Kupi Beungoh
Flexing: Dompet Tipis, Gaya Fantastis
Kita hidup di zaman ketika manusia rela berutang demi terlihat bahagia, dan negara berutang demi tampak berjaya.
Sementara negara miskin justru tenggelam dalam kekayaan alam sendiri, menjual hasil bumi, membeli barang jadi, dan menambah utang demi pencitraan.
Dalam perspektif Islam, arah peradaban ekonomi umat seharusnya menuju kerja aset, bukan kerja konsumtif.
Maqashid syariah mengajarkan bahwa harta adalah amanah yang mesti dikembangkan untuk kemaslahatan.
Zakat, infak, dan wakaf produktif adalah wujud spiritual asset management, sistem di mana harta terus berputar dan memakmurkan banyak jiwa tanpa menindas siapa pun.
Bangsa yang hidup dari keringat semata akan cepat kelelahan; bangsa yang hidup dari pengetahuan akan terus bertumbuh.
Kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa keras kita bekerja, melainkan dari seberapa cerdas kita mengelola hasil kerja agar memberi manfaat luas.
Negara yang membangun nilai akan melahirkan martabat; negara yang membangun gaya hanya menambah beban sejarahnya sendiri.
Dalil dan Moralitas: Peringatan dari Langit
Ketika ekonomi kehilangan arah, nilai-nilai langit seharusnya menjadi kompasnya. Al-Qur’an mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa [4]: 36)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)
Imam Al-Ghazali, memperingatkan bahwa riya’ pamer kemewahan dan pencitraan diri adalah penyakit hati yang dapat menghapus nilai amal dan merusak tatanan sosial.
Amal yang dilakukan demi pandangan manusia, tulisnya, tak lagi berpahala di sisi Allah, sebab niatnya terkotori oleh ego dan hasrat untuk dipuji.
Dua pesan agung ini mengetuk nalar modern kita: ketika gaya hidup menjadi alat ukur martabat dan kemewahan identitas sosial, manusia sesungguhnya sedang memamerkan kehampaan.
Dalam pandangan Islam, harta tidak dilarang, tetapi berlebih-lebihanlah yang mencabut keberkahannya.
Uang sejatinya bukan untuk dipamer, melainkan dihidupkan menjadi aset produktif yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Solusi: Literasi, Etika Digital, dan Kesadaran Kolektif
Kita tidak cukup mengutuk budaya ini; kita perlu membangun arah baru.
Ada tiga langkah konkret.
Pertama, pendidikan finansial dan etika digital harus menjadi kurikulum wajib nasional.
Program Digital Financial Literacy for Youth harus diterapkan agar anak muda tidak tumbuh menjadi generasi paylater.
Singapura telah membuktikan efektivitasnya melalui integrasi literasi finansial sejak sekolah dasar.
Kedua, pemerintah harus mengedepankan paradigma value-based development.
Setiap proyek strategis nasional wajib disertai value impact assessment, bukan sekadar cost-benefit analysis.
Transparansi dan akuntabilitas publik bukan formalitas mereka adalah budaya.
Ketiga, masyarakat harus menumbuhkan budaya malu terhadap gaya hidup palsu.
Gerakan moral seperti #HidupApaAdanya bisa dibangun sebagai simbol perlawanan terhadap budaya pamer digital.
Komunitas seperti Zero Waste Indonesia dan Hidup Minimalis telah membuktikan bahwa kesederhanaan justru melahirkan kedamaian.
Lembaga keuangan syariah pun dapat berperan memperkuat literasi produktif berbasis zakat, infak, dan wakaf investasi.
Menolak Hidup Penuh Kepalsuan
Pada akhirnya, flexing bukan sekadar soal gaya hidup; ia adalah cermin dari kegelisahan sosial dan krisis makna.
Ketika bangsa lebih sibuk membangun citra daripada karakter, lebih bangga pada utang daripada kemandirian, sejatinya kita sedang mendirikan istana di atas pasir.
Ali bin Abi Thalib pernah berpesan: “Tak perlu engkau menjelaskan dirimu kepada musuhmu, karena mereka takkan percaya. Dan tak perlu pula menjelaskan kepada sahabatmu, karena mereka tak memerlukan itu.”
Nilai sejati tidak perlu dipamerkan; ia cukup dibuktikan lewat integritas dan kebermanfaatan.
Bangsa yang hebat bukanlah yang paling gemerlap, tetapi yang paling jujur dalam kesederhanaan, paling tenang dalam kekuatan, dan paling tulus dalam membangun.
Anak-anak kita tak butuh orang tua yang kaya gaya, tetapi orang tua yang waras secara finansial.
Mereka tak butuh rumah mewah, tetapi rumah yang damai dari tekanan sosial.
Sebab sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling banyak berutang untuk tampil mewah, melainkan siapa yang paling ikhlas bekerja untuk menyejahterakan.
Wallahu’alam bissawab.
*) PENULIS adalah Dosen Tetap pada Program Studi Magister Keuangan Islam Terapan, Politeknik Negeri Lhokseumawe Peneliti Sosial–Kemasyarakatan & Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi dari setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Nasir-Dosen-Program-Magister-Keuangan-Islam-Terapan-Politeknik-Negeri-Lhokseumawe.jpg)