Senin, 18 Mei 2026

Kupi Beungoh

Menafsir Penolakan Konser Musik di Aceh

Musik pernah dituding sebagai penyebab runtuhnya Islam Andalusia, dan simplifikasi sejarah berabad lalu itu kini kembali menggema di Aceh. 

Tayang:
Editor: Amirullah
ist
Akhsanul Khalis - Direktur Bidang Politik dan Kebijakan Publik, Lembaga ESGE Study Center 

Pelarangan konser musik, lain ceritanya bagi politisi dan elit kekuasan. Kepentingan pelarangan konser sering menjadi persoalan jauh lebih pragmatis.

Masa bodoh perkara halal haram musik para politisi dan elite, mereka tak perlu cemas kalau ingin menikmati konser, glamoritas hiburan, cukup di luar Aceh. 

Mereka akan cemas dan khawatir jika dicap liberal atau anti-syariat. Dalam logika elektoral, menentang pelarangan terasa terlalu mahal ongkosnya.

Lebih aman tampil puritan, menjaga suara mayoritas, dan membiarkan narasi syariat bekerja sebagai tameng politik. Musik, sekali lagi, bukan inti masalah. Hal paling menentukan adalah kalkulasi dukungan.

Sementara itu pada posisi lain, aparat keamanan memandang konser dari kacamata berbeda.

Bagi mereka, kerumunan selalu mengandung potensi chaos. Entah ini gejala masyarakat pasca-konflik, kebutuhan akan kontrol keamanan sering muncul lebih kuat dari sebelumnya, menjadi semacam garansi stabilitas. 

Mereka takut bentrokan, takut keributan kecil berubah besar, dan enggan mengambil resiko di tengah situasi sosial Aceh yang mudah tersulut sensitivitas keagamaan dan merusak perdamaian.

Ketika kelompok vigilante (centeng) agama menjadi aktor moral paling dominan, aparat memilih bertindak preventif. Larangan konser adalah cara meminimalkan friksi, bukan penilaian atas moralitas musik itu sendiri.

Sebagai penutup, seandainya, siapa tahu seratus tahun kedepan, generasi lama berganti dengan generasi baru Aceh yang lebih terbuka. Ketika mereka membuka lembaran sejarah, tiba-tiba mereka bertanya, mengapa Aceh pernah melarang konser musik?” jawabannya bukan karena buta nada, bukan sekedar dalil-dalil normatif dan moralis, jawabannya ada pada kompleksitas struktur sosial-ekonomi yang masih mencari bentuk dan keseimbangan di tengah bayang-bayang trauma masa lalu dan perebutan sumber daya. 

 

Penulis: Peneliti Bidang Politik dan Kebijakan Publik, Lembaga ESGE Study Center Email: Akhsanfuqara@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved