Kupi Beungoh
Hentikan Utang, Belajarlah dari Krisis Venezuela
Selain karena beberapa krisis lain, faktor utang ini memainkan peran yang sangat signifikan dalam krisis yang terjadi di Venezuela
Pada 2014 lalu, seperti dilansir Detik, jumlah utang pemerintah Indonesia adalah Rp 2.601,72 triliun.
Artinya dalam rentang waktu empat tahun, utang Indonesia naik 50 persen.
Atau dengan kata lain, naik dua kali lipat.
Memperhatikan apa yang terjadi di Venezuela dimana negera Amerika Latin tersebut kini diguncang krisis, kita sangat berharap agar kedua kandidat Calon Presiden Indonesia yang akan berkontestasi pada 2019 nanti memiliki program untuk membayar utang dan tidak lagi menambahnya, baik pasangan Jokowi – KH. Ma’ruf Amin maupun Prabowo - Sandiaga.
Tentulah sebagai anak bangsa kita patut khawatir akan masa depan bangsa ini di tengah utang negara yang kian mennggunung.
Kita memahami sejumlah alasan yang dikemukakan sebagai pembenaran utang, misalnya untuk pembangunan infrastruktur.
Namun sekali lagi, belajar dari pengalaman Venezuela, bahwa utang membawa negeri tersebut dalam kehancuran.
Kita mengharapkan para ekonom dan pemikir bangsa untuk merumuskan formula-formula baru pembangunan yang tidak mengandalkan utang.
(Makan Siang di Restoran di Venezuela, WNI tak Cukup Uang Bayar 1,7 Miliar Bolivar, Begini Ceritanya)
Apalah artinya pembangunan jika mengandalkan utang.
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad menyadari bahaya utang yang sedang melilit negaranya sebagai warisan dari pemerintahan sebelumnya.
Maka Mahathir Muhammad membatalkan sejumlah proyek infrastruktur dengan pemerintahan China. Dilansir Voa Indonesia pada 21 Agustus lalu, Mahathir Mohamad mengatakan ia telah membatalkan tiga proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar yang didukung oleh China dalam lawatannya ke negara komunis tersebut.
Di Indonesia, sebenarnya Presiden Jokowi di masa kampanye pernah menjanjikan akan menghentikan utang luar negeri.
Sejumlah media mainstrem menulis janji-janji Jokowi – Jusuf Kalla untuk menolak utang luar negeri jika memimpin Indonesia.
Namun kenyataannya, yang terjadi adalah peningkatan utang sebanyak dua kali lipat sejauh ini.
Kendati pun demikian, tentulah belum telat bagi Jokowi – Jusuf Kalla untuk menuntaskan janjinya, yaitu membayar utang luar negeri, mengurangi dan tidak meneruskan lagi.
Sementara dalam posisi Jokowi sebagai bakal Calon Presiden yang berpasangan dengan KH. Ma’ruf Amin, serta bakal Calon Presiden penantang, yaitu Prabowo dan Sandiaga, sebagai anak bangsa kita sangat berharap agar kedua pasangan ini memiliki visi membayar utang luar negeri jika nanti terpilih.
Bukan menambah lagi. Mungkin bisa mengikuti jejak Mahathir Muhammad. Semoga saja.
*) PENULIS adalah Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-zulkhairi_20180928_090906.jpg)