Breaking News:

Kupi Beungoh

MoU Helsinki, Nasibmu Kini…

Surat itu juga saya tembuskan kepada Martti Ahtisaari dan Komite Politik & Keamanan Uni Eropa.

Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Fadhli Espece, Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Penulis: Fadhli Espece

SATU tahun yang lalu, saat saya masih menjabat sebagai Sekjend KMPAN, saya menyurati Crisis Management Initiative (CMI) selaku mediator perdamaian antara GAM dan RI. 

Surat itu terkait dengan keberlanjutan agenda perdamaian di Aceh.

Surat itu juga saya tembuskan kepada Martti Ahtisaari dan Komite Politik & Keamanan Uni Eropa.

Martti Ahtisaari merupakan presiden CMI dan mantan Presiden Finlandia. Ia menjadi tokoh sentral bagi perdamaian Aceh di Helsinki.

Sedangkan Komite Politik & Keamanan Uni Eropa merupakan partner lembaga CMI yang mendapatkan wewenang sebagai penanggungjawab atas penyelesaian sengketa.

Hal ini tercantum di bagian akhir Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki.

Baca juga: 16 Tahun Damai Aceh, Muhammad MTA: Permusuhan Lenyap di Alam Nyata, Tapi Ada dalam Pikiran

Melalui surat itu, saya menjelaskan bahwa MoU Helsinki yang dulu disepakati sebagai solusi penyelesaian konflik di Aceh telah mengalami banyak kecacatan, wanprestasi tepatnya.

Beberapa poin memang sudah dilaksanakan, meski tidak sesuai dengan rentang waktu yang telah dijanjikan.

Ada banyak ketidaksesuaian antara apa yang sudah disepakati dalam butir-butir perjanjian dengan apa yang kemudian ditetapkan dalam undang-undang.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved