Breaking News:

Kupi Beungoh

Ekonomi Gampong Bakongan: Aceh, ‘Daerah Modal’ Sawit & Kebutuhan Minyak Nabati Global Abad XXI (IV)

Asbabun nuzul kelapa sawit yang ditanam di Bakongan hari ini sesungguhnya punya sejarah panjang.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Para pengusaha Inggris dan Eropa lainnya yang menggunakan kepakaran ilmuwan, akhirnya menemukan dua hal dalam kaitannya dengan kelapa sawit.

Pertama, kebutuhan minyak pelumas revolusi industri yang sangat besar pada masa itu mampu dijawab oleh ilmuwan dengan menggunakan minyak kelapa sawit Afrika.

Kedua, kelapa sawit yang pada awalnya hanya usaha perkebunan rakyat yang relatif kurang berdimensi komersial, oleh pengusaha Eropa diusahakan secara besar-besaran menjadi sebuah usaha agribisnis yang menguntungkan.

Kombinasi kemajuan ilmu pengetahuan tentang budidaya tanaman jenis palma ini dengan keahlian bisnis kaum kapitalis Eropa, pada ujungnya membuat beberapa bagian muka bumi hutan tropis-terutama di Malaysia dan Indonesia- berobah wajahnya dari hamparan, lembah, pergunungan menjadi perkebunan modern.

Baca juga: Kelapa Sawit ‘Penyelamat’ Perekonomian Warga Subulussalam Saat Pandemi, Begini Penjelasan Apkasindo

Baca juga: Harga TBS Kelapa Sawit Masih Stabil

Aceh: Daerah “Modal” Kelapa Sawit Nasional

Menggunakan istilah Aceh sebagai daerah modal kelapa sawit nasional seolah tampak berlebihan, karena terlalu sering daerah ini dikaitkan dengan istilah itu.

Tentang kelapa sawit, memang itulah kenyatan sejarahnya, dan karenanya tidak perlu risih untuk menyebutnya.

Untuk menjadi catatan, banyak kalangan yang tidak tahu bahwa budidaya pertama kelapa sawit di Indonesia dimulai di Aceh pada akhir abad ke 19.

Dengan modal awal 4 biji kelapa sawit dari Afrika yang dibawa pengurus Kebun Raya Bogor dan ditanam di sana, akhirnya kelapa sawit dibawa ke Aceh.

Adalah dua pengusaha Belgia, Adrian Hallet dan K.Schadt yang mengambil lokasi Sungai Liput untuk penanaman pertama seluas 30 hektare yang kemudian ditambah menjadi 1,500 hektare pada tahun 1911.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved