Opini
‘Mop-Mop’, Seni Biola Aceh yang Nyaris Punah
Piasan (hiburan) era tahun ‘70-an bagi rakyat Aceh, selain seudati, sandiwara (tonil), dan geudeu-geude adalah mop-mop
Grup-grup seni ini pindah dari gampong ke gampong, kota ke kota seluruh kabupaten di Aceh. Pagelaran seni mop-mop ini dimulai saat pukul 9 malam, saat anak-anak sekolah sudah tidur. Juga saat anak-anak pengajian sudah pulang ke rumah.
Untuk pemain Mop-mop disediakan jambo, panggung yang beratap, supaya seniman tidak basah dan tetap bisa main saat hujan. Walaupun penonton kehujanan, artis tetap tak boleh basah dan show must go on.
Seni drama yang diiringi musik biola ini beranggotakan tiga orang. Satu berperan sebagai Ayah Tuan (mertua) yang bermain biola, menantu/linto baro, dan dara baro.
Mop-Mop memadukan dansa, seudati, dan syair pantun tutur bernada ab-ab. Kebanyakan bertemakan rumah tangga.
Selain konflik, yang menyebabkan mop-Mop hampir hilang adalah ditemukannya televisi, walaupun masih hitam putih, saat itu pemerintah melalui Departemen Penerangan membagikan TV untuk gampong-gampong dan orang kaya membeli parabola.
Sejak saat itulah masyarakat Aceh memperlakukan televisi seperti piasan lain, yakni menontonnya sampai pukul 3 dini hari.
Acara revitalisasi di Sekolah Sukma Bangsa ini dimaksudkan untuk melahirkan syeikh-syeikh baru pemain mop-mop. Sekarang ini di Pidie tinggal satu grup lagi dan usia pemainnya rata-rata sudah lebih 70 tahun.
Dalam hal ini Balai Bahasa Provinsi Aceh, melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengambil inisiatif cepat untuk menyelamatkan mop-mop yang diduga berasal dari Pidie dan berkembang di Aceh Utara.
Balai Bahasa Aceh membentuk dua grup dan melatih grup ini untuk bisa memerankan kembali pementasan drama ini. Acara ini berlangsung dua hari, diawali dengan pengenalan dan wawasan tentang pergelaran seni di Aceh, peserta aktif bertanya dari mana asalnya dan begaimana perkembagannya.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Balai Bahasa Aceh, termasuk meneliti ke kabupaten dan menanyakan apa ada grup mop-mop yang masih ada dan memfasilitasi Teuku Zulfajri menulis buku tentang seni pertunjukan drama ini.
Upaya riil adalah membentuk grup pengganti, supaya seni ini tetap lestari. Semoga di masa mendatang banyak lagi seni Aceh yang direvitalisasi, baik oleh pemerintah maupun komunitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/riazul-iqbal-marzuki_20171123_115046.jpg)