Kupi Beungoh

Flexing: Dompet Tipis, Gaya Fantastis

Kita hidup di zaman ketika manusia rela berutang demi terlihat bahagia, dan negara berutang demi tampak berjaya.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Nasir, Dosen Program Magister Keuangan Islam Terapan, Politeknik Negeri Lhokseumawe; Penulis Buku Manajemen ZISWAF; Nazhir Yayasan Generasi Cahaya Peradaban. 

Oleh: Dr. Muhammad Nasir*)

Panggung Ilusi di Era Digital

Sejak dahulu manusia mendamba pengakuan.

Bedanya: dulu lewat karya, kini lewat citra.

Dunia digital menjadikan gengsi sebagai agama baru, disembah di layar, dipuja di unggahan.

Kita hidup di zaman ketika manusia rela berutang demi terlihat bahagia, dan negara berutang demi tampak berjaya.

Ketika citra menjadi segalanya: lebih penting dari realita, lebih berharga dari substansi.

Di media sosial, semua tampak berkilau: liburan ke luar negeri, mobil mewah, rumah estetik, hingga makan di restoran bintang lima.

Followers menjadi mata uang baru, dan gaya hidup menjadi alat ukur kesuksesan.

Namun di balik sorotan kamera banyak dompet menjerit, cicilan menumpuk, dan tabungan terkikis.

Inilah era flexing, budaya pamer kemewahan berdiri di atas fondasi utang dan kepalsuan.

Lebih dari gaya hidup, flexing menjelma ideologi sosial baru: diukur dari apa yang tampak, bukan apa yang bernilai.

Baca juga: Dari Ghosting hingga Flexing, Yuk Simak 15 Istilah Gaul Gen Z yang Makin Populer Belakangan Ini

Antara Gengsi, Algoritma, dan Realitas Ekonomi

Dalam studi behavioral finance, flexing dikenal sebagai pencarian validasi sosial melalui konsumsi simbolik.

Riset McKinsey Global Institute (2023) mencatat 64 persen generasi muda Indonesia membeli barang mewah bukan karena kebutuhan, melainkan demi pengakuan.

Ironisnya, survei Katadata Insight Center (2024) menunjukkan 73 % usia produktif hidup dengan utang konsumtif, termasuk paylater dan kartu kredit.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved