Kupi Beungoh

Menafsir Penolakan Konser Musik di Aceh

Musik pernah dituding sebagai penyebab runtuhnya Islam Andalusia, dan simplifikasi sejarah berabad lalu itu kini kembali menggema di Aceh. 

Editor: Amirullah
ist
Akhsanul Khalis - Direktur Bidang Politik dan Kebijakan Publik, Lembaga ESGE Study Center 

Oleh: Akhsanul Khalis 

Musik pernah dituding sebagai penyebab runtuhnya Islam Andalusia, dan simplifikasi sejarah berabad lalu itu kini kembali menggema di Aceh. 

Setiap kali rencana konser diselenggarakan, perdebatan pun berulang: dalil dikutip, dihukum maksiat, moral publik digugat, seolah musik adalah ancaman paling nyata bagi jati diri orang Aceh. 

Ironisnya, banyak anak muda yang getol menolak konser di ruang publik justru mengaku menikmati musik lewat aplikasi Spotify cara menikmati musik lebih kekinian.

Musik yes, konser no. Fenomena ini kian menarik karena memperlihatkan ketegangan antara kesalehan yang ditampilkan ke publik dan kebutuhan kultural yang tak pernah benar-benar hilang.

Musik dan Islam

Sebelum berbicara konteks Aceh panjang lebar, kita tarik dulu jauh ke belakang dalam tradisi Islam. Pada dasarnya mengharamkan musik tidak pernah sejelas yang sering digembar-gemborkan.

Al-Qur’an tidak memberi larangan dengan dalil Qath’i sebagaimana pelarangan khamar (minuman keras). Hadis pun beragam, sahih, sebagian lemah, sebagian kontekstual. 

Ulama berbeda pendapat sepanjang sejarah: ada yang melarang total, ada yang membolehkan sebagian, dan ada yang memandang musik sebagai sarana spiritual. 

Di balik perdebatan teks haram atau halalnya musik, perlu dilihat dari perspektif material dan hubungan ekologis Arab masa itu.  Pada masa pra Islam atau bisa disebut era kejatuhan moral bangsa Arab.

Musik hadir dalam pesta minum, percampuran laki-laki dan perempuan, perayaan hedonis pedagang; bangsawan suku, beserta lirik-liriknya erotis. Sebaliknya masyarakat bawah mengalami kondisi melarat, keterbatasan sumber daya ketika musim paceklik. 

Baca juga: 7 Daftar Layanan Petugas Haji Tahun 2026, Pilih yang Cocok saat Daftar! Usia Minimal 25 Tahun

Gaya hidup yang tak terkendali itu bertabrakan dengan kode etik masyarakat tribal Arab, yang hidup dalam alam keras dan serba terbatas. Demi bertahan, mereka mengandalkan kontrol konsumsi pangan, seksualitas, solidaritas klan, dan stabilitas keluarga. 

Islam datang dari pihak masyarakat yang selama ini dimarginalisasi secara ekonomi dan sosial oleh kelompok dominan Mekkah ketika itu. Kemudian menata kembali segenap moral publik, distribusi kekayaan dan reproduksi.

Alhasil melahirkan struktur sosial baru, yang menekan konsep hidup sesuai dengan Al Quran dan hadis. 

Gambaran ini tidak seragam. Tiga abad kemudian kekuasaan imperium Islam berkembang, di pusat-pusat budaya seperti Andalusia, Damaskus, dan Baghdad, akulturasi budaya terjadi antara Arab  dengan sisa budaya Persia dan Romawi.

Musik semakin melekat pada gaya hidup hedonis istana: terlihat dari keberadaan para qiyan, penyanyi perempuan yang menghibur bangsawan dan elite. 

Selain itu, tokoh-tokoh berdarah Persia seperti Ziryab dan Ishaq al-Mawsili lahir sebagai seniman yang memajukan tradisi musik dunia Arab.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved