Opini
Sengkarut SNMPTN
Seorang operator pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa di Aceh mengisahkan orang tua siswa mendatangi rumahnya sambil menangis
Sosialisasi dan promosi yang dilakukan LTMPT terhadap perubahan tersebut belum memadai karena alasan klasik, keterbatasan waktu dan biaya. Materi sosialisasi bersifat umum sementara persoalan yang dihadapi operator sekolah sangat teknis.
Ketika operator bertanya kepada humas masing-masing universitas, mereka tidak memperoleh jawaban yang tuntas karena staf kehumasan tidak menguasai masalah teknis dan tidak pernah mengisi PDSS. Akhirnya, pertanyaan tersebut dilanjutkan ke LTMPT melalui kanal yang tersedia. Terkadang respon yang diperoleh demikian cepat, tapi tak jarang ada juga yang harus menunggu beberapa hari, sementara operator harus berkejaran dengan tenggat yang ketat.
Kerja sama antara siswa dan sekolah menentukan dalam keberhasilan pemeringkatan untuk bisa mengikuti SNMPTN. Beberapa sekolah berinisiatif melakukan login secara massal dengan beberapa pertimbangan. Selain memberi kemudahan bagi siswa, juga di beberapa daerah kualitas internet sangat buruk, apalagi menjelang injury time, untuk sekadar masuk ke portal LTMPT saja tidak bisa.
Mengingatnya masalahnya bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut teknologi internet, pemerintah daerah dan sekolah ke depan harus mengambil peran lebih besar. Sejak awal, pemerintah daerah harus memastikan semua sekolah memiliki jaringan internet dan fasilitas komputer yang memadai untuk digunakan siswa.
Penurunan kualitas dan kuantitas lulusan juga menjadi tanggung jawab daerah, sekolah tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri dengan fasilitas seadanya.
Penggantian kepala daerah dan diikuti kepala dinas juga jangan sampai mengorbankan agenda pendidikan seperti penerimaah mahasiswa baru. Ada sekolah yang mengganti operator di tengah jalan karena kepala sekolah ingin menempatkan orangnya di sana meski harus belajar dari awal.
Berbagai persoalan yang terjadi dalam proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN ini harus menjadi evaluasi bagi semua-terutama LTMPT dan sekolah. Jadwal pendaftaran yang dimulai 14-27 Februari dan tahapan lainnya, harus dipastikan sampai ke sekolah dan siswa.
Pihak sekolah diharapkan bisa mendampingi siswa dalam setiap proses pendaftaran dengan memanfaatkan fasilitas sekolah. Dalam beberapa kejadian, siswa mendapat kendala ketika melakukan login melalui gadget tetapi lancar ketika menggunakan laptop. Masalnya, tidak semua siswa memiliki fasilitas tersebut.
Metodologi sosialisasi tidak bisa hanya mengandalkan internet dengan menyebarkan informasi melalui situs semata. Kondisi dan fasilitas di daerah sangat beragam sehingga tidak semua sekolah bisa dengan mudah menyerap informasi secara daring.
Berbagai persoalan itu hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak dan bisa diperbaiki dalam SBMPTN ke depan. Jangan sampai kasus serupa terjadi lagi sebab SBMPTN memiliki permasalahan yang lebih kompleks karena peserta jauh lebih banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dosen-unimal-lhokseumawe-ayi-jufridar.jpg)