Opini
‘Demam Panggung’
PEMBANGUNAN panggung permanen di Taman Sari (Serambi, 20/7/2018), telah membuka ruang diskusi tentang urgensi
Belum optimal
Perhatian pemerintah terhadap RTH di Banda Aceh selama ini patut diapresiasi, tetapi sempitnya interpretasi konsep jejaring RTH melahirkan kegiatan “pembangunan” yang sepotong-sepotong dan bervisi jangka pendek. Ini, misalnya, terlihat pada pembangunan pedestrian yang tidak menghubungkan satu pusat aktivitas dengan pusat aktivitas lain, pemagaran RTH dengan pagar masif, termasuk pembangunan panggung permanen di Taman Sari. Upaya menghadirkan elemen alami secara kreatif dan edukatif juga belum optimal.
Di Belanda misalnya, lanskap taman merupakan bagian dari sistem pengendalian banjir. Di kota lain, elemen buatan yang sudah terlanjur dibangun bahkan direnovasi kembali menjadi elemen alami, tetapi dengan nilai tambah inovasi teknologi. Contohnya, sungai di Seoul, Korea Selatan, yang terlanjur menjadi selokan tertutup beton dikembalikan menjadi sungai terbuka yang bersih.
Contoh lain yang lebih esktrem adalah Taman Bishan di Singapura yang merupakan proyek multi-tahun dengan tujuan merevitalisasi badan air dari sekadar selokan beton menjadi taman daerah aliran sungai bertepian alami dengan sentuhan teknologi (misalnya soil bioengineering), sehingga berperan besar dalam manajemen air hujan dan hidrologi perkotaan. Taman Highline di New York adalah bekas jalan tol yang diubah menjadi taman linear.
Semua proyek RTH tersebut dipayungi kebijakan berbasis riset yang membuktian bahwa manfaat jangka panjang elemen alami ini lebih besar dari pada keuntungan komersial jangka pendek pembangunan elemen buatan.
Singapura juga mempunyai jalur penghubung taman (park connector) yang terintegrasi dengan sistem transportasi dan manajemen hidrologi perkotaan dan keaneka ragamanhayati. Taman dan jalur penghubung taman ditata sedemikian rupa sehingga bermanfaat bukan hanya bagi keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi untuk keberlanjutan kota yang termasuk di dalamnya manusia dan makhluk hidup lainnya.
Kembali pada isu panggung permanen di Taman Sari, beberapa pihak berargumen bahwa panggung ini keinginan masyarakat dan akan berguna bagi masyarakat. Sejauh pemantauan penulis, belum pernah dipublikasikan adanya penjaringan aspirasi masyarakat untuk pengembangan Taman Sari. Namun kita bisa merujuk pada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap satu RTH, yaitu Kawasan Tepian Krueng Aceh dalam Pusat Kota (Agustina dan Gani, 2010).
Hasil penelitian antara lain mengungkapkan bahwa aspek yang paling disukai, dihargai dan direkomendasikan sebagai prioritas adalah elemen alami bukan elemen buatan. Urutan preferensi warga; tanaman di bantaran sungai (40%); ketenangan air mengalir (30%); pedestrian (11%), olahraga air (7%), aktivitas nelayan dan pelabuhan (6%), pertokoan dan komersial (1%), serta lain-lain (4%).
Data tersebut menegaskan, perlunya melibatkan masyarakat dalam perencanaan bukan semata melalui mekanisme perwakilan di DPRK. Satu cara yang sudah sering dibicarakan adalah dengan membentuk Dewan Kota sebagai badan independen yang bertugas mencermati usulan pembangunan yang melibatkan lokasi strategis termasuk di dalamnya RTH dan situs pusaka.
Alternatif lain adalah dengan tranparansi informasi dan penyediaan ruang dialog dalam berbagai tahapan perencanaan. Misalnya, sebelum pelaksanaan pembangunan, dokumen rencana/rancangan dipublikasikan selama satu bulan di media massa atau galeri kota. Selama itu, masyarakat bisa mempelajari dan memberikan masukan sebelum kemudian proyek dilaksanakan.
Semoga wacana yang telah berkembang dan akumulasi informasi dari berbagai pihak dapat menjadi hikmah, bukan saja untuk Taman Sari yang lebih baik, tetapi untuk Banda Aceh yang berkelanjutan.
* Sylvia Agustina, ST, MUP., Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota JAPFT-Unsyiah, mahasiswi Program Doktor bidang Ekologi Perkotaan di National University of Singapore, Singapura. Email: sylvia.aceh@gmail.com
* Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili lembaga yang berafilasi dengan penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/panggung-taman-sari_20180722_231113.jpg)