Kupi Beungoh
MoU Helsinki, Nasibmu Kini…
Surat itu juga saya tembuskan kepada Martti Ahtisaari dan Komite Politik & Keamanan Uni Eropa.
Soal bendera selalu dipropagandakan sebagai suatu produk hukum yang sah. Tetapi ketika bendera itu dikibarkan oleh masyarakat, dalam sekejap ia akan dicokok oleh aparat.
Baca juga: Eks Panglima GAM Wilayah Linge: 16 Tahun Damai, Aceh Ibarat Batu Pecah Seribu, Hilang Kasih Sayang
Pilkada 2022 tak jadi
Yang terakhir, meskipun agak politis, adalah gagalnya penyelenggaraan pilkada Aceh tahun 2022.
Atas kegagalan ini, Muallem, eks panglima GAM menyatakan sudah menerima dengan keputusan pilkada serentak 2024 oleh Kemendagri.
Itu artinya lobi dari elite-eliet Aceh telah mental dan lemah daya tawar.
Padahal sebelumnya, berbagai kecaman telah diutarakan demi menjaga apa yang dianggap sebagai kekhususan Aceh.
Ke depan, MoU Helsinki seharusnya tidak lagi menjadi haba mangat, jika tidak ingin dikatakan sebagai komoditas politik yang menjerumuskan masyarakat pada mimpi.
Jika mau dihitung, ada berapa poin yang sudah tuntas dan berapa pula poin yang masih mangkrak tidak memiliki titik terang? Ketidakseriusan ini seringkali mengorbankan rakyat.
Rakyat terus dicekoki dengan propaganda demi propaganda. Sudah lah menjadi pihak yang paling menderita saat masa peperangan, di masa damai, rakyat juga masih menjadi korban.
Apa yang masih bisa kita harapkan dari MoU Helsinki adalah keberadaannya sebagai sebuah catatan sejarah.
Sejarah menunjukkan bahwa perjalanan panjang konflik Aceh berakhir dengan perundingan di atas meja bukan dengan letusan moncong senjata.
Semangat ini pula yang perlu dikedepankan dalam agenda resolusi konflik di berbagai daerah lainnya di Indonesia.
Yang patut menjadi catatan bagi pemerintah adalah di mana pun, komitmen terhadap perdamaian, termasuk di Aceh harus sejalan dengan implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati.
Negara modern seharusnya menunjukkan sikap professional dalam sebuah perjanjian. Perlu diingat bahwa janji adalah hutang dan hutang tidak bisa dibayar dengan 'angin syurga'. (*)
*) PENULIS adalah Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fadli-espece-bicara-mou-helsinki.jpg)