Bibit Korupsi, Salsa Erwina Dorong Anak Muda Ciptakan Perubahan
Flexing Negara: Infrastruktur Megah, Beban Jangka Panjang
Jika individu bisa bangkrut karena gaya hidup, maka negara pun bisa terjerembap dalam ilusi yang sama, hanya saja skalanya lebih megah dan taruhannya lebih besar.
Proyek raksasa sering dijadikan simbol kebanggaan nasional tanpa transparansi atas beban jangka panjang.
Contoh: Kereta Cepat Whoosh dijual sebagai ikon kemajuan dan kecepatan.
Namun mayoritas pembiayaannya berasal dari utang luar negeri berbunga tinggi.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Nasir-Dosen-Program-Magister-Keuangan-Islam-Terapan-Politeknik-Negeri-Lhokseumawe.jpg)