Opini
Rumoh Aceh; Jati Diri Orang Aceh
Aceh merupakan daerah yang kaya khazanah kesenian, baik klasik maupun kontemporer. Semisal, seni sastra, seperti hadih madja, cae, dan hikayat

Pertama, ramah lingkungan.
Simbol ramah lingkungan pada rumoh Aceh dapat dilihat dari:
(a) aspek bahan material yang digunakan, berupa kayu untuk konstruksi utama bangunan, bertujuan agar rumah dapat bertahan lama.
Papan dan bambu, digunakan untuk dinding rumah.
Tali ijuk, sebagai tali pengikat, baik untuk mengikat bambu pada konstruksi dinding dan lantai, juga untuk mengikat daun rumbia sebagai atap rumah.
Daun rumbia, sebagai atap rumah, dan batu kali, sebagai alas pondasi.
Dan, (b) tipologi konstruksi, berbentuk panggung dengan ketinggian 2,5 sampai 3 meter, sebagai wujud adaptasi dengan lingkungan.
Maka, jati diri orang Aceh adalah menjaga keseimbangan alam, bukan perusak alam.
Hidup mereka bersahabat dengan alam yang diwujudkan dengan reboisasi, yakni tetap menjaga dan mengembalikan apa yang sudah diambil dari lingkungan, karena adanya kebutuhan pembangunan infrastruktur fisik dalam kehidupan.
Juga, penggunaan bahan material dari alam memberikan sugesti agar tidak melakukan pencemaran, kerangka rumah bisa dipindahkan dan bongkar pasang (knock down) tanpa bekas, sehingga lahan dapat digunakan untuk kepentingan lainnya.
Maka, alam merupakan wahana yang harus terjaga dari berbagai perilaku merusak, semisal penebangan liar (illegal logging) dan pengrusakan tanah.
Alam akan memberikan efek positif apabila manusia memanfaatkan alam secara positif (Qs. Ar-Rum: 41).
Kedua, mitigasi bencana.
Rumoh Aceh merupakan struktur rumah yang terbuat dari kayu atau bambu yang sulit mengalami kerusakan, jika dihantam oleh gucangan gempa, karena bahan material yang digunakan bersifat lentur (elastic).
Pondasi bangunan, ikatan tiang (tali ijuk dan bajoe) dan pasak pada kayu yang diatur sedemikian rupa saling memperkuat bagian-bagian yang ada pada konstruksi bangunan rumoh Aceh, sehingga membuat bangunan semakin lentur terhadap guncangan gempa.