Kupi Beungoh
Curah Hujan Tinggi, Air Naik Dimana-mana? Aceh Perlu Pertobatan Ekologis!
Aceh, kini menjadi daerah yang rawan dilanda banjir bila musim penghujan datang dan curah hujan meningkat tinggi
Oleh: Teuku Alfin Aulia
Dulu, bencana banjir besar disertai longsor seolah hanya sering terlihat dibalik layar televisi, kala stasiun pemberitaan nasional sedang meliput kejadian banjir tahunan yang menimpa kawasan diluar Aceh.
Kawasan-kawasan kosmopolitan dan pemukiman padat penduduk yang kebanyakannya berpusat dipulau jawa, sudah menjadi langganan headline news saat curah hujan tinggi datang.
Rumah-rumah yang tenggelam, warga yang terpaksa mengungsi, bencana longsor terjadi, hingga tak sedikit pemandangan bangunan hanyut terbawa air tak sedikit yang diliput dalam pemberitaan televisi nasional.
Namun pemandangan yang dulu hanya kita lihat dibalik layar, kini seolah menjadi sebuah kenyataan yang kita dapati setiap curah hujan meninggi. Air banjir, kini sudah menjadi tamu langganan yang datang setiap waktu kapanpun curah hujan tinggi.
Ruas jalan nasional yang tertutupi banjir, bangunan yang hanyut dibawa air, hingga korban banjir yang butuh dievakuasi, kini menjadi kabar yang dengan mudah terlihat disekitar kita, seiiring dengan mudahnya akses informasi menyebar dan didapat.
Baca juga: BMKG Peringatkan Aceh Siaga Cuaca Ekstrem, Bibit Siklon Tropis 95B Kian Menguat
Aceh, kini menjadi daerah yang rawan dilanda banjir bila musim penghujan datang dan curah hujan meningkat tinggi, dan ini semua terjadi karena kurangnya kesiapan seluruh pihak dalam menangani dan mengantisipasi bencana ini.
Banjir bukanlah sebuah bencana yang terjadi secara tiba-tiba atau lahir dengan sendirinya. Banjir sejatinya lahir dari proses kerusakan alam panjang yang memengaruhi alur penyerapan dan membuat pengaliran air terganggu.
Ibaratnya selama ini setiap tetesan air yang jatuh sudah tahu, akan diserap oleh tanah yang mana. Curug, sungai, lereng, perbukitan, dan hutan sudah menjadi kawasan tempat debit air yang turun terdistribusi dengan baik tanpa mengganggu manusia.
Manusia tak perlu mengajari alam tentang keseimbangan, alam memiliki proses naluriahnya untuk menjaga keseimbangannya. Alamlah yang selama ini terganggu keseimbangannya karena ulah manusia itu sendiri.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru yang dilakukan oleh Yayasan HAkA, telah terjadi kehilangan tutupan hutan sebesar 10.610 Ha di Provinsi Aceh sepanjang 2024. Angka kehilangan tutupan hutan tersebut mengalami kenaikan sebesar 19 persen atau 1.705 Ha dibandingkan dengan yang terjadi pada 2023.
Tren laju kehilangan tutupan hutan di Provinsi Aceh terus mengalami kenaikan hingga setiap tahunnya. Pada tahun 2024, tutupan hutan Aceh tersisa 2.936.525 Ha. Padahal dua tahun sebelumnya, tepatnya ditahun 2020, Aceh memiliki 3.4 juta hektar Hutan alam.
Baca juga: BMKG Peringatkan Aceh Dilanda Cuaca Ekstrem, Prediksi Hujan Sangat Lebat Hingga Angin Kencang
Dari tahun 2001 hingga 2024, Aceh telah kehilangan sekitar 860 ribu hektar tutupan pohon diseluruh hutannya.
Aceh nyaris menduduki posisi ke-9, sebagai provinsi dengan tingkat deforestasi hutan tertinggi di Indonesia. Kawasan yang kini dilanda banjir, layaknya Aceh Utara dan Aceh Timur, masing-masing kehilangan hampir 59 ribu (Aceh Utara) dan 93 ribu (Aceh Timur) wilayah hutannya.
Deforestasi hutan secara berlebihan, terjadi akibat pengerukan perbukitan secara membabi buta, untuk kawasan pemukiman baru. Pembukaan lahan perkebunan sawit yang berlebihan, pembakaran hutan, serta penyempitan area aliran sungai tambah memperparah bencana ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Alfin-Aulia-Founder-Halaqah-Aneuk-Bangsa-11.jpg)