Kupi Beungoh
Curah Hujan Tinggi, Air Naik Dimana-mana? Aceh Perlu Pertobatan Ekologis!
Aceh, kini menjadi daerah yang rawan dilanda banjir bila musim penghujan datang dan curah hujan meningkat tinggi
Seolah kita sendirilah yang sebenarnya membuat sebab, sehingga alam membalas dengan meluapkan airnya ke pemukiman kita, menggagalkan panen padi kita, menelan ternak kita, menutup gerak ekonomi kita, dan merenggut orang yang kita cintai.
Padahal, salah satu amanat yang pernah disampaikan oleh Alm. PYM Wali, Hasan di Tiro saat kembali menapaki bumi Aceh yang diperjuangkannya itu, adalah _“peseulamat uteun Aceh!” (selamatkanlah hutan Aceh).
entah apa yang mendasari Wali mengamanatkan hal tersebut, seakan dengan mata yang tajam, beliau sedang melihat arah bangsanya. Wali sangat sadar bahwa hutan Aceh adalah martabat rakyat Aceh yang harus terus dijaga kelestariannya.
Pemerintah Aceh dan seluruh instansi terkait harus tegas dalam menangani masalah ilegal fogging yang selama ini terjadi dengan begitu saja terhadap hutan Aceh, sehingga aneka masalah ekologis menjadi hal yang benar-benar mengganggu gerak masyarakat belakangan ini.
Seluruh elemen masyarakat juga sudah selayaknya segera melakukan pertaubatan ekologis, dengan bersama-sama menjaga “uteun Aceh”.
Datangnya bencana memang sering dikaitkan dengan kerusakan moral manusia, karenanya seruan meninggalkan maksiat dan kembali kepada Allah SWT, merupakan hal yang senantiasa diulang ketika musibah datang.
Hal ini tentu baik dan tidak salah, namun alangkah lebih baiknya bila pertaubatan ini juga diiringi dengan pertaubatan ekologis. Karena sejatinya, manusia sebagai makhluk komunal tak hanya memiliki hak terhadap tuhan saja. Mereka juga memiliki kewajiban untuk menjaga hak alam, yang juga merupakan sesama makhluk tuhan yang diciptakan disekitar mereka.
Saya kira cukup banyak sudah, hadist-hadist dan ayat-ayat berkaitan pertaubatan ekologis, yang senantiasa dibawakan oleh para da'i dan khatib diatas mimbar sehingga tak perlu disebutkan satu persatu.
Tinggal kapankah kita sebagai bangsa beradab bisa sadar, pentingnya merawat alam dengan sebaik-baik mungkin. Bila dengan dosa satu orang, satu kampung bisa kena bencana, maka tak ada akibat yang lebih nyata ditanggung oleh sebuah kelompok, kecuali diakibatkan oleh kelalaian ekologis mereka.
Penulis adalah founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Alfin-Aulia-Founder-Halaqah-Aneuk-Bangsa-11.jpg)