Opini
Rumoh Aceh; Jati Diri Orang Aceh
Aceh merupakan daerah yang kaya khazanah kesenian, baik klasik maupun kontemporer. Semisal, seni sastra, seperti hadih madja, cae, dan hikayat

Bahkan, penggunaan papan dan bambu sebagai lantai rumah juga dimaksudkan untuk memudahkan dalam memandikan jenazah bila ada anggota keluarga meninggal dunia.
Spiritualitas menunjukkan karakter orang Aceh yang mayoritas beragama Islam.
Bahkan, nilai-nilai spiritualitas tergambar dalam seluruh aspek kehidupan orang Aceh.
Sebagaimana terungkap dalam peribahasa Aceh (hadih madja): Hukom ngon adat lage zat ngon sifeut, tawiet han meulipat tatarek han meujeu euet.
Adat deungon qanun lage kalam deungon daweut, na ditron ujong rakam tapandang di dalam kheut.
Qanun deungon reusam lage parang deungon sadeub, dua-dua mata tajam han saban di dalam but.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritualitas melekat dalam setiap jiwa orang Aceh.
Kelima, guyub.
Simbol guyup pada rumoh Aceh terdapat pada: (a) yup moh, digunakan sebagai ruang publik (public space), dimana menjadi tempat berinteraksi dan berkumpul tetangga, baik kepentingan untuk mengayam (manyum tika, manyum bleut), menumbuk padi (top pade) agar menjadi beras, menumbuk beras (top tupong) untuk membuat kue.
Dan, (b) serambi/ruang rumah (seuramo rumoh).
Simbol guyub juga tergambar dari ruang-ruang yang berada dalam rumoh Aceh, yaitu pertama seuramo keue (serambi depan), sebagai tempat menerima para
tamu yang hadir baik dari keluarga jauh maupun tetangga dan masyarakat, biasanya ruang ini tersedia anyaman untuk duduk (tika duk) sebagai tempat duduk para tamu.
Dari sinilah lahir sikap guyub dengan keluarga jauh, tetangga dan masyarakat.
Maka rumoh Aceh memiliki nilai-nilai edukatif yang berbasis kearifan lokal yang mesti dijiwai oleh orang Aceh masa kini. Semoga!