Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Menemukan Kembali Aceh di Amerika Serikat (II)

Namun justeru karena goncangan itu pula ia segera menemukan dirinya justeru dalam pelukan dan dekapan tanah indatunya, Aceh.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. 

Ia telah terkepung dengan dunia akademiknya sebagai pengajar di ITB dan bahkan ia semakin terhela dengan jaringan seni rupa internasional yang sudah menjadi bagian penting kehidupan kesehariannya.

Lagi pula, Pirous sudah meninggalkan Aceh pada umur yang sangat muda, 18 tahun, tinggal di Medan, untuk kemudian menetap di Bandung, dan memilih seni lukis dan mengajar seni lukis di ITB sebagai jalan hidupnya.

Akhirnya Pirous menemukan Aceh, justeru di tengah-tengah sebuah proses evolusi penyerapan dan pengkayaan seni rupa dengan kerangka mindset barat sekular.

Orang Aceh mungkin akan mengatakan itu adalah “hidayah” Allah untuk hambanya, dan hidayah itu menggunakan kosokata Aceh didapatkan ketika ia sedang belajar di “naggroe kaphe”.

Sungguh sebuah perjalanan musafir yang kembali ke tanah asalnya dalam dekapan religi.

Awalnya hanya tertumpu kepada memori, kemudian menjelma menjadi sebuah imajinasi virtual yang berkelanjutan, untuk kemudian menyatu menjadi identitas. Inilah awal dari identitas baru Pirous.

Proses penemuan diri dam proklamasi identitas Pirous di New York dalah titik awal pertumbuhan dan kebangkitan dirinya yang mulai fokus dalam seni lukis kaligrafi.

Dan itu adalah tonggak penting bagi pertumbuhan kaligrafi Indonesia.

Ia telah menemukan, walaupun tidak sangat baru untuk ukuran seni lukis Islam internasional, sebuah ranah eksperesi iidentitas ummat Islam Indonesia, yang titik awalnya dimulai dari Aceh.

Ia telah berjanji kepada dirinya, bahwa proses penemuan Aceh di New York untuk jalan hidupnya barulah sebuah ikrar awal, dan itu babak pendahuluan dari sebuah kerja keras yang baru.

Baca juga: VIDEO Dihiasi dengan Kaligrafi, Batu Nisan Putroe Balee Pidie Disebut Dijadikan Batu Asah

Baca juga: VIDEO Berhias Kaligrafi dan Aneka Seni Aceh Ini Dia Guntomara

Mengumpulkan Harta Karun di Aceh

Segera setelah ia mendarat di Indonesia, pulang ke Bandung, ia segera bergerak pulang ke Aceh.

Ada harta karun yang bertebaran ataupun telah tertimbun ratusan tahun di seluruh Aceh, dan itu adalah kekayaan seni yang mahal yang mesti dikumpulkan dalam bentuk baru.

Pirous ingin menjadikan seni kaligrafi tidak hanya sebagai penegasan identitas dirinya, bahkan juga sebagai identitas ummat Islam Indonesia dan bahkan identitas Indonesia.

Ia ingin menggali akarnya, dan itu adalah Aceh.

Pirous melakukan ziarah estitika Islam ke tanah kelahirannya pada tahun 1971, sekaligus ingin menggali akar dari kaligrafi Aceh.

Ia mengunjungi masjid masjid tua, mendatangi berbagai kuburan yang bernisan made in atau meungkin replika India atau mungkin juga Persia.

Ia bahkan  mengunjungi berbagai situs bersejarah Aceh abad ke 16 dan 17.

Menurut sebuah cerita ia bahkan menghabiskan banyak waktu di Pesantren Tanoh Abee, Seulimeum yang terkenal sebagai salah satu gudang berbagai transkrip dan manuskrip, termasuk berbagai estetika  klasik Islam di Aceh.

Tak terhitung coretan yang digoreskan pada halaman yang cukup banyak tentang deskripsi objek yang didapatkan.

Cukup banyak foto yang diabadikan yang pada awalnya hanya sebuah perjalanan napak tilas, namun kemudian menjadi mata air inspirasi kaligrafi Pirous yang tak pernah kering.

Baca juga: Mengenal Said Akram, Maestro Kaligrafi Kontemporer Asal Aceh yang Karyanya Mendunia

Pameran Pertama di Indonesia

Pada tahun 1972 Pirous membuat pameran tunggal kaligrafi di lobby Chase Manhattan Bank di Jakarta.

Pameran kaligrafi ini tidak hanya pertama untuk Pirous, akan tetapi juga menjadi pertama untuk Indonesia.

Pirous telah memulai sebuah babak baru estetika Islam Nusantara dengan mengambil titik mula, Aceh.

Ia telah mempersembahkan kepada ummat Islam Indonesia sebuah kontribusi seni dalam bentuk keindahan ekpresi keindahan kalam-kalam Allah Azza Wajalla.

Kaligrafi Indonesia kemudian terus berkembang.

Penemuan identitas diri Pirous, kemudian membuat banyak orang-orang terpelajar, kaya, dan berkuasa juga mempunyai sarana untuk menyatakan identitas dirinya melalui lukisan kaligrafi.

Cobalah berkunjung ke rumah atau kantor orang terpelajar, orang kaya, atau penguasa, dan lihatlah ke dinding.

Hampir dapat dipastikan akan ada satu atau dua lukisan kaligrafi yang bertengger, mungkin saja goresan Pirous atau perupa kaligrafi lainnya.

Lukisan itu bagi pemiliknya adalah penegasan diri kepada orang lain tentang cita rasa dan kebanggaan estetika Islami di tengah hiruk pikuk uang, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan berbagai temali lain yang berurusan dengan kehidupan.

Pirous telah membuka jalan penuntun kepada mereka yang mungkin larut, atau takut larut dan terjebak dengan modernitas, tentang menjadi Islam dan bangga dengan keislaman.

Kaligrafi islami yang dimulai oleh Pirous kini telah menjadi bagian penting dari seni rupa dan bahkan budaya Nusantara.

Suatu hari kelak ketika kaligrafi terus menerus berkembang dan terus membesar dan menjadi kekayaan bangsa, Pirous akan dikenang sebagai pemula dan pendiri.

Mungkin catatan sejarah tentang Pirous akan  beranalogi dengan  sejarah lingua franca Melayu Hamzah Fansuri.

Bukankah Hamzah yang merobah bahasa melayu dari bahasa tutur menjadi bahsa tulisan.

Bukankah kemudian Pirous yang memulai kaligrafi Nusantara?

Memang Pirous dan Hamzah Fansuri mempunyai kesamaan.

Keduanya  berkaitan dengan tanah Fansur, Barus di Pantai Barat Sumatera.

Ayah Pirous adalah Pirous Noor Muhammad warga Barus berdarah Gujarat yang pindah ke Meulaboh pada tahun duapuluhan dan kawin dengan gadis Meulaboh Hamidah.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA ADA DI SINI

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved