Duka Keluarga Napi

Air Mata Keluarga Napi Menyambut Idul Fitri di Tengah Wabah Corona

“Saya kira Bapak-bapak ini membawa pulang suami saya,” ujar Ratna, salah seorang istri napi ketika menerima tim ACT Aceh dan perwakilan Kemenkumham.

ACT Aceh/For Serambinews.com
Perwakilan Kemenkumham Aceh, Ustaz Syahrul bersama Kepala Cabang ACT Aceh, Husaini Ismail menyerahkan bantuan untuk Ratna (bukan nama sebenarnya) dan anak-anaknya, keluarga salah seorang napi di Banda Aceh, Rabu (20/5/2020). 

Rabu sore, 20 Mei 2020, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banda Aceh dan perwakilan Kemenkumham Aceh menyalurkan bantuan untuk dua keluarga narapidana (napi) di Kota Banda Aceh.

Humas ACT Aceh, Zulfurqan mengirimkan catatan pertemuan yang digambarkan berbalut duka dan air mata itu untuk Serambinews.com.

SERAMBINEWS.COM - Ratna (nama samaran) sempat mengira kalau mobil ACT Aceh yang parkir di samping rumahnya membawa pulang suaminya dari penjara.

“Saya kira Bapak-bapak ini membawa pulang suami saya,” ujar Ratna menyiratkan kekecewaan.

Ratna bercerita, sudah dua bulan ini dia tidak diperbolehkan menjenguk suaminya demi mencegah penularan virus corona.

Rabu sore itu, sekitar pukul 14.00 WIB, tim ACT Aceh bersama MRI Banda Aceh dan perwakilan Kemenkumham Aceh datang ke rumahnya memberikan bantuan beras, perlengkapan sekolah, dan uang untuk Ratna dan anak-anaknya.

Ratna berusaha tegar ketika mengisahkan mengapa suaminya bisa masuk penjara.

MA Arab Saudi Umumkan Idul Fitri Jumat Malam, Astronomi UEA Pastikan Minggu

Seorang Janda Lansia dan Lumpuh di Aceh Utara Sumringah Setelah Terima BLT

ASN dan Tenaga Kontrak Dilarang Mudik, Atasan akan Video Call Dua Kali Sehari untuk Cek Posisi  

Awalnya, keluarga mereka baik-baik saja. Namun, sang suami tergiur ajakan melakukan tindak kriminal agar bisa melunasi utang rumah.

Tidak berselang lama sang suami ditangkap polisi. Dalam proses hukum di pengadilan, suaminya divonis penjara 8 tahun lebih. Hukuman itu sudah dijalani lebih dua tahun.

Selama suami di penjara, Ratna menjadi orangtua tunggal untuk anak-anaknya. Ia berdagang kecil-kecilan di depan rumah dan membuka usaha laundry.

“Saya sangat bersyukur adanya bantuan ini. Akhirnya saya bisa juga membelikan pakaian baru hari raya untuk anak-anak saya,” ujarnya, lirih.

Fitri (bukan nama sebenarnya), istri salah seorang napi di Banda Aceh juga menerima bantuan dari Kemenkumham Aceh yang disalurkan bersama pihak ACT Aceh-MRI Banda Aceh, Rabu (20/5/2020).
Fitri (bukan nama sebenarnya), istri salah seorang napi di Banda Aceh juga menerima bantuan dari Kemenkumham Aceh yang disalurkan bersama pihak ACT Aceh-MRI Banda Aceh, Rabu (20/5/2020). (ACT Aceh/For Serambinews.com)

Selain ke tempat Ratna, tim ACT Aceh, MRI Banda Aceh, dan perwakilan Kemenkumham Aceh juga menyambangi kediaman Fitri, juga nama samaran.

Sambil memeluk putri kecilnya, Fitri tak mampu membendung air mata ketika menceritakan kondisi keluarganya.

Sang suami tersandung sebuah kasus dan divonis 8 tahun penjara. Sudah lebih dua tahun menjalani hukuman. Kini, Fitri tinggal bersama ibunya.

Penghasilannya setiap minggu hanya Rp 80.000 dari jasa menyeterika pakaian di dua rumah warga. Ia berhemat sebisa mungkin dengan uang tersebut.

Fitri juga pernah mencoba usaha menjual sayur dengan membuka lapak berupa meja seukuran meja sekolah di depan rumah. Namun ia terpaksa berhenti.

“Sayur dagangan saya tidak laku. Modal pun tidak ada,” ujar Fitri, lulusan D3 di salah satu perguruan tinggi di Aceh.

Warga sekitar ikut merasakan beban yang dipikul Fitri. Tak jarang masyarakat juga ikut berbagi untuk meringankan bebannya.

Masyarakat tak pernah menjatuhkan stigma negatif kepadanya meskipun sang suami telah berada di balik jeruji besi.

Kesedihan Fitri semakin membuncah sejak dua bulan ini karena ia juga tidak diperbolehkan menjenguk suami di penjara. Sementara putrinya terus meminta agar bisa bertemu ayahnya.

Kaukus Peduli Aceh Minta Pemerintah Aceh Tarik Larangan Shalat Ied di Masjid dan Lapangan

Kepala Cabang ACT Aceh, Husaini Ismail berharap agar bantuan yang diberikan Kemenkumham Aceh melalui ACT Aceh dapat bermanfaat.

“Bu, anak-anak ini perlu dijaga agar tidak tercemar dengan lingkungan negatif,” begitu pesan Husaini, baik kepada Ratna maupun Fitri.

Husaini menuturkan, kesilapan orangtua tidak boleh diturunkan kepada anak-anak. Sudah seyogianya kita membantu anak-anak agar mereka menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.

“Ayo kita peduli kepada mereka. Kita rangkul agar mereka merasa memiliki bahwa ternyata orang di sekitar masih peduli,” demikian Ketua ACT Aceh. (Nasir Nurdin/Serambinews.com)

Penulis: Nasir Nurdin
Editor: Nasir Nurdin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved