Minggu, 19 April 2026

Kupi Beungoh

Belajar dari Telur Asin, Semua Tergantung Selera

Ilmu ini sangat sederhana, tapi jarang ada yang bisa menyampaikan dengan contoh sederhana yang sangat mudah dicerna.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Jafar Insya Reubee, anggota komunitas Aceh di Malaysia. 

Oleh Jafar Insya Reubee

PAGI ini, Senin (11/1/2021), saya dapat satu ilmu bermanfaat dalam sebuah perbincangan di grup WhatsApp.

Ilmu ini sangat sederhana, tapi jarang ada yang bisa menyampaikan dengan contoh sederhana yang sangat mudah dicerna.

Yaitu tentang bagaimana dan kenapa manusia harus menghargai perbedaan pendapat.

Kawan dalam grup WhatsApp ini berbagai ceritanya begini;

Tiga hari lalu, atau pada Sabtu (9/1/2021), dia bersama keluarga menghadiri kenduri maulid Nabi Muhammad SAW, di rumah saudaranya di kawasan Kajhu Aceh Besar.

Lazimnya, kenduri adalah ajang silaturahmi, menjadi momen penting bertemunya para anggota keluarga dan sanak saudara yang akhir-akhir ini semakin jarang berjumpa.

Nah, kisah bermula ketika kawan saya ini duduk bersama abang dan sepupunya di meja yang penuh dengan bermacam jenis hidangan.

Boh itek masen atau telur asin dalam bahasa Indonesia, adalah salah satu menu wajib pada setiap kenduri maulid Nabi Muhammad SAW, di Aceh.

Karena sudah lazim, maka tak banyak yang bisa diceritakan tentang keberadaan telur asin pada setiap hidangan kenduri maulid.

Kecuali pertanyaan tentang terjemahan telur asin itu.

Dalam bahasa Aceh disebut boh itek masen, kenapa dalam bahasa Indonesia disebut telor asin? Bukannya telor bebek asin.

Ini memang agak susah dijawab, karena jika ditulis telor bebek asin, seolah olah yang asin itu bebeknya.

Kalau ditulis telor asin bebek, juga janggal.

Mungkin karena tidak ada telor ayam yang diasinkan, maka telor bebek yang diasinkan cukup disebut telor asin saja. Wallahuaklam.

Baca juga: VIDEO Maulid Nabi di Beungga Tangse Pidie, Semua Pengguna Kendaraan Distop untuk Cicipi Kenduri

Baca juga: Peringati Maulid, PT Trans Continent Salurkan Lembu dan Beras untuk Warga Beurandeh

Selera Berbeda Dua Sepupu

Tapi bukan soal istilah itu yang ingin kita bahas.

Kembali ke inti cerita, kita akan bahas tentang ilmu bijaklahsana yang teman saya peroleh dari kisah keberadaan telor asin ini, khusus pada acara maulid di tempat saudaranya, di Kajhu, Aceh Besar, Sabtu (9/1/2021) lalu.

Si kawan, dalam grup WhatsApp dan kemudian saya minta izin kutip, menulis tentang selera berbeda dua sepupunya yang hadir pada acara maulid itu.

“Saya duduk di tengah, abang saya di sebelah kiri, dan abang sepupu saya di sebelah kanan,” kawan itu membuka ceritanya.

Singkat cerita, kawan saya ini melihat sekilas abangnya yang duduk di sebelah kiri, hanya makan telor kuningnya saja dan membiarkan telor putih. 

Tidak ada sesuatu yang aneh, karena memang banyak orang yang suka makan telor kuning dan membiarkan telor putih.

Di Aceh, bagian ini sering disebut dengan istilah "pajoh boh manok mirah", memang lazim banyak yang suka.

"Telor putihnya asin banget, bisa naik darah," begitu kata abangnya ketika ditanya kenapa tidak makan telor putih.

Tapi betapa heran bila dia tengok abang sepupunya di sebelah kanan.

Beliau hanya makan telor putihnya saja, membiarkan telor kuning tanpa sedikit pun menyentuhnya.

Bagi kawan saya, ini sungguh sesuatu yang sangat tidak lazim.

"Kenapa hanya makan putih tok?" kawan saya bertanya kepada abang sepupunya.

Beliau jawab "telor kuningnya tak suka, karena belepotan di mulut" jawabnya enteng.

Baca juga: Cocok untuk Menu Makan Siang, Coba Gurihnya Ayam Pramugari, Kuliner Khas Aceh yang Menggoda Selera

Dari Selera Makan hingga Pilihan Politik

Begitulah kisahnya, hingga kemudian mereka terlibat dalam diskusi menarik.

Mulai soal selera makan, senang tidak senang, dan menghargai perbedaan pendapat.

Dari diskusi santai itu, kawan saya menarik kesimpulan, inilah selera dunia yang tidak bisa dipaksakan.

Baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain.

Enak menurut kita, belum tentu enak menurut orang lain.

Kemudian, suka tidak suka sangat tergantung dengan manfaatnya untuk kita.

Kesimpulannya, tidak ada satu pun yang bersifat duniawi harus disenangi oleh semua orang.

Bagi yang tinggal di Amerika dengan gaji selangit, jangan anggap bahwa semua orang di Aceh akan senang tinggal di Amerika dengan gaji besar.

Pasti ada selera yang berbeda.

Begitu juga dalam soal pilihan politik, banyak orang tak suka dengan sosok Jokowi dengan bermacam alasan.

Tapi, bagi sebagian orang lain, termasuk sebagian orang Aceh, Jokowi adalah presiden pertama di Indonesia yang menghadirkan jalan tol di Aceh.

Ada yang bilang, jalan tol itu belum sebanding dengan hasil kekayaan alam yang dikeruk dari Aceh.

Tapi ada juga yang berpendapat, sejumlah presiden Indonesia sebelumnya tidak membangun jalan tol di Aceh, juga tidak ada pembangunan nyata di bidang lainnya, apakah itu sebanding dengan hasil alam yang dikeruk di Aceh?

Kemudian ada yang bilang, jalan tol di Aceh itu dibangun dengan utang luar negeri, yang menjadi beban anak cucu kita nanti.

Tetap ada pendapat berbeda yang bertanya, jika jalan tol di Aceh itu tidak dibangun, apakah ada jaminan tidak ada utang luar negeri?

Jangan-jangan, malah lebih buruk lagi, Aceh tak dapat jalan tol tapi tetap mendapat beban bayar utang luar negeri. Nah lho.

Kawan saya tadi juga berbagi cerita, ada orang yang awalnya sangat mengangungkan seseorang, tapi kemudian berbalik menyerangnya.

Selidik punya selidik, ternyata ada keinginan yang tidak tercapai.

Atau program yang dia susun berantakan hanya karena orang yang semulai diagungkannya melakukan perombakan pola kerja.

Sekali lagi, kawan saya ini berpesan, semua yang bersifat duniawi adalah fana.

“Baik tidak baik, enak tidak enak, sangat tergantung selera. Jangan memaksa selera atau pendapat kita kepada orang lain. Apalagi dengan cara meunyet nyet alias nyinyir di media sosial,” tulis si kawan.

Begitulah kisah kawan saya yang belajar dari boh itek masen alias telor asin. Wallahuaklam bisshawab.

*) PENULIS, hamba Allah yang mencari nafkah di Malaysia.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Empat Hari, Warga Aceh di Malaysia Kumpulkan 60.000 Ringgit, Ini Daftar Kebutuhan Korban Banjir

Baca juga: VIDEO Raja Malaysia Naik Motor Bebek Sisir Kawasan Banjir, Temui Warga dan Bagi-Bagi Uang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved