Breaking News:

Kupi Beungoh

Cina Itam Pidie di Mata Cina Peunayong

Di Banda Aceh, komunitas Tionghoa ini kebanyakan menetap di Peunayong yang merupakan pusat bisnis utama di kotanya para sultan ini.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Penulis Hasan Basri M Nur bersama Yuswar SE, tokoh Tionghoa di Aceh. 

Oleh: Hasan Basri M. Nur*)

WARGA keturunan Tionghoa (Cina) di mana pun berada di dunia ini dikenal ahli dalam bisnis, walau mereka tidak pernah kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sebagaimana sebagian orang Indonesia.

Hampir semua kota di Indonesia dipastikan terdapat warga Cina yang mewarnai roda ekonomi, tak terkecuali di Aceh.

Di Aceh, barangkali hanya Kota Beureuneun dan Kota Buloh (Garot, Kecamatan Indrajaya) yang tidak ada pebisnis dari keturunan Tionghoa.

Di Banda Aceh, komunitas Tionghoa ini kebanyakan menetap di Peunayong yang merupakan pusat bisnis utama di kotanya para sultan ini.

Di Peunayong, para pebisnis Tionghoa “menguasai” aneka perdagangan, mulai spare part mobil, ganti oli/ban mobil, alat listrik, elektronik, bahan bangunan, percetakan hingga perhotelan.

Entah apa alasannya, Peunayong menjadi menjadi tempat konsentrasi para pendatang dari Cina sejak era Kerajaan Aceh Darussalam, bahkan diriwayatkan sejak masa Sultan Iskandar Muda berkuasa.

Barangkali karena letaknya yang sangat strategis dan terhubung ke Selat Melaka melalui sungai Krueng Aceh memudahkan para pelayar masa lampau untuk menjadikan kawasan Peunayong sebagai tempat persinggahan yang strategis di Aceh.

Yuswar SE, warga keturunan ketiga dari jamee (tamu) dari Negeri Cina, meriwayatkan secara lisan ( radio meugioe) bahwa suatu ketika para saudagar yang berlayar dari Cina masuk ke Aceh melalui Krueng Aceh dan singgah di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Peunayong.

Baca juga: VIDEO Sejarah Peunayong, Chinezen Kamp di Kota Banda Aceh, Begini Pendapat Tokoh Tionghoa

Menurut Yuswar, terdapat kontribusi besar dari pemerintah Kolonial Belanda dalam menjadikan warga keturunan Cina di Aceh dan Indonesia sebagai pebisnis. Dikatakan, Belanda mengondisikan serta meminta warga Cina untuk bergagang, juga memantu mengutip upeti untuk Belanda.

Baca juga: Catat! Pemerintah Kota Banda Aceh Sudah Menetapkan Jadwal Relokasi Pasar Peunayong

Halaman
123
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved