Kupi Beungoh

Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir

Belanda didukung oleh persenjataan dan pasukan yang memadai, sedangkan Aceh pada awal lima tahun pertama mengalami kekurangan pasukan dan senjata

Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir
FOR SERAMBINEWS.COM
Surat yang dibawa oleh Habib Abdurrahman yang ditujukan kepada Sultan Turki 

Kedua, kekuatan yang tidak berimbang. Para sejarawan cenderung untuk menilai bahwa para imprealisme barat sedang naik daun pada abad ke-19 M. Hal ini dapat dilihat dari penguasaan secara geopolitik dan ekonomi, dimana para imprealisme barat sudah menanamkan sistem politik ekonomi liberal baik di Asia maupun Afrika.

Pada abad yang sama di Eropa sudah berjalan revolusi industri termasuk dalam bidang kemiliteran. Sehingga dalam perang ini, Belanda didukung oleh persenjataan dan pasukan yang memadai, sedangkan Aceh pada awal lima tahun pertama mengalami kekurangan pasukan dan senjata. Kalau pun ada senjata yang dimasukkan ke Aceh, itu harus diselundupkan karena penguasan selat Malaka oleh Belanda dan Inggris. Hal ini juga yang menyebabkan Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur sebagai orang asing menghentikan perjuanganya, karena melihat kekuatan yang tidak berimbang.

Ketiga, pengrusakan yang massif oleh Belanda. Pada ekspedisi Belanda yang kedua yang dipimpin oleh Van Swieten berhasil merebut dalam (Istana Sultan) dan menghancurkan Masjid Raya Baiturrahman. Belanda tidak hanya merusak istana dan masjid, mereka juga merusak sebagian besar makam-makam tokoh-tokoh yang terdahulu, membakar rumah dan menganiaya perempuan dan anak-anak. Hal ini juga berdasarkan surat Sultan Muhammad Daud Shah yang menulis pengrusakan yang dilakukan oleh Belanda terhadap makam-makam sultan dan pembesar Aceh lainnya.

Hal ini juga yang menyebabkan Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur menghentikan perlawanannya terhadap Belanda untuk menyelamatkan jiwa, makam-makam dan masjid dari kebrutalan pihak Belanda. Walaupun sebagian berpendapat bahwa perjuangan itu butuh pengorbanan, tetapi perhitungan yang matang juga dibutuhkan dalam politik untuk menjaga aset-aset dan keberlangsungan hidup.

Baca: Begini Kronologi Kontak Senjata Hingga 3 Tentara Gugur di Papua, Penyerang TNI Sekitar 70 Orang

Tiga faktor tersebutlah yang menyebabkan Habib menghentikan perjuangannya, dimana beliau memutuskan untuk berhenti melalui jalan musyarawah, dimana pada saat itu sebagian besar setuju dengan usulan Habib untuk menghentikan perlawanan dengan faktor-faktor di atas.

Dalam catatan Jacobus Diderik Jan van der Hegge Spies (Kapten Kapal Curracao) yang membawa Habib ke Jeddah dari tanggal 24 November 1878 M sampai Januari 1879 M (catatan ini kemudian diterjemahkan oleh Anthony Reid) disebutkan:

"……Sekali Masjid Montasiek jatuh ke tangan Belanda, ia sekali lagi mengadakan pertemuan dengan panglima perang. Waktu itu ia dengan terus terang mengatakan pada mereka, bahwa ia tidak melihat harapan lagi dan bahwa adalah bijaksana untuk menghentikan perlawanan bersama-sama dia. Mengenai dirinya, ia ingin agar dibebaskan dari tugasnya yang dipercayakan padanya, karena akan meninggalkan mereka dan kembali ke Jeddah. Dari dua belas panglima yang hadir dalam pertemuan ini, tujuh orang dari mereka condong untuk menyerahkan diri, sedang lima orang tetap hendak meneruskan perang."

Apabila kita melihat catatan di atas, dapat kita pahami bahwa di sana Habib mengundurkan diri dari tanggung jawab yang diberikan kepadanya dan beliau khawatir akan menimbulkan kerugian yang lebih besar baik secara moril dan materil apabila perlawanan terus dilakukan. Di satu sisi, beliau juga bermusyawarah dengan para pemimpin Aceh lain atas pandangannya itu.

Artinya, beliau melakukan ini tidak secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan pemimpin Aceh lainnya (dimana ada 7 pemimpin yang setuju dengan pandangan beliau). Sedangkan masalah "hadiah" yang diberikan oleh Belanda sebesar 10.000 gulden/ $ 1.000 tersebut perlu dilakukan investigasi tentang kebenaran informasi ini.

Banyak yang diberi tunjangan oleh Belanda namun ada juga yang tidak diberikan. Tetapi, pemberian kepada Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur menjadi isu utama oleh sebagian kalangan di Aceh, walaupun belum ada bukti yang jelas tentang benar tidaknya beliau menerima tunjangan tersebut.

Halaman
123
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved