Opini

Banjir bukan 'Takdir' Aceh

SETIAP tahun, ketika Aceh memasuki bulan yang berakhiran “ber”--September hingga Desember--risiko banjir meningkat secara konsisten.

Editor: mufti
Serambinews.com
Dr Cut Azizah, Dosen Universitas Almuslim dan Ketua Pusat Kajian DAS Peusangan 

Dr Cut Azizah, Dosen Universitas Almuslim dan Ketua Pusat Kajian DAS Peusangan

SETIAP tahun, ketika Aceh memasuki bulan yang berakhiran “ber”--September hingga Desember--risiko banjir meningkat secara konsisten. Data bencana 18 tahun terakhir (2007–2025) menunjukkan bahwa puncak banjir di Aceh hampir selalu terjadi pada November dan Desember. Siklus tahunan ini telah dikenal masyarakat, namun kejadian beberapa hari terakhir kembali menunjukkan bahwa meskipun pola sudah dapat diprediksi, tingkat kesiapsiagaan kita masih belum memadai.Dalam lima hari terakhir (20-25 November 2025), Aceh mengalami hujan berturut-turut yang memicu banjir di sejumlah wilayah. Aceh Utara mengalami banjir di enam hingga tujuh kecamatan akibat meluapnya Krueng Jambo Aye, Krueng Pase, dan Krueng Keureuto. Aceh Timur mencatat lebih dari 3.700 rumah terendam. Aceh Singkil, Aceh Selatan, Bireuen, Subulussalam, Lhokseumawe, dan Gayo Lues melaporkan berbagai bentuk banjir, mulai dari genangan permukiman hingga banjir sawah yang menurunkan produktivitas lahan. Kejadian ini memperkuat fakta bahwa pola hujan beruntun selama beberapa hari merupakan indikator awal yang sangat kuat terhadap potensi banjir di Aceh.

BMKG telah memperingatkan bahwa akhir 2025 hingga awal 2026 dipengaruhi oleh La Nina lemah, yang meningkatkan suplai udara lembab dan memperbesar curah hujan di Aceh. Pada kondisi ini, durasi hujan cenderung lebih panjang dan kejadian hujan intens dapat terjadi secara berulang dalam periode pendek. Kombinasi antara La Nina dan musim basah regional ini cukup untuk menaikkan risiko hidrometeorologi di berbagai daerah aliran sungai (DAS) di Aceh.

Namun curah hujan tinggi bukan satu-satunya penyebab banjir. Masalah yang lebih mendasar terletak pada penurunan kapasitas lahan dan sungai dalam mengelola air. Perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun terakhir telah mengubah karakter hidrologi DAS secara signifikan. Salah satu gambaran paling jelas terlihat pada hasil penelitian hidrologi di DAS Keureuto, yang mencakup area luas dan berperan penting bagi Aceh Utara.

Dalam periode 1990–2024, tutupan lahan di DAS Keureuto berubah secara drastis. Permukiman meningkat 82,9 persen, lahan terbuka naik 77,4 % , dan semak-belukar bertambah 45,2 % . Pada saat yang sama, hutan primer menurun 21,1 % , dan hutan sekunder berkurang 23,1 % . Perubahan ini secara langsung mempengaruhi kemampuan lahan menyerap air. Hal ini terlihat dari kenaikan Curve Number (CN) dari 69,5 menjadi 71,9, yang berarti kemampuan serapan tanah menurun dan limpasan permukaan meningkat.

Temuan paling penting adalah peningkatan koefisien limpasan (C). Secara sederhana, hampir seluruh air hujan yang jatuh di DAS ini kini langsung mengalir sebagai limpasan. Dampaknya terlihat jelas: dengan hujan yang sama, DAS Keureuto kini menghasilkan limpasan dari 1,7 miliar m⊃3; (1990) menjadi 2,57 miliar m⊃3; (2024). Ini adalah peningkatan lebih dari 800 juta m⊃3; air yang bergerak menuju kawasan hilir, termasuk daerah pemukiman dan pusat kegiatan masyarakat.

Pemicu banjir

Jika kondisi ini dihubungkan dengan hujan lima hari berturut-turut seperti yang terjadi pekan ini, maka risiko banjir menjadi sangat tinggi. Berdasarkan penelitian hidrometeorologi yang saya lakukan, pola hujan berturut-turut selama lima hari adalah indikator paling konsisten yang mendahului kejadian banjir besar di Aceh. Pada satu hingga dua hari pertama, sebagian air masih dapat diserap oleh tanah. Namun setelah hari keempat dan kelima, tanah jenuh, infiltrasi menurun, dan sungai mulai kehilangan kapasitas tampung. Hasilnya adalah peningkatan debit yang signifikan pada sungai.

Penelitian hidrologi di DAS Jambo Aye juga menunjukkan pola serupa. Selama dua dekade terakhir, peningkatan perkebunan dan permukiman di bagian tengah DAS memperbesar limpasan hingga 25–30 % . Analisis tahun 2021 menunjukkan bahwa debit puncak Krueng Jambo Aye kini tercapai lebih cepat ketika terjadi hujan beruntun lima hari mencerminkan penurunan kapasitas tampung tanah dan sungai.

Penelitian pada kawasan hulu Danau Laut Tawar memperlihatkan adanya tekanan hidrologi yang kuat akibat tingkat erosi yang tinggi. Kajian tahun 2023 menunjukkan bahwa 66?erah tangkapan air berada dalam kategori rawan hingga sangat rawan erosi, dengan 37 titik longsor aktif di sepanjang tebing danau yang terus memasok sedimen ke hilir. Akumulasi sedimen ini menyebabkan Sungai Peusangan yang berhulu di Aceh Tengah, mengalir melalui Bener Meriah, dan berakhir di wilayah hilir Kabupaten Bireuen, menjadi semakin dangkal. Kondisi tersebut membuat sungai lebih mudah meluap ketika terjadi hujan berintensitas tinggi.

Kajian hidrologi di DAS Tamiang memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah hulu masuk kategori rawan hingga sangat rawan banjir bandang. Deforestasi dan penurunan infiltrasi menyebabkan limpasan meningkat tajam, sehingga hujan harian 100–150 mm saja sudah mampu memicu banjir besar. Temuan ini sejalan dengan kejadian banjir berulang yang melanda Aceh Tamiang selama satu dekade terakhir.

Pemicu banjir tidak hanya berasal dari hulu. Di wilayah pesisir Aceh Utara dan Bireuen, hilangnya rawa/paya dan lahan basah mempersempit zona retensi alami yang selama ini berfungsi menahan air secara sementara sebelum mengalir ke laut. Di dataran tinggi seperti Gayo Lues, lereng yang terdegradasi memperbesar risiko erosi dan membawa sedimen ke sungai, mempercepat pendangkalan dan menurunkan kapasitas tampung sungai di hilir. Kondisi ini menciptakan sistem hidrologi yang rentan: air datang lebih cepat dari hulu, namun sungai dan dataran rendah tidak dapat lagi menampungnya.

Banjir bukan 'takdir'

Selain masalah biofisik, faktor sosial dan tata kelola lingkungan juga memegang peranan penting. Di banyak desa dan kota, saluran drainase tidak terpelihara, parit tersumbat sampah, dan aliran air terhambat oleh sedimen dan tumbuhan liar. Pada tingkat rumah tangga, mitigasi sederhana seperti membersihkan parit, memastikan pintu air tidak tersumbat, atau menyiapkan tas siaga sering kali belum menjadi kebiasaan. Padahal tindakan sederhana ini berdampak signifikan dalam mengurangi tinggi genangan dan adaptasi sederhana terkait banjir.

Namun demikian, Aceh juga memiliki contoh baik dari komunitas yang mampu membangun kesiapsiagaan secara mandiri. Beberapa desa di kawasan hulu, seperti Damaran Baru di Bener Meriah, telah mengembangkan mekanisme patroli sungai dan pembersihan material longsoran secara rutin untuk mencegah penyumbatan aliran yang dapat mengakibatkan banjir bandang. Praktik ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan tindakan kolektif dapat menjadi komponen kunci dalam mitigasi banjir, bahkan tanpa intervensi proyek besar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved