Breaking News:

Kasus Mursyidah

Pernah Bekerja di Pangkalan Elpiji, Mursyidah Ditugasi Cabut Segel Tabung Gas dan Digaji Rp 400.000

Setelah dua bulan bekerja dia merasa tidak sanggup karena menipu orang miskin, dia keluar

Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Yocerizal
Hand-over dokumen pribadi
Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman alias H Uma berkunjung ke rumah Mursyidah. 

Pernah Bekerja di Pangkalan Elpiji, Mursyidah Ditugasi Cabut Segel Tabung Gas dan Digaji Rp 400.000

Laporan Masrizal I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Mursyidah, janda asal Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, yang dituntut 10 bulan penjara ternyata pernah bekerja di pangkalan elpiji yang melaporkannya.

Mursyidah dituntut atas dugaan perusakan salah satu rumah toko (ruko) di desa itu yang dijadikan sebagai pangkalan elpiji 3 kilogram. Tuntutan tersebut disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lhokseumawe, dalam sidang lanjutan kasus itu di Pengadilan Negeri (PN) setempat, Selasa (29/10/2019).

Sedihnya, tuntutan tersebut harus diterima Mursyidah ketika ia tak lagi bersama suami untuk selama-lamanya. Ya, hari itu bertepatan dengan hari kedelapan Hamdani, suami Mursyidah yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar muat, meninggal dunia karena sakit.

Pengakuan Mursyidah pernah bekerja di pangkalan elipiji tersebut disampaikannya kepada Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh, H Sudirman alias Haji Uma, yang datang mengungjungi rumahnya, Senin (4/11/2019).

Kepada Haji Uma, Mursyidah mengaku pernah bekerja di pangkalan tersebut selama dua bulan pada tahun 2018. Setiap hari ia diperintakan untuk mencabut segel tabung gas.

Pemilik Pangkalan yang Melaporkan Mursyidah Ternyata Pernah Juga Diperiksa Polisi, Ini Kasusnya

Dukung Vonis Bebas Mursyidah, Mahasiswa Serahkan 350 Fotokopi KTP ke PN Lhokseumawe

Haji Uma Katakan Mursyidah Telah Menjadi Pahlawan bagi Masyarakat Miskin

Kasus Perusakan Pangkalan Elpiji, Kisah Sedih Mursyidah dan Tuntutan 10 Bulan Penjara

"Setelah dua bulan bekerja dia merasa tidak sanggup karena menipu orang miskin, dia keluar,” ungkap Haji Uma kepada Serambinews.com, Senin (4/11/2019).

“Ketika dia keluar, dia dua bulan kerja dibayar gaji Rp 400.000, padahal pada awalnya dijanjikan Rp 500.000 per bulan," tambah Haji Uma lagi.

Kasus yang membelit Mursyidah itu kini memang mulai menjadi perhatian banyak pihak. Haji Uma berharap ada kebijakan dari Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe saat memutuskan perkara tersebut.

Hal ini didasari pada beberapa hal, antara lain dari sisi kemanusiaan, dimana Mursyidah selaku warga miskin juga baru kehilangan suaminya, sehingga ada tiga anak yatim bersamanya sekarang ini. Selain itu, dugaan perusakan tersebut terjadi saat perempuan tersebut bersama masyarakat lain sedang berupaya membongkar dugaan kecurangan yang dilakukan pihak pangkalan.

Wakil Ketua DPRK Lhokseumawe, Irwan Yusuf juga menyampaikan harapan yang sama, apalagi ketiga anak Mursyidah yang telah berstatus yatim masih kecil-kecil.

"Bila nanti Mursyidah ditahan, ketiga anak yatim yang masih kecil-kecil tersebut siapa yang pelihara. Makanya kita sangat mengharapkan adanya kebijakan majelis hakim," harap Irwan Yusuf.

Dukungan juga datang dari mahasiswa. Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Hukum (FH) Unimal, pada Senin (4/11/2019) siang menyerahkan 350 lembar fotokopi KTP mahasiswa dan berbagai kalangan masyarakat lainnya ke Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe.

Penyerahan fotokopi KTP ini sebagai bentuk dukungan agar Mursyidah divonis bebas.

Terpisah belasan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara, Senin (4/11/2019) juga menggelar aksi dukungan untuk Mursyidah di dua lokasi kawasan Lhokseumawe.

HMI juga meminta kepada majelis hakim PN Lhokseumawe untuk membebaskan Mursyidah dari segala tuntutan.

Ketua BEM FH Unimal, Muhammad Fadli, mengatakan, pada sidang vonis yang akan berlangsung Selasa (5/11/2019), pihaknya berkumpul di PN untuk melakukan aksi demonstrasi. Ia pun mengajak seluruh mahasiswa agar ikut serta menjemput keadilan bagi Mursyidah.

"Kami berharap kepada mahasiswa Lhokseumawe dan Aceh Utara, mari sama-sama kita ke PN besok," harapnya.(*)

Pembatasan Elpiji 3 Kg Buat Masyarakat Aceh Tambah Miskin

Pengawas Elpiji 3 Kg Sosialisasi di Pidie dan Pijay, Temukan Gas Dijual Rp 35 Ribu

Pangkalan Melanggar Penjualan Elpiji 3 Kg,  Begini Cara Melapor ke Pertamina

Tindak Tegas Siapa pun Penyeleweng Elpiji 3 Kg

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved