Kamis, 23 April 2026

Kupi Beungoh

Pendidikan Aceh di Zona Merah, Pejabat Masih “Lambong-lambong Kupiah”?

Capaian “rapor merah” massal siswa-siswi di Aceh ini tidak serta merta terjadi dengan sendirinya. Perolehan anak-anak ini sejalan dengan kualitas guru

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Hasan Basri M. Nur, Anggota Madrasah Development Centre (MDC). 

Untuk menguatkan kesimpulan di atas, berikut saya munculkan data lanjutan dari paparan Sofyan A Gani.

“Hasil UKG (Uji Kompetensi Guru) SMA di Aceh secara nasional sangat rendah. Unsur pedagogik rata-rata mempunyai nilai 45,27, dan unsur profesional 43,21. UKG Aceh berada pada rangking 5 dari bawah,” ujar Sofyan sambil menunduk dan mengurut-urut kepala.

Sofyan membuka data lanjutan tentang kompetensi guru honorer yang ternyata lebih parah lagi kondisinya.

Pada tahun 2017 pernah dilakukan tes UKG untuk guru honorer di bawah Dinas Pendidikan Aceh. Dari 7.963 guru honorer yang ikut tes, hanya 1.380 orang (17 persen) yang memenuhi standar. Mereka yang 17 persen ini lulus dengan nilai antara 60 sampai 100.

Selebihnya yaitu 6.583 guru (83 persen) memperoleh nilai antara 20 sampai 59, dan mereka tidak memenuhi syarat untuk menjadi guru.

Dapat dibayangkan bagaimana hasil didikan dari seorang guru yang tidak memenuhi standar minimal. Maka, wajarlah jika alumni SMA/SMK/MA dari Aceh sulit bersaing secara nasional dalam berbagai kompetensi, termasuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Anak Luar “Kuasai” USK

Untuk memperkuat bahwa kualitas pendidikan Aceh betul-betul berada di “zona merah” yang sudah kronis, Sofyan A Gani lalu menyajikan data persaingan masuk 10 prodi favorit di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), yaitu Farmasi, Pendidikan Dokter, Ilmu Hukum, Manajemen, Informatika, Pendidikan Dokter Gigi, Ilmu Keperawatan, Teknik Sipil, Pendidikan Dokter Hewan, dan Ekonomi Pembangunan.

Peminat pada 10 prodi itu mencapai 7.249 orang, sementara kapasitasnya adalah 445 kursi.

Peminat asal Aceh yang mendaftar sebanyak 5.134 orang (70,82 persen).

Sementara peminat dari luar Aceh adalah 2.115 orang (29,18 persen).

Peserta asal Aceh yang diterima adalah 221 (49,66 persen), dan peserta asal luar Aceh sebanyak 224 (50,34 persen).

Melihat data di atas, ada dua sisi yang patut dikritisi.

Pertama, prodi favorit di Unsyiah alias USK yang di depan mata orang Aceh sudah mulai dikuasai (lebih 50 persen) oleh anak-anak luar Aceh.

Hal ini mungkin dilatarbelakangi mutu lembaga pendidikan (akreditasi) Unsyiah yang semakin membaik secara nasional.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved