Kupi Beungoh
Menafsir Penolakan Konser Musik di Aceh
Musik pernah dituding sebagai penyebab runtuhnya Islam Andalusia, dan simplifikasi sejarah berabad lalu itu kini kembali menggema di Aceh.
Pelarangan konser musik, lain ceritanya bagi politisi dan elit kekuasan. Kepentingan pelarangan konser sering menjadi persoalan jauh lebih pragmatis.
Masa bodoh perkara halal haram musik para politisi dan elite, mereka tak perlu cemas kalau ingin menikmati konser, glamoritas hiburan, cukup di luar Aceh.
Mereka akan cemas dan khawatir jika dicap liberal atau anti-syariat. Dalam logika elektoral, menentang pelarangan terasa terlalu mahal ongkosnya.
Lebih aman tampil puritan, menjaga suara mayoritas, dan membiarkan narasi syariat bekerja sebagai tameng politik. Musik, sekali lagi, bukan inti masalah. Hal paling menentukan adalah kalkulasi dukungan.
Sementara itu pada posisi lain, aparat keamanan memandang konser dari kacamata berbeda.
Bagi mereka, kerumunan selalu mengandung potensi chaos. Entah ini gejala masyarakat pasca-konflik, kebutuhan akan kontrol keamanan sering muncul lebih kuat dari sebelumnya, menjadi semacam garansi stabilitas.
Mereka takut bentrokan, takut keributan kecil berubah besar, dan enggan mengambil resiko di tengah situasi sosial Aceh yang mudah tersulut sensitivitas keagamaan dan merusak perdamaian.
Ketika kelompok vigilante (centeng) agama menjadi aktor moral paling dominan, aparat memilih bertindak preventif. Larangan konser adalah cara meminimalkan friksi, bukan penilaian atas moralitas musik itu sendiri.
Sebagai penutup, seandainya, siapa tahu seratus tahun kedepan, generasi lama berganti dengan generasi baru Aceh yang lebih terbuka. Ketika mereka membuka lembaran sejarah, tiba-tiba mereka bertanya, mengapa Aceh pernah melarang konser musik?” jawabannya bukan karena buta nada, bukan sekedar dalil-dalil normatif dan moralis, jawabannya ada pada kompleksitas struktur sosial-ekonomi yang masih mencari bentuk dan keseimbangan di tengah bayang-bayang trauma masa lalu dan perebutan sumber daya.
Penulis: Peneliti Bidang Politik dan Kebijakan Publik, Lembaga ESGE Study Center Email: Akhsanfuqara@gmail.com
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
kupi beungoh
Konser Musik di Aceh
konser musik
konser musik dibubarkan
penolakan konser di Aceh
Serambi Indonesia
Akhsanul Khalis
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
| Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ |
|
|---|
| Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna |
|
|---|
| Mahasiswa, JKA, Tukin, dan Pokir: Mengapa Rakyat Harus Membayar dengan Kesehatan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akhsanul-Khalis-19.jpg)