Misi Terakhir Penyamaran Kapten Hirath Al Sudani, Intel Ternama Irak yang Menyusup ke Basis ISIS
Pengemudi itu khawatir karena jalanan Irak yang amat kacau itu bisa membuat bom itu meledak setiap saat
Seperti biasa, dia menghubungi Falcons untuk mendiskusikan lokasi mereka akan mencegat mobil yang dibawanya.
Baca: Bripka Marhum Prencje, Intel Brimob yang Tewas Ditusuk di Mako Brimob, Pelakunya Tewas Ditembak

Namun, celaka. Rencana itu terbongkar tak lama setelah Al Sudani keluar dari jalanan utama menuju ke rumah aman Falcons.
Dalam perjalanan telepon genggamnya berdering. Dari komandan dari Mosul menanyakan lokasinya.
Al Sudani harus mengangkat telepon itu dan berusaha meyakinkan sang komandan bahwa dia tengah menuju target.
Namun, sang komandan tak mempercayai Al Sudani dan di tengah kepanikan itu, Al Sudani harus mencari alasan yang tepat.
Dia mengatakan, Mosul telah memberinya petunjuk yang salah sehingga dia berbelok di jalan yang berbeda.
Baca: ISIS Perintahkan Pengikutnya Bom Negara Lain, Kenapa tak Serukan Serang Israel?
Ketakutan, Al Sudani menghubungi rekan-rekannya di Falcons. Dia mengatakan, membutuhkan lokasi pertemuan yang tak jauh dengan lokasi serangan.
Dia lalu mengemudikan kembali mobil itu ke jalan yang menuju ke pasar Al Jdeidah, Baghdad, yang menjadi target serangan.
Sang saudara Manaf, yang merupakan anggota tim pengejar, menggunakan isyarat tangan untuk mengarahkan Al Sudani ke lokasi pertemuan.
Di tempat itu, delapan agen Falcons menjinakkan bom. Mereka mencabut detonator elektronik, 26 kantong C4, amonium nitrat, dan bola-bola gotri yang diletakkan di sasis serta panel-panel pintu kendaraan itu.
Beberapa menit kemudian, Al Sudani kembali ke jalanan menuju pasar dan memarkir mobil itu di lokasi yang sudah ditentukan.
Baca: ISIS Ancam Kota San Francisco Dengan Serangan Udara

Beberapa saat sebelum pergantian tahun, sejumlah media berbahasa Arab mengutip pejabat keamanan Irak yang menyebut sebuah truk meledak di luar bioskop Al Bayda, Baghdad di Al Jdeidah tanpa menjatuhkan korban.
Kali ini, misi Al Sudani sukses. Namun, tanpa disadari Al Sudani, ISIS telah memasang dua alat penyadap di truk itu.
Sehingga mereka bisa mendengarkan pembicaraan Al Sudani dan Falcons.
"Dia merasa diawasi. Kami tidak menyadari itu," kata Jenderal Sa'ad Al Falih, atasan langsung Al Sudani.
Misi terakhir Pada awal Januari 2017, ISIS kembali memerintahkan Al Sudani melakukan sebuah misi yang akan menjadi misi terakhirnya.
Baca: Dalangi Pembakaran Pilot Jordania Hidup-hidup, Komandan ISIS Ditangkap di Irak
Dia dikirim ke sebuah lokasi baru, sebuah pertanian di luar kota Tarmiyah.
Lokasi itu amat terpencil dan tak memiliki rute melarikan diri yang mudah.
Pada 17 Januari pagi, Al Sudani memasuki pertanian itu. Dan senja hari, barulah Falcons memberitahu Jenderal Falih bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi terhadap Al Sudani.
Tarmiyah saat itu masih dikuasai ISIS sehingga butuh waktu tiga hari pasukan Irak menyusun rencana dan melakukan operasi penyelamatan.
Pasukan gabungan angkatan darat dan polisi dikerahkan menyerbu pertanian itu. Dalam baku tembak satu personel pasukan Irak tewas.
Baca: ISIS Klaim Dalang Serangan Bom Bunuh Diri yang Tewaskan 57 Orang di Kabul

Saat bangunan itu dikuasai, mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Al Sudani. Dan, selama enam bulan selanjutnya Falcons terus mencari Al Sudani.
Setelah menemukan alat penyadap di truk yang dibawa Al Sudani, para informan menyebut ISIS telah membawa Al Sudani ke Qaim.
Kota itu masih berada di bawah kekuasaan ISIS dan di luar jangkauan pasukan pemerintah Irak.
Pada Agustus 2017, ISIS merilis video yang memperlihatkan mereka mengeksekusi sejumlah tahanan. Falcons yakin Al Sudani ada di antara mereka.
"Saya tak perlu melihat wajahnya untuk mengenali saudara saya," ujar Munaf.
Baca: VIDEO Pasukan Khusus AS Serbu Markas ISIS di Afganistan Berlangsung Dramatis
Meski akhirnya tewas, Al Sudani menjadi agen mata-mata yang ternama di Irak.
Komando pasukan gabungan kemudian menerbitkan pernyataan tentang pengorbanan dan keberanian Kapten Al Sudani.
Namun, karena jenazah Al Sudani tak pernah ditemukan, keluarga sang kapten belum menerima sertifikat kematian.
Padahal sertifikat itu penting untuk mendapatkan tunjangan bagi keluarga aparat keamanan yang gugur dalam melaksanakan tugas.
"Saya masih memiliki luka di hati. Dia hidup dan mati untuk negara. Negara ini harus mengenangnya seperti cara saya mengenangnya," kata Abid Al Sudani, ayah sang mata-mata.(*)
Baca: Dari Negara Mana Saja ISIS Mendapatkan Pasokan Senjata?

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Kisah Kapten Hirath Al Sudani, Mata-mata Irak di Dalam Organisasi ISIS