Kamis, 4 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Cerita di Balik Masyhurnya Kupiah Meukeutop

Kupiah merupakan sejenis penutup kepala yang berasal dari Aceh. Tanpa kita jelaskan panjang lebar, tentu semuanya paham makna dasar kupiah

Tayang:
Editor: bakri
IST
IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari Sigli 

Kita bisa kembali berkaca pada sejarah batik, di mana sekarang terdapat jenis batik tulis, cap, dan printing, lalu apakah ada jenis batik yang tidak laku? Atau karena batik tulis diproduksi lama dan dijual dengan harga yang relatif mahal sehingga konsumen semua beralih ke batik printing? Tentu tidak, ketiga jenis batik itu sangat laku di pasaran dan semakin jaya karena semua ada segmentasi pasarnya.

Segmentasi pasar atau pemetaan pasar, segmentasi pasar bagi batik printing atau mesin adalah mereka yang lebih simpel, kebanyakan mereka adalah kelas menengah dan menengah ke bawah, bagi segmen pasar ini, harga adalah segalanya. Segmentasi pasar bagi batik tulis adalah para pecinta seni yang menghargai keindahan dan menjaga warisan leluhur, sehingga walaupun harga produknya tinggi tapi bagi mereka nominal bukanlah masalah.

Harapan kita

Tulisan yang lahir atas bantuan teman-teman, ini ibarat suara hati dari masyarakat yang ikut prihatin melihat perekonomian perajin yang semakin merosot, dengan lahirnya kupiah buatan mesin membuat kupiah meuketop buatan tangan ini kalah saing, sbb dari segi harga kupiah buatan mesin jauh lebih murah, jika kupiah meukeutop buatan tangan dibanderol dengan harga Rp 300.000 maka kupiah cetak itu bisa setengah harga.

Tidak perlu menjelekkan kupiah made in mesin, karena jika kupiah itu dibuat di Aceh tentu perputaran ekonomi tetap terjadi di daerah. Akan tetapa jika kupiah itu dibuat di luar aceh tentu sangat disayangkan. Sambil menunggu kinerja pemerintah yang sedang berusaha untuk mendukung pengrajin, kita sebagai masyarakat harus berlajar ilmu maketing elegan, mempromosikan tanpa menjatuhkan.

Merek ternama seperti Nike saja banyak yang kw, tapi dibiarkan, karena terkadang dengan lahirnya versi kw mereka tidak perlu bekerja keras lagi untuk menaikkan branding Nike. Hanya kita perlu mengedukasi pasar bahwa ada yang asli, harganya tinggi tapi sesuai dengan kualitasnya, tapi kalaupun ada yang kw tapi kualitasnya seperti asli, orang terkadang bukan membeli barangnya, mungkin membeli gengsi.

Ibarat kata makan masakan ibu jauh lebih nikmat, maka membeli produksi asli juga jauh lebih hangat, soalnya dibuat oleh ibu-ibu dengan tangan yang penuh kasih sayang.

Selain itu, ada harapan besar yang diharapkan dari pemerintah, agar pemimpin kita sudi kiranya memperhatikan perajin secara serius dan ikut proaktif mengampanyekan produk lokal karya pengrajin, karena tanpa usaha pengrajin menjaga kupiah meukeutop, mungkin hari ini kita hanya bisa melihat kupiah itu di gambar.

Mimpi kita semua semoga kupiah meukeutop akan ada hak paten atau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sehingga menjadi salah satu warisan budaya Pidie.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved