Kupi Beungoh
Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Pemula dan Pendiri Kaligrafi Kontemporer Nasional (VII)
Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan tidak gampang didapat.
Ahmad Humam Hamid*)
KATA Begawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai tiga arti, pertapa, orang mulia, dan seseorang sebagai peletak dasar dalam bidang tertentu.
Tidak heran kalau kemudian almarhum Professor Sumitro Joyohadikusumo digelar sebagai begawan ekonomi Indonesia.
Karena ia arsitek ulung ekonomi pemerintah Orde Baru yang memberikan peta jalan Indonesia keluar dari krisis ekonomi yang amat parah pada masa Orde Lama.
Sumitro juga dikenal sebagai peletak dasar ekonomi Orde Baru yang kemudian diteruskan oleh murid-muridnya Wijoyo, Emil Salim, Ali Wardhana, dan lain-lain.
Dengan melihat kepada kepada jagat senirupa Indonesia, terutama sekali yang berkaitan dengan kaligrafi, layakkah AD Pirous mendapat status sebagai begawan budaya Nusantara?
Memang harus diakui, sekalipun seni menulis indah-khat, ayat ayat Alquran di Indonesia telah berjalan relatif lama, namun banyak pihak megakui adalah AD Pirous yang menjadi pionir kaligrafi kontemporer Indonesia.
Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan tidak gampang didapat dari majalah bergengsi itu.
Gelar itu sebenarnya tidak lain dari sebuah kesimpulan tentang kepeloporan dan keberlanjutan kiprah Pirous dala seni rupa kaligrafi nasional.
Kita tahu, apapun yang terjadi dengan pemberitaan Tempo, terutama yang menyangkut dengan isu-isu budaya, tak akan pernah terlepas dari doktrin dari budayawan, sastrawan, dan wartawan mumpuni, Gunawan Mohammad.
Cukup banyak pengakuan dan kehormatan yang diberikan oleh berbagai pihak, seniman, kurator, pengamat seni rupa, dan media yang menempatkan Pirous tidak hanya sebagai seniman senirupa biasa, akan tetapi ia juga sebagai peletak dasar kaligrafi kotemporer.
Bahkan tidak kurang banyak menyebutkan Pirous adalah “pendobrak” untuk tidak menyatakan “pemberontak” terhadap kaligrafi murni yang lebih banyak bergumul hanya dengan seni khat klasik Naskhi, Sulus, Diwani, Farisi, Kufi, dan Riq’ah (Sirajudin 2000).
Meskipun tidak menerangkan, apa yang dikerjakan oleh Pirous dengan kaligrafinya adalah keluar dari aliran khat klasik yang membuat kaligrafi selesai pada huruf dan kata, dan mungkin juga ayat.
Apa yang dikerjakan oleh Pirous adalah memberi nuansa pada kaligrafi yang tidak selesai hanya dengan huruf.
Pirous mungkin harus berterima kasih kepada Barat, karena apa yang didapat ketika bersekolah di Rochester, New York, ia mendalami seni rupa moderen yang kemudian memberikannya inspirasi terhadap sesuatu yang indah di tanah airnya.
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Menyaksikan Seniman Bertasbih dan Berzikir (I)
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Menemukan Kembali Aceh di Amerika Serikat (II)
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Kasab Meulaboh, Ibunda, dan Ikon Etnis (III)
New York Zeigstat
Keindahan itu adalah berbagai tulisan arab klasik tangan di kuburan, tempat-tempat bersejarah, mushaf Alquran, dan berbagai tulisan kitab klasik yang didapatkannya di tanah kelahirannya, Aceh.
Hentakan sukmanya yang dasyhat adalah ketika ia berada di gemerlapan seni rupa moderen di sebuah tempat salah satu “Ibu kota semuanya dunia” New York.
Ia ingin kembali ke asalnya, menjadi dirinya, mengambil akarnya, dan kemudian tenggelam dalam inovasi, imajinasi, dan kreativitas tak bertepi.
Harus diakui, New York telah membuat Pirous ingin membawa yang “kuno” dan “klasik” masuk kembali ke dalam apa yang disebut oleh filosof klasik Jerman, Hegel sebagai zeigstat-semangat zaman.
Dengan segala kekuatan dan kelemahan semangat zaman yang terjadi pascarenaisance -zaman pencerahan, yang dilanjutkan dengan abad industrialisasi, telah menghasilkan modernitas.
Selanjutnya, seorangpun tidak bisa menangkal keniscayaan modernitas yang salah satu karkter intinya adalah “kebebasan berekspresi” telah membuat dunia berubah.
Itulah agaknya yang membuat Pirous ingin mempeloporinya dalam lukisan kaligrafinya yang oleh banyak kalangan disebut dengan “adaptasi” karakter barat.
Adaptasi karakter barat bagi Pirous bukanlah menyerah total kepada apa saja yang bernama Barat, terutama kebebasan berekspresi.
Ia hanya mengambil semangat modernitas, sebagaimana suatu waktu ketika ia pernah menyaksikan karya perupa modern Jepang di New York yang tetap memegang teguh akar tradisi Zen Budha dan perupa Cina yang tetap terjangkar kuat dengan identitas klasik Cina.
Apa yang dilakukan oleh Pirous sesungguhnya adalah sebuah pergumulan identitas seni rupa antara yang lama dengan yang baru, yang zeigstat yang juga dilakukan oleh berbagai bangsa yang tidak bisa meniscayakan gelombang besar modernisasi.
Pirous tahu benar, kalau tidak hati-hati, ia akan segera akan terperangkap dan masuk ke dalam gulungan arus westernisasi.
Pada skala besar global, apa yang dilakukan oleh Pirous adalah apa yang telah dikerjakan oleh bangsa Jepang, Korea Selatan, Cina, dan Singapore untuk menjadi modern, namun tetap mempunyai akar tradisi dan nilai-nilai yang kokoh.
Dalam potret peradaban yang lebih besar apa yang dilakukan oleh Pirous ketika mempelopori kebebasan berekspresi dalam kaligrafi nasional tidak lebih dari apa yang telah dikerjakan oleh filosof dan pemikir Eropah abad kegelapan yang mencuri Yunani yang hilang dan rumit yang telah dijinakkan dan dikompilasikan oleh dunia dan peradaban Islam.
Bukankah Islam telah mengambil, mengislamkan, dan memajukan ilmu pengetahuan Yunani yang naris hilang dari muka bumi selama lebih dari 700 tahun.
Dalam lintasan masa itu bukankah justeru ketika Eropah masih berada dalam zaman kegelapan.
Dalam konteks dunia Islam, apa yang disebut dengan kebebasan bereksperesi yang dianut oleh Pirous sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum gelombang modernitas industrial yang dipelopori barat terjadi.
Berbagai keindahan Masjid Biru Istanbul yang hari ini mewakili salah satu seni arsitektur islami terhebat di dunia, tidak lain dari perpaduan bebagai gaya arsitektur.
Ada elemen klasik kristen Byzantium, yang dipadukan dengan bebagai unsur arsitektur tradisional Islam yang ada Timur Tengah pada saat itu (Gabar 1985).
Uniknya kebebasan berekspresi dalam arsitektur masjid pada masa dinasti Ottoman didorong oleh penguasa seperti Sultan Ahmad.
Apakah Masjid Biru itu kemudian bergaya Kristiani?
Sama sekali tidak, karena masjid yang dirancang arsitek Sedefkar Mehmed Agha, adalah salah satu murid arsitek legendaris Turki Mimar Sinan yang sekelas dengan arsitek dan perupa Michael Angelo di Roma.
Semua orang sepakat, tiga bangunan masjid terkenal Turki -Şehzade , Sülaiman Agung, dan Selim- tidak lain dari inspirasi kataderal Hagia Sophia yang arsitekturnya kemudian “diislamkan” oleh Sinan.
Apa yang dilakukan oleh Sedefkar Mehmed Aga untuk Masjid Biru Istanbul tidak lain dari aliran arsitektur yang diprakarsai oleh Sinan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Silaban, Gerrit Bruins, Ibrahim Hasan & Estetika Baiturrahman (IV)
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Ali Hasymi, Cinta Meulaboh, dan Universitas Teuku Umar (V)
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Keislaman, Keacehan, dan Keindonesiaan (VI)
Kebebasan Ekspresi Kaligrafi
Dalam konteks kaligrafi kottemporer apa yang dilakukan oleh Pirous dengan menggali kaligrafi Aceh pada yang telah ada berabad-abad sebelumnya, ia hanya memastikan kebebasan ekspresi kaligrafi yang ingin ditampilkannya setelah mendapatkan bebagai ketrampilan kanvas di Amerika Serikat, tidak akan terlepas dari akar kaligrafi tradisional yang pernah ada di Aceh.
Ia juga ingin memastikan, bahwa pennggalan tradisonal tulisan indah Kalam Ilahi yang tersebar di Aceh dan seluruh Nusantara dapat berinteraksi baik dengan semangat seni kontemporer, tanpa kehilangan sustansinya, dan bahkan mampu membawa pesan yang lebih dasyhat ketika tersentuh dengan sematan elemen kebaruan.
Dalam konteks strategi kebudayaan, apa yang dikerjakan oleh Pirous dalam memasuki gelombang besar zegstat-semangat zaman adalah sebuah hukum besi pergumulan budaya antara kemampuan untuk bertahan dan kemampuan untuk berubah.
Intinya Pirous ingin menjadikan seni rupa kaligrafi yang ia kembangkaq adalah seni rupa Islam yang mempunyai dua ciri sekaligus; kokoh, namun fleksibel.
Kokoh, karena ia tak lari dari hakekat dasar keindahan penulisan Kalam Ilahi.
Fleksible karena seni rupa Pirous tidak berhenti hanya hanya pada kata, akan tetapi juga membawa berbagai pesan yang sangat sarat kepada yang melihatnya.
Paling kurang ada dua implikasi besar terhadap apa yang telah dimulai Pirous dengan kaligrafi kontemporer terhadap jagat budaya seni rupa nasional.
Pertama, kehadiran kaligrafi kontemporer yang dimulai oleh Pirous untuk pertama kalınya di loby Chase Manhattan Bank pada tahun 1972.
Setelah pameran itu, seni kaligrafi nasional kemudian bergulir, perlahan, untuk kemudian menjadi lebih cepat, dan terus berkembang sampai dengan hari ini.
Keunikan seni kaligrafi Pirous telah membuatnya tidak terikat dengan mazhab apapun.
Seni kaligrafi kontemporer Pirous dijuluki oleh kaligrafer senior Sirajuddin (2002) sebagai mazhab Jalili, yang oleh sebagian pengamat lain disebut dengan gaya Pirousi.
Bahkan keberanian Pirous untuk bebas mazhab telah memancing generasi kedua pelukis kaligrafi Indonesia untuk menemukan dan bahkan sudah menemukan bentuk awal mazhab mereka masing-masing.
Sebagai contoh Sirajuddin menyebutkan perupa kaligrafi kontemporer gaya Syaifuli -Syaful Adnan, Amani (Amang Rahman), Hendrawi (Hendra Buana. Yetmoni (Yetmon Amier), atau Akrami (Said Akram).
Kedua, tidak dapat dipungkiri salah satu produk orde baru dalam konteks Islam dan ummat Islam adalah lahirnya sebuah kelas menengah perkotaan yang kemudian ingin meneguhkan keberadaannya dalam kehidupan kebangsaan yang sehat dalam berbagai bentuk.
ICMInya BJ Habibie dan berbagai rupa kelas menengah Islam yang berciri progresif, ataupun liberal, berupaya mencari dan menggali berbagai identitas Islam Indonesia yang maju, berwawasan, modern, dan kompatibel dengan semangat zaman.
Munculnya berbagai pengajian di hotel-hotel mewah, terbitnya koran Republika, tampilnya seni musik dan lagu kasidah Bimbo, dan lahirnya bank Muamalat dan berbagai produk syariah lainnya, adalah fenomena tahun sembilanpuluhan yang kemudian terus bergulir adalah trade mark kelas menengah Islam yang kosmopolit, moderen, dan adaptif dengan kehidupan negara kebangsaan.
Kehadiran kaligrafi kontemporer yang diprakarsai oleh AD Pirous telah semakin menambah pula isi kolam identitas Islam dalam kolam besar seni dan budaya nasional.
Ummat Islam sebagai komponen demografi mayoritas republik yang telah cukup lama terobrak abrik semenjak masa penjajahan sampai dengan masa pascakemerdekaan, pada tahun sembilanpuluhan telah menemukan titik awal jati diri dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Kemunduran politik Islam identitas, kini telah tergantikan dengan Islam intelektual, Islam ekonomi, dan Islam seni yang mempunyai ciri tersendiri, namun tetap menjadi bagian penting dari seni rupa nasional.
AD Pirous telah membuka jalan kepada umat Islam, terutama seniman muslim untuk masuk ke sebuah ruang besar eksplorasi tak terbatas untuk mencari dan menemukan indentitas Islam yang tetap sesuai dan mengalir dengan semangat zaman.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ad-pirous-dan-humam-hamid-di-bandung.jpg)